Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kroket sebagai Cermin Sejarah: Makanan dan Pergerakan Budaya Global

Rahma Nur Anisa • Kamis, 2 Oktober 2025 | 22:00 WIB

Satu Hidangan Mencerminkan Dinamika Sosial, Ekonomi, dan Politik Dunia
Satu Hidangan Mencerminkan Dinamika Sosial, Ekonomi, dan Politik Dunia

BLITAR KAWENTAR - Makanan sering menjadi saksi bisu perubahan sejarah dunia, dan kroket adalah salah satu contoh terbaik bagaimana hidangan dapat mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan politik lintas benua. Perjalanan kroket dari istana Prancis hingga pasar tradisional Indonesia merupakan miniatur dari sejarah globalisasi, kolonialisme, dan adaptasi budaya.

Kelahiran kroket di istana Prancis abad ke-17 mencerminkan struktur sosial feodal yang kaku. Kroket pertama, dengan isian truffle dan daging sapi muda, hanya dapat dinikmati kalangan bangsawan. Ini menunjukkan bagaimana makanan menjadi simbol status sosial dan kekuasaan ekonomi pada masa itu. Bahkan cara pembuatan kroket dari sisa makanan jamuan kerajaan menggambarkan hierarki sosial yang ketat.

Transformasi kroket di Belanda pada abad ke-18 mencerminkan perubahan nilai sosial. Filosofi "zuinig" (hemat) bangsa Belanda mengubah kroket dari hidangan mewah menjadi makanan praktis rakyat. Perubahan ini sejalan dengan berkembangnya kelas menengah dan semangat pragmatisme yang menjadi ciri khas masyarakat Belanda.

Baca Juga: Ekskul Silat di SMA Mambaus Sholihin 2 Blitar Digandrungi Siswa, Ini Manfaatnya

Masa perang Napoleon memberikan dimensi politik pada sejarah kroket. Kehadiran kroket dalam jamuan resmi Napoleon tahun 1810 menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi alat diplomasi dan representasi kekuasaan. Kroket dengan "dua wajah"—versi sederhana untuk rakyat dan versi mewah untuk elit—mencerminkan strategi politik populis yang masih relevan hingga kini.

Penyebaran kroket melalui jalur perdagangan dan kolonialisme menggambarkan bagaimana makanan mengikuti alur kekuasaan politik dan ekonomi. Masuknya kroket ke Jepang tahun 1870-an bersamaan dengan kebijakan Restorasi Meiji yang membuka diri terhadap budaya Barat. Di Korea, kroket masuk melalui pengaruh Jepang, mencerminkan dinamika geopolitik Asia Timur.

Adaptasi kroket di berbagai negara menunjukkan resiliensi budaya lokal dalam menghadapi pengaruh asing. Setiap negara memodifikasi kroket sesuai bahan lokal dan selera masyarakat, Jepang dengan kari, Spanyol dengan ham, Indonesia dengan cabai rawit. Ini membuktikan bahwa globalisasi tidak selalu berarti homogenisasi budaya.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Serahkan 325 Sertipikat PTSL di Desa Banjarsari Blitar

Perjalanan kroket di Indonesia sangat menarik sebagai cermin sejarah kolonialisme. Awalnya simbol modernitas di kalangan priayi, kroket kemudian menjadi makanan lintas kelas sosial. Transformasi ini mencerminkan perubahan struktur sosial akibat sistem kolonial dan kebangkitan kesadaran nasional.

Sekolah Masak Pribumi yang mengajarkan resep kroket menunjukkan strategi kolonial dalam bidang pendidikan dan budaya. Namun ironisnya, hal ini justru mempercepat "pribumisasi" kroket, membuktikan bahwa penerima pengaruh budaya asing tidak selalu pasif.

Pascakemerdekaan Indonesia, bertahannya kroket dalam budaya kuliner lokal mencerminkan kompleksitas warisan kolonial. Tidak semua warisan kolonial ditolak mentah-mentah; beberapa diadaptasi dan dijadikan bagian dari identitas nasional. Kroket menjadi contoh bagaimana masyarakat terjajah dapat mengklaim kembali dan mentransformasi warisan kolonial.

Baca Juga: ⁠Hanya 8 Guru di Kota Blitar Terima Bantuan Biaya Kuliah S1 dari Pusat, Dispendik: Data dari Pusat

Di era modern, kroket tetap relevan sebagai cermin globalisasi kontemporer. Mesin otomatis Febo di Belanda mencerminkan teknologi dan gaya hidup modern. Ekspansi franchise kroket Asia mencerminkan dinamika ekonomi regional yang semakin terintegrasi.

Sejarawan makanan Peter Scholliers pernah berkata, "Makanan adalah paspor sejarah. Ia bepergian, beradaptasi, dan bertahan." Kroket membuktikan kebenaran pernyataan ini. Dalam setiap gigitan kroket, terkandung cerita tentang perubahan sosial, ekonomi politik, dan adaptasi budaya yang membentuk dunia modern.

Studi tentang kroket mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya tentang perang dan politik, tetapi juga tentang kehidupan sehari-hari yang membentuk identitas kolektif. Makanan seperti kroket menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menunjukkan kontinuitas sekaligus perubahan dalam peradaban manusia. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#belanda #jajanan pasar #Kroket #makanan bangsawan #mendunia #croquet #daging cincang #koroke #truffle