BLITAR – Nama Chikita Meidy melejit pada awal 1990-an sebagai penyanyi cilik fenomenal. Di balik kepopulerannya, ternyata masa kecil Chikita penuh dengan kisah unik, termasuk harus sekolah setengah hari dan membawa guru pribadi saat tur ke luar negeri.
Pengakuan ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara di kanal YouTube, ketika mengenang perjalanan kariernya sejak usia dua tahun. Kala itu, lagu debutnya “Kuku-kuku” meledak hingga terjual jutaan kopi. Sejak saat itu, jadwal manggung, rekaman, hingga tampil di televisi membuat masa kecil Chikita jauh berbeda dengan anak-anak seusianya.
“Sekolah tetap jalan, tapi hanya setengah hari. Siangnya saya harus terbang ke luar kota atau bahkan ke luar negeri untuk tur. Supaya pendidikan tetap jalan, akhirnya saya dibawakan guru pribadi,” ungkap Chikita Meidy.
Situasi ini menjadi perhatian publik karena memperlihatkan betapa beratnya tanggung jawab seorang anak kecil yang harus membagi waktu antara sekolah dan karier hiburan. Menurut Chikita, sang ibu selalu berusaha menjaga agar pendidikan tetap menjadi prioritas.
Ia menceritakan bahwa guru pribadi yang menemaninya saat tur bukan orang asing, melainkan anggota keluarga yang memang berlatar belakang pendidikan. Dengan begitu, Chikita bisa tetap belajar meski berada di pesawat, hotel, atau sela-sela jadwal manggung.
“Pendidikan itu penting banget buat orang tua saya. Makanya mereka nggak mau saya ketinggalan pelajaran, walaupun pekerjaan di panggung padat sekali,” tambahnya.
Kisah ini menarik perhatian warganet karena menyentuh sisi human interest. Di satu sisi, Chikita masih anak kecil yang harus belajar. Namun di sisi lain, ia dituntut tampil profesional di panggung hiburan.
Fenomena membawa guru pribadi dalam tur artis anak mungkin jarang terdengar di era 1990-an. Namun bagi Chikita, itu adalah satu-satunya cara agar bisa tetap bersekolah tanpa harus mengorbankan karier.
Meski demikian, ia mengakui bahwa konsekuensi dari popularitas sejak kecil cukup berat. Masa bermain dengan teman sebaya nyaris hilang. Bahkan, ia sering merasa kesepian di sekolah karena dianggap berbeda oleh teman-temannya.
“Kadang saya merasa nggak punya teman. Di sekolah pun mereka lihat saya bukan sebagai murid biasa, tapi sebagai artis kecil. Itu berat banget buat saya,” kenang Chikita.
Selain soal pendidikan, pengalaman tur ke luar negeri juga menjadi cerita berharga. Chikita sempat tampil di Malaysia dan Brunei, bahkan membawakan acara sendiri di televisi. Namun di balik gemerlap itu, ia tetap membawa buku pelajaran.
Publik pun menilai kisah ini mengundang diskusi lebih luas. Bagaimana seharusnya pendidikan anak yang juga berkarier di dunia hiburan? Apakah membawa guru pribadi adalah solusi, atau justru menambah tekanan bagi si anak?
Pengamat pendidikan menilai, kasus seperti Chikita bisa jadi bahan refleksi. “Setiap anak punya hak atas pendidikan dan masa kecil. Jika harus bekerja, pendampingan dari keluarga dan guru sangat penting agar tidak kehilangan jati diri,” ujar seorang pemerhati pendidikan anak.
Kini, Chikita Meidy sudah berkeluarga dan memilih kehidupan yang lebih tenang. Meski sempat mengalami masa sulit karena bullying dan tekanan industri hiburan, ia bersyukur masih bisa menjaga pendidikan sejak kecil.
“Akhirnya saya sadar, pendidikan itu harta paling penting. Musik memberi saya pengalaman, tapi sekolah yang bikin saya bisa bertahan sampai sekarang,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.