BLlTAR – Tidak semua orang bisa meraih cita-citanya, meski sudah berjuang keras. Hal itu dialami seorang podcaster yang mengaku gagal menjadi dokter karena buta warna parsial. Kisah haru tersebut terungkap saat ia berbincang dengan Dokter Tirta dalam sebuah podcast.
Dengan nada lirih, sang podcaster bercerita bahwa sejak kecil ia bercita-cita mengenakan jas putih dan menolong banyak orang. Namun, mimpinya pupus setelah hasil tes kesehatan menunjukkan dirinya buta warna parsial.
“Saya pengin banget jadi dokter, tapi gagal karena buta warna. Itu syarat mutlak, jadi saya terpaksa mengubur mimpi,” katanya.
Profesi Dokter Butuh Syarat Khusus
Dokter Tirta menjelaskan bahwa syarat tidak boleh buta warna memang mutlak dalam profesi medis. Pasalnya, banyak tindakan medis membutuhkan ketelitian dalam membedakan warna.
“Kalau dokter bedah atau dokter umum salah lihat warna jaringan atau darah, risikonya fatal. Jadi ini bukan diskriminasi, tapi soal keselamatan pasien,” tegas Tirta.
Ia menambahkan, syarat ketat seperti ini juga berlaku di bidang lain, misalnya pilot atau polisi. Semua profesi yang berhubungan dengan nyawa orang memang memerlukan standar tertentu.
Pesan Inspiratif dari Dokter Tirta
Meski begitu, Tirta tetap memberikan semangat. Menurutnya, gagal di satu jalan bukan berarti tidak bisa berkontribusi di bidang kesehatan atau kemanusiaan.
“Kalau enggak bisa jadi dokter, masih banyak cara membantu orang lain. Bisa lewat edukasi, bisa jadi peneliti, atau bahkan jadi content creator kesehatan,” ujar dokter yang juga influencer ini.
Ia mencontohkan dirinya sendiri. Meski berprofesi sebagai dokter, ia banyak menghabiskan waktu di luar klinik dengan edukasi publik, advokasi kebijakan, hingga bisnis sosial.
“Yang penting esensinya: mau bantu orang. Profesi hanya jalan. Kalau jalannya buntu, masih ada jalan lain,” ucapnya.
Relatable dengan Banyak Orang
Kisah podcaster ini dinilai sangat relatable. Banyak orang yang pernah merasakan cita-citanya kandas karena kondisi fisik, keterbatasan ekonomi, atau faktor eksternal lain.
Cerita tersebut menyentuh sisi human interest, terutama karena disampaikan langsung oleh orang yang mengalaminya. Ditambah respons inspiratif dari Dokter Tirta, pesan ini terasa makin kuat.
“Buta warna mungkin menghalangi jadi dokter, tapi tidak menghalangi memberi manfaat. Dunia ini luas, enggak cuma soal jas putih,” ujar Tirta.
Pelajaran untuk Generasi Muda
Dari percakapan itu, publik bisa belajar bahwa tidak semua mimpi berjalan mulus. Namun, setiap kegagalan bisa membuka jalan baru yang tak kalah bermakna.
Dokter Tirta menekankan pentingnya resiliensi atau daya tahan mental. “Kalau gagal, jangan berhenti. Putar haluan. Dunia butuh banyak profesi, bukan hanya dokter. Semua punya kontribusi,” katanya.
Dengan gaya blak-blakan namun inspiratif, dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu menutup pembicaraan dengan pesan sederhana. “Jas putih bukan satu-satunya simbol kepedulian. Hati yang peduli lebih penting dari sekadar gelar,” tutupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.