BLITAR – Banyak orang bercita-cita jadi dokter, tapi tidak semua tahu betapa panjang dan beratnya proses pendidikan yang harus ditempuh. Dokter Tirta, seorang dokter sekaligus influencer kesehatan, membongkar fakta mengejutkan: untuk menjadi spesialis, perjalanan bisa memakan waktu hingga 11 tahun.
“Kalau mau jadi dokter spesialis, dari kuliah sampai praktik, bisa habis 11 tahun. Itu pun kalau lancar. Kalau ada hambatan, bisa lebih lama lagi,” kata Tirta dalam sebuah podcast.
Perjalanan Panjang Jadi Dokter
Ia menjelaskan, jalur pendidikan dokter di Indonesia terbagi dalam beberapa tahap. Pertama, mahasiswa harus menempuh pendidikan sarjana kedokteran selama 3,5 hingga 4 tahun. Setelah itu, mereka masuk ke tahap profesi atau koas selama 2 tahun.
Tahap berikutnya adalah internship selama 1 tahun, sebelum akhirnya bisa mengurus Surat Tanda Registrasi (STR) untuk praktik. Jika ingin melanjutkan ke spesialisasi, dokter harus kuliah lagi 4–6 tahun sesuai bidang yang diambil.
“Jadi kalau dijumlah, perjalanan dari mahasiswa sampai spesialis bisa 11 tahun. Itu baru satu orang. Makanya tidak mudah mencetak tenaga medis berkualitas,” jelasnya.
Bukan Sekadar Gelar, Tapi Integritas
Tirta menegaskan bahwa panjangnya pendidikan dokter bukan hanya soal gelar, tetapi juga tentang membangun integritas dan kesiapan mental.
“Kalau belajar lama tapi integritasnya nol, ya percuma. Jadi dokter itu profesi yang butuh kepedulian, bukan sekadar pintar akademik,” tegasnya.
Ia mengingatkan, publik sering kali melihat dokter hanya dari sisi materi. Padahal, banyak dokter yang berjuang bertahun-tahun dengan biaya tinggi dan tekanan berat demi bisa melayani pasien.
Tantangan Kuantitas vs Kualitas
Pernyataan Tirta ini muncul di tengah perdebatan soal kebijakan pemerintah memperbanyak jumlah dokter untuk menjawab kebutuhan nasional. Ia menilai, langkah instan tanpa memperhatikan kualitas justru bisa membahayakan.
“Kalau hanya kejar angka, risikonya besar. Karena butuh waktu panjang buat mendidik dokter yang benar-benar siap. Kalau asal banyak, nanti pasien yang jadi korban,” ujarnya.
Menurutnya, inilah salah satu akar konflik antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). IDI menolak langkah percepatan jumlah dokter karena khawatir kualitas lulusan tidak terjaga.
Biaya Pendidikan Tinggi
Selain waktu, biaya pendidikan dokter juga jadi tantangan besar. Dari kuliah sarjana, profesi, hingga spesialis, biayanya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
“Banyak yang enggak tahu kalau kuliah kedokteran itu investasi besar. Belum lagi kalau ambil spesialis, bisa habis miliaran. Makanya wajar kalau banyak dokter akhirnya cari sampingan,” ungkap Tirta.
Pesan untuk Publik
Dengan fakta ini, Tirta berharap masyarakat lebih menghargai profesi dokter. Ia menekankan bahwa pelayanan medis bukan sekadar transaksi, tapi hasil dari perjalanan panjang penuh pengorbanan.
“Pasien sering kali enggak lihat perjuangan di balik jas putih. Jadi, jangan gampang menghakimi dokter kalau ada perbedaan biaya atau waktu tunggu. Semua ada prosesnya,” pesannya.
Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada ini menambahkan, calon dokter muda harus siap mental jika ingin menekuni profesi. “Kalau memang niat, harus sabar. Karena jadi dokter itu maraton panjang, bukan sprint,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.