BLITAR - Berkecimpung di dunia public speaking sejak kecil, Aditya Yoga Widiansyah, pemuda asal Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar ini tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan matang dalam berpendapat.
Dari lomba pidato di bangku SD hingga ajang Duta GENRE 2024, dia menjadikan panggung sebagai ruang belajar dan menempa diri.
Berbagai panggung membuat pemuda akrab disapa Adit ini menjadi sosok yang tenang tapi penuh energi.
Meski usianya masih muda, gaya bicaranya menunjukkan kedewasaan. Dia tidak terburu-buru merangkai kata, menimbang setiap kalimat agar pesannya sampai dengan tepat.
“Mungkin kebiasaan itu terbentuk dari perjalanan panjang saya di dunia public speaking sejak kecil,” akunya.
Panggung pertamanya dimulai saat duduk di bangku kelas 2 SD. Waktu itu, dia memberanikan diri mengikuti lomba pidato.
Tak disangka di kesempatan pertamanya itu berhasil meraih juara 2. Momen sederhana itu menjadi titik balik dan dapat membuka mata keluarga bahwa dia punya potensi besar di bidang berbicara di depan umum.
“Sejak itu, lomba demi lomba terus saya ikuti. Dari lomba pidato, dai cilik, hingga orasi, semuanya membuat saya semakin kuat,” ungkapnya.
Kecintaannya pada dialektika dan menyuarakan pendapat juga mengantarnya aktif di organisasi.
Sejak SMP, Yoga banyak berkecimpung di OSIS dan bahkan sempat dipercaya menjabat sebagai ketua, baik di masa SMP maupun SMA.
Baginya, potensi atau kemampuan tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. “Potensi yang kita miliki akan jauh lebih indah jika bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujar pemuda berumur 19 tahun ini.
Baca Juga: Tradisi Baru di Kampung Sida Mulya, Terinspirasi dari Kisah Mistis Bu Sarinah
Pemikiran itu pula yang kemudian mendorongnya untuk terjun ke dunia pageant. Salah satunya adalah ajang Duta GENRE 2024, sebuah kompetisi yang fokus pada edukasi remaja.
Dia merasa ajang ini relevan dengan advokasi yang ia bawa dan kerap ia suarakan melalui berbagai media. “Duta GENRE menjadi pilihan saya untuk menjembatani advokasi yang saya miliki demi tujuan bersama,” tuturnya.
Dalam perjalanannya, Yoga juga banyak terinspirasi oleh tokoh-tokoh publik. Salah satunya Ferry Irwandi, seseorang yang dianggapnya mampu menyuarakan aspirasi melalui karya yang tak hanya bisa dipahami, tapi juga dinikmati banyak orang.
Menurut Yoga, apa yang dilakukan Ferry sejalan dengan dirinya, karena selain piawai berbicara, ia juga punya keterampilan di bidang visual.
Bagi Yoga, setiap ajang yang ia ikuti selalu memberi cerita dan pelajaran berharga.
Dia belajar bahwa mengikuti pageant bukan hanya soal menunjukkan kemampuan, melainkan juga bagaimana menyesuaikan advokasi pribadi dengan tujuan bersama yang sudah disepakati. Di situ, dia merasa perlu menjadi “gelas kosong” yang selalu siap belajar hal baru.
“Dari pembelajaran itulah kita bisa benar-benar mengimplementasikannya pada advokasi yang kita miliki,” bebernya.
Namun, perjalanan yang dilaluinya itu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar menurutnya adalah bagaimana menyelaraskan visi pageant dengan adat maupun budaya masyarakat.
Menurutnya, penting untuk tetap menyesuaikan dengan kondisi tanpa menyinggung pihak mana pun. Di sinilah, dia belajar tentang sensitivitas sosial dan budaya.
Di balik kesibukan mengikuti berbagai kegiatan, Yoga juga paham bahwa manajemen waktu adalah kunci.
Dia selalu menata skala prioritas, menyusun jadwal dengan rapi, dan belajar mendelegasikan tugas yang bisa dikerjakan bersama tim. Persiapan pun jadi hal penting.
Baca Juga: Gaya Koboy Menteri Keuangan Purbaya: Antara Inovasi Kebijakan dan Kontroversi Komunikasi
Setiap materi ia tulis ulang di buku catatan, lalu ia sampaikan kembali dalam bentuk orasi agar lebih mudah dipahami. Proses ini ia ulang beberapa kali sampai benar-benar terasa nyaman di kepala. (mg5/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah