BLITAR – Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi perbincangan hangat di berbagai sektor. Dalam sebuah podcast, Dokter Tirta mengungkap bagaimana perbedaan orang kaya dan masyarakat biasa dalam menghadapi ancaman maupun peluang dari teknologi AI.
Menurutnya, kelas sosial berperan penting dalam kesiapan menghadapi era digital. Orang kaya dinilai lebih siap karena punya modal, akses informasi, serta jaringan yang mendukung mereka untuk beradaptasi lebih cepat.
“Yang punya uang bisa beli tools premium, bisa ikut training, bisa bayar mentor. Jadi adaptasinya lebih gampang. Sementara masyarakat biasa masih sibuk mikir bertahan hidup,” ujar Tirta blak-blakan.
AI Bisa Ciptakan Kesenjangan Baru
Dokter Tirta menilai, jika tidak diantisipasi, AI berpotensi memperlebar jurang kesenjangan sosial. Kelompok kaya akan semakin maju karena memanfaatkan teknologi, sedangkan kelompok menengah ke bawah bisa tertinggal.
“Bayangkan orang kaya pakai AI buat bisnis, bikin efisiensi, dapat keuntungan berlipat. Tapi yang enggak punya akses malah kehilangan pekerjaan. Ini ancaman nyata,” katanya.
Ia mencontohkan beberapa profesi yang mulai tergeser, seperti desainer grafis tingkat pemula, penulis konten standar, hingga customer service.
“Kalau skill-nya basic dan mudah digantikan AI, ya waspada. Makanya penting banget tingkatkan skill,” tambahnya.
Tidak Selalu Menakutkan
Meski banyak risiko, Tirta mengingatkan bahwa AI juga membuka peluang besar bagi siapa pun yang mau belajar. Menurutnya, teknologi ini bisa menjadi “senjata” baru untuk mempercepat pekerjaan dan menciptakan inovasi.
“AI bisa bikin orang kecil naik kelas, asal tahu cara pakainya. Misalnya jualan UMKM, bisa bikin konten marketing pakai AI tanpa bayar mahal. Itu kan peluang,” jelasnya.
Baca Juga: Resmi! Oktober–November 2025 Warga Dapat Bansos Beras 10 Kg, Cek Nama Penerimanya
Ia menegaskan bahwa kunci menghadapi AI bukan menolak, melainkan adaptasi. “Yang takut ketinggalan, jangan diam. Belajar, upgrade diri. AI ini ibarat pisau. Bisa buat masak, bisa buat nyakitin. Tergantung siapa yang pakai,” katanya.
Perlu Edukasi dan Pemerataan Akses
Menurut Tirta, pemerintah, komunitas, hingga dunia pendidikan perlu ikut ambil bagian agar teknologi tidak hanya dinikmati kelompok tertentu. Edukasi tentang literasi digital menjadi kunci agar masyarakat kecil tidak semakin tertinggal.
“Kalau akses internet mahal, pendidikan digital terbatas, ya sudah pasti yang bisa main AI hanya kalangan tertentu. Ini PR besar negara,” ujar dokter yang juga dikenal sebagai pegiat sosial itu.
Pesan untuk Generasi Muda
Khusus bagi anak muda, Tirta memberikan pesan agar tidak terjebak pada pola pikir lama. Dunia kerja berubah cepat, sehingga skill seperti berpikir kritis, kreativitas, dan komunikasi tetap penting meski AI semakin canggih.
“Jangan cuma mengandalkan ijazah. AI enggak peduli kamu lulusan mana. Yang penting kamu bisa solve problem. Itu yang bakal dicari perusahaan atau klien,” tegasnya.
Ia menutup pembahasan dengan pesan reflektif. “Orang kaya dan orang biasa beda kesiapan menghadapi AI, iya. Tapi jangan minder. Teknologi ini netral. Tinggal kita mau adaptasi atau jadi korban,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.