BLITAR-Manchester United saat ini dikenal sebagai klub kaya dengan stadion megah Old Trafford. Namun, tak banyak yang tahu bahwa markas kebanggaan itu pernah hancur lebur akibat serangan udara pasukan Nazi Jerman. Sejarah Manchester United mencatat momen kelam ketika Old Trafford dibom dalam Perang Dunia II, hingga klub nyaris hilang dari peta sepak bola.
Old Trafford Jadi Sasaran Bom Nazi
Perang Dunia II (1939–1945) membawa kehancuran ke berbagai penjuru Eropa, termasuk Inggris. Kota Manchester yang dikenal sebagai pusat industri dan perkeretaapian menjadi salah satu target serangan udara Jerman.
Pada malam 11 Maret 1941, serangan besar-besaran Luftwaffe (angkatan udara Nazi) menghantam kawasan industri di Manchester. Tak hanya pabrik, stadion sepak bola pun terkena imbasnya. Old Trafford, yang saat itu berusia baru 31 tahun sejak dibuka pada 1910, ikut jadi korban.
Ledakan bom meratakan sebagian besar tribun dan fasilitas stadion. Reruntuhan membuat Old Trafford tidak bisa lagi dipakai. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi Manchester United, yang saat itu masih berjuang membangun reputasi di sepak bola Inggris.
MU Harus Numpang di Maine Road
Hancurnya Old Trafford membuat Manchester United kehilangan markas resmi. Klub pun terpaksa menumpang di Maine Road, stadion milik rival sekota mereka, Manchester City.
Situasi ini ironis sekaligus berat. United harus membayar biaya sewa stadion yang cukup besar, sementara pemasukan menurun drastis akibat perang. Selama hampir satu dekade, Manchester United menjalani laga kandang di “rumah tetangga” yang notabene adalah musuh bebuyutan mereka.
Namun, di tengah keterpurukan itu, klub justru menemukan momentum kebangkitan.
Bantuan Pemerintah Inggris
Pasca-perang, pemerintah Inggris mengucurkan dana bantuan untuk membangun kembali fasilitas umum yang hancur akibat serangan bom, termasuk stadion sepak bola. Manchester United menerima bantuan dana sebesar 22.278 pound sterling untuk rekonstruksi Old Trafford.
Proses pembangunan memakan waktu lama. Old Trafford baru bisa kembali digunakan pada 24 Agustus 1949, dengan laga kandang melawan Bolton Wanderers. Momen ini disambut meriah oleh ribuan fans yang akhirnya bisa kembali ke “The Theatre of Dreams” setelah hampir satu dekade terusir.
Titik Balik Menuju Kejayaan
Meski dihantam tragedi besar, periode pasca-Perang Dunia II justru menjadi titik balik penting dalam sejarah Manchester United. Klub mulai merancang kembali fondasi menuju masa keemasan.
Pelatih legendaris Sir Matt Busby datang pada 1945, membawa visi baru yang menekankan regenerasi pemain muda. Strategi itu melahirkan skuad fenomenal “Busby Babes” di era 1950-an.
Artinya, dari puing-puing Old Trafford yang hancur akibat bom Nazi, Manchester United justru bangkit menjadi kekuatan besar yang kemudian mendominasi sepak bola Inggris.
Dari Reruntuhan Jadi Ikon Dunia
Kini, Old Trafford berdiri megah dengan kapasitas lebih dari 70 ribu penonton. Stadion ini dikenal sebagai salah satu ikon sepak bola dunia, markas bagi legenda-legenda besar seperti George Best, Ryan Giggs, Wayne Rooney, hingga Cristiano Ronaldo.
Namun, kisah masa lalu tentang bom Nazi selalu menjadi pengingat bahwa kejayaan besar lahir dari cobaan berat. Tanpa keteguhan bertahan di masa perang, mungkin nama Manchester United tak akan sebesar hari ini.
Sejarah Manchester United membuktikan: dari kehancuran, lahir kebangkitan. Old Trafford yang pernah jadi puing kini menjelma menjadi “Theatre of Dreams” yang dikagumi seluruh dunia.
Editor : Anggi Septian A.P.