BLITAR – Nama Chikita Meidy kembali jadi sorotan publik. Mantan penyanyi cilik ini mengungkap pengalaman mengejutkan: sejak umur 2 tahun ia sudah masuk dapur rekaman dan merilis 33 album dengan total 330 lagu.
Fenomena ini sontak memancing nostalgia generasi 90-an sekaligus kritik terhadap industri hiburan anak. Bagaimana mungkin seorang balita sudah dituntut menjadi penyanyi nasional dengan jadwal tur, rekaman, hingga tampil di televisi?
Chikita sendiri tidak menampik, popularitas di usia dini membuatnya kehilangan masa kecil. “Konsekuensinya jelas, aku enggak bisa main kayak anak-anak lain. Sekolah pun cuma setengah hari karena harus tur dan rekaman,” ungkap Chikita Meidy dalam podcast yang tayang di YouTube.
Putri pasangan musisi Meidy MD dan Alvi Hairi ini memang dibesarkan di lingkungan musik. Sang ayah piawai menciptakan lagu, sementara ibunya dikenal sebagai penyanyi. Dari situlah, Chikita diarahkan sejak dini untuk bernyanyi. Lagu debutnya berjudul "Kuku-kuku" langsung meledak dan terjual hingga satu juta kopi.
Popularitas itu membuat tawaran tampil tak pernah berhenti. Hampir setiap minggu, ia harus terbang ke Surabaya atau kota lain untuk syuting program televisi. “Guru pun sampai ikut tur, jadi aku belajar di jalan,” kenangnya.
Namun di balik gemerlap panggung, Chikita menanggung beban berat. Ia mengaku sering kelelahan, bahkan sempat drop di usia 4–5 tahun. “Manajemenku saat itu adalah mamiku sendiri. Semua tawaran diambil, sampai aku kehabisan tenaga,” katanya.
Tak hanya itu, kehidupannya di sekolah juga penuh tekanan. Karena status sebagai artis, ia sering jadi korban bullying. Mulai dari diminta membelikan jajanan, dilempar sepatu ke genteng, bahkan sampai ada yang memasukkan bangkai kecoa ke dalam tasnya. “Sampai sekarang aku masih trauma kalau ketemu beberapa orang yang dulu suka nindas aku,” ujar Chikita.
Tekanan demi tekanan membuat Chikita akhirnya memutuskan berhenti bernyanyi di usia sekitar 8 tahun. Ia memilih fokus sekolah dan menutup lembaran karier sebagai penyanyi cilik. “Jujur gara-gara bullying, aku langsung out. Enggak nyanyi lagi,” tegasnya.
Keputusan itu tentu mengejutkan banyak orang. Pasalnya, Chikita saat itu sudah dianggap ikon penyanyi cilik Indonesia, bahkan sempat tampil hingga ke Malaysia dan Brunei. Ia juga dikenal sebagai trendsetter fashion anak-anak, mulai dari gaya rambut sampai sepatu warna-warni yang jadi tren era 90-an.
Meski begitu, ia tak menyesali perjalanan hidupnya. “Aku bersyukur pernah ada di fase itu. Tapi aku juga ingin orang tahu, ada harga yang harus dibayar. Masa kecilku hilang demi popularitas,” tuturnya.
Kini, Chikita sudah berkeluarga dan hidup lebih tenang. Ia memilih jalur berbeda dengan menjadi ibu rumah tangga sekaligus sesekali tampil di media. Kisahnya menjadi cermin betapa industri hiburan anak sering kali mengabaikan hak anak untuk bermain dan tumbuh secara wajar.
Bagi generasi 90-an, nama Chikita Meidy akan selalu diingat lewat lagu-lagu ceria yang menemani masa kecil. Namun bagi dirinya sendiri, justru masa kecil itulah yang tak pernah benar-benar ia miliki.
Editor : Anggi Septian A.P.