BLITAR-Pada awal abad ke-20, Pulau Jawa diguncang wabah pes. Penyakit mematikan yang dibawa tikus dan kutu ini menelan ribuan korban, termasuk warga Desa Tlogo di Jawa Tengah.
Wabah pes pertama kali terdeteksi di Jawa Timur pada 1911. Hanya dalam waktu singkat, penyakit ini menjalar ke barat dan melumpuhkan kehidupan pedesaan. Catatan resmi menunjukkan, lebih dari 214 wilayah setingkat kewedanan terinfeksi. “Dalam waktu satu tahun, lebih dari 10 persen penduduk meninggal dunia akibat pes,” tertulis dalam laporan kesehatan kolonial.
Di Desa Tlogo, gejala pertama muncul di keluarga Pak Wongso. Anaknya tiba-tiba demam tinggi, menggigil, lalu meninggal dunia. Kematian itu menjadi tanda awal bahwa wabah telah menyeberang dari tikus ke manusia. “Kami awalnya mengira hanya sakit biasa, tapi kondisinya memburuk cepat,” ucap petugas kesehatan kolonial dalam rekaman film dokumenter.
Tak lama kemudian, warga desa lain mengalami gejala serupa. Dalam hitungan hari, desa yang semula tenang berubah menjadi ladang kematian. Tikus mati bergelimpangan, sementara kutu pembawa bakteri terus menyebar diam-diam melalui tumpukan padi dan beras yang diperdagangkan di pasar.
Pemerintah kolonial bergerak cepat. Petugas kesehatan diterjunkan untuk mencari sarang tikus. Atap rumah, dinding bambu, hingga bangku tempat warga duduk dibongkar. Hasilnya, puluhan sarang tikus ditemukan, lengkap dengan bangkai yang sudah mengering. “Atap rumah rakyat, terutama yang dari ijuk, menjadi tempat ideal bagi tikus berkembang biak,” kata narasi film produksi HAGE Den Haag.
Langkah medis pun dilakukan. Jenazah korban segera dikuburkan dengan protokol ketat. Petugas mengambil sampel limpa dari orang yang meninggal untuk memastikan adanya bakteri pes. Meski sederhana, prosedur ini menjadi standar deteksi penyakit di pedalaman Jawa.
Namun upaya pengendalian wabah tidak berhenti di situ. Pemerintah meluncurkan Program Perbaikan Rumah sebagai strategi utama. Tujuannya memutus kontak manusia dengan tikus. Bambu yang biasa digunakan untuk rangka rumah diganti dengan kayu, atau ditutup rapat agar tidak berlubang. Atap dari ijuk diganti genteng atau seng, sementara dinding ganda disatukan rapat agar tak lagi menjadi sarang tikus.
Ventilasi rumah diperbesar agar cahaya matahari masuk. Dinding dicat putih supaya setiap retakan atau kotoran tikus mudah terlihat. “Rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi garis depan dalam perang melawan wabah,” ujar salah satu petugas kesehatan dalam dokumentasi.
Tak hanya bangunan, perabot rumah tangga ikut diperbaiki. Bangku bambu yang biasanya berongga dirombak agar tak bisa dijadikan tempat persembunyian tikus. Inspeksi berkala pun dilakukan. Mantri kesehatan mendatangi desa-desa, memeriksa ujung bambu, hingga memaksa warga menutup celah sekecil apa pun.
Program besar ini menjangkau hingga pelosok pegunungan. Meski akses sulit, tim kesehatan memastikan rumah-rumah rakyat dibangun ulang dengan standar sanitasi baru. Dalam beberapa tahun, hampir satu juta rumah diperbaiki dengan dana jutaan gulden dari pemerintah kolonial.
Perlahan, hasilnya terlihat. Desa-desa yang dulu dipenuhi duka berubah lebih sehat dan terang. Wabah pes mulai mereda seiring membaiknya kondisi tempat tinggal rakyat. Sejarah mencatat, perang melawan wabah bukan hanya soal obat atau dokter, melainkan soal lingkungan hidup dan kesadaran masyarakat.
Kini, lebih dari seabad berlalu, kisah kelam wabah pes di Jawa tetap jadi pengingat. Bahwa mencegah lebih penting daripada mengobati, dan rumah sehat adalah benteng pertama melawan penyakit. Siapa sangka, dari satu perbaikan rumah, lahir satu desa yang selamat, dan dari desa yang selamat, masa depan Pulau Jawa kembali kuat.
Apakah strategi ini bisa menjadi inspirasi dalam menghadapi ancaman wabah modern? Publik masih menanti jawabannya di tengah tantangan kesehatan masa kini.
Editor : Anggi Septian A.P.