BLITAR-Selama hampir tiga dekade, Manchester United identik dengan kejayaan di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Namun, setelah pelatih asal Skotlandia itu pensiun pada 2013, Setan Merah justru terperosok dalam periode panjang tanpa trofi besar. Transisi ini semakin diperburuk dengan kontroversi kepemilikan keluarga Glazer yang ditolak keras oleh para fans.
Kejayaan Era Sir Alex Ferguson
Sir Alex Ferguson datang ke Manchester United pada 1986. Ia berhasil membangun kembali klub yang sempat terseok-seok menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa.
Dalam 27 tahun masa kepelatihannya, Ferguson mempersembahkan 38 trofi, termasuk 13 gelar Premier League, 5 Piala FA, dan 2 Liga Champions. Nama-nama besar seperti Eric Cantona, Ryan Giggs, Paul Scholes, Cristiano Ronaldo, hingga Wayne Rooney menjadi bagian dari era emas ini.
Namun, ketika Ferguson memutuskan pensiun pada akhir musim 2012/2013, Manchester United kehilangan sosok pemimpin yang selama ini menjadi fondasi utama kejayaan mereka.
David Moyes dan Runtuhnya Dominasi
Ferguson menunjuk David Moyes sebagai penerusnya. Sayangnya, eksperimen itu gagal total. Hanya dalam 10 bulan, Moyes dipecat setelah membawa MU finis di posisi ketujuh Premier League, hasil terburuk dalam 24 tahun.
Sejak saat itu, pelatih datang silih berganti. Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, hingga kini Ruben Amorim, semua gagal membawa MU kembali ke era kejayaan.
Trofi Premier League tak lagi mampir ke Old Trafford, membuat fans semakin frustrasi.
Glazer Out: Akar Masalah di Kepemilikan
Kemarahan fans bukan hanya karena performa tim, tapi juga karena cara keluarga Glazer mengelola klub. Sejak mengambil alih saham mayoritas pada 2005, Glazer membeli MU dengan dana pinjaman, yang utangnya dibebankan langsung ke klub.
Akibatnya, Manchester United harus menanggung utang besar hingga ratusan juta pound sterling. Fans menilai Glazer hanya mengambil keuntungan finansial tanpa peduli pada prestasi tim.
Protes “Glazer Out” kerap terjadi di Old Trafford. Bahkan, pada 2021, aksi demonstrasi besar-besaran membuat laga melawan Liverpool terpaksa ditunda.
Seorang fans garis keras MU mengatakan, “Selama Glazer masih berkuasa, MU tak akan pernah kembali berjaya. Mereka melihat klub ini sebagai mesin uang, bukan kebanggaan kota Manchester.”
Performa Inkonsisten dan Krisis Identitas
Selain masalah manajemen, MU juga menghadapi krisis identitas di lapangan. Tak ada lagi filosofi permainan yang jelas seperti di era Ferguson. Transfer pemain kerap dianggap gagal, dengan biaya besar tapi minim kontribusi.
Beberapa bintang besar seperti Angel Di Maria, Alexis Sanchez, hingga Paul Pogba datang dengan harga selangit, tapi tak mampu mengangkat performa tim.
Situasi ini membuat MU terjebak sebagai tim papan tengah, jauh dari standar klub besar yang dulu disegani.
Harapan untuk Bangkit
Meski demikian, banyak fans tetap berharap MU bisa bangkit. Generasi muda seperti Alejandro Garnacho, Rasmus Højlund, dan Kobbie Mainoo dianggap sebagai aset penting untuk masa depan.
Namun, banyak yang berpendapat kebangkitan sejati hanya bisa terjadi jika kepemilikan Glazer berakhir. Selama manajemen masih dikuasai mereka, protes Glazer Out diyakini akan terus bergema.
Dari Puncak Kejayaan ke Masa Suram
Sejarah Manchester United memperlihatkan kontras yang mencolok. Dari puncak kejayaan di era Ferguson, kini Setan Merah terjebak dalam masa suram penuh ketidakpastian.
Pertanyaan besar pun muncul: Apakah MU bisa kembali ke era keemasan? Ataukah dominasi mereka benar-benar tinggal cerita masa lalu?
Yang jelas, selama suara Glazer Out belum didengar, Old Trafford akan terus dipenuhi bayangan ketidakpuasan.
Editor : Anggi Septian A.P.