Jajanan Kroket 5000 Rupiah di Pasar Ternyata Berasal dari Istana Raja Prancis - Begini Perjalanan Epik Warisan Kolonial
Rahma Nur Anisa• Jumat, 3 Oktober 2025 | 15:00 WIB
Perjalanan Makanan Eropa Menjadi Jajanan Pasar Nusantara
BLITAR KAWENTAR - Ketika Belanda menjajah Indonesia, mereka tidak hanya membawa sistem pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga tradisi kuliner yang hingga kini masih melekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Kroket adalah salah satu contoh terbaik bagaimana makanan kolonial dapat berevolusi menjadi identitas kuliner lokal yang autentik.
Kroket pertama kali masuk ke Hindia Belanda pada abad ke-19 sebagai bagian dari "rijsttafel", jamuan besar bergaya kolonial yang menampilkan puluhan hidangan dalam satu meja. Pada masa itu, kroket masih mempertahankan karakter Eropanya dengan isian daging sapi dan kentang tumbuk, disajikan untuk kalangan elit kolonial dan priayi pribumi.
Namun realitas kolonial menghadirkan tantangan tersendiri. Bahan-bahan Eropa seperti daging sapi berkualitas tinggi sulit didapat dan mahal harganya. Adaptasi pun tidak terelakkan. Daging sapi diganti dengan ayam, ikan lokal, bahkan singkong. Kentang tumbuk kadang dicampur dengan ubi atau talas. Transformasi ini tidak mengurangi kelezatan, justru menciptakan variasi rasa yang unik.
Yang menarik, kroket berhasil melintasi batas-batas kelas sosial di masyarakat kolonial. Di satu sisi, kroket tetap hadir dalam pesta-pesta elit kolonial dan priayi Jawa sebagai simbol modernitas. Di sisi lain, versi sederhana kroket mulai muncul di pasar-pasar lokal, dijual berdampingan dengan jajanan tradisional lainnya.
Sekolah Masak Pribumi zaman kolonial memainkan peran penting dalam penyebaran kroket. Resep kroket diajarkan sebagai salah satu menu "modern" yang harus dikuasai. Hal ini mempercepat penyebaran kroket ke berbagai daerah di Nusantara, masing-masing dengan adaptasi lokal sesuai bahan yang tersedia.
Ciri khas kroket Indonesia yang paling menonjol adalah penyajiannya dengan cabai rawit atau sambal. Ini adalah inovasi murni Indonesia yang tidak ditemukan dalam versi kroket manapun di Eropa. Perpaduan rasa gurih kroket dengan pedas cabai rawit menciptakan harmoni rasa yang khas Nusantara.
Setelah Indonesia merdeka, kroket justru semakin mengakar dalam tradisi kuliner Indonesia. Buku-buku masak Indonesia tahun 1950-1960an, termasuk "Nyonya Cho", mencatat kroket kentang sebagai hidangan wajib pesta keluarga dan hari raya. Kroket mulai sejajar dengan makanan tradisional seperti risoles, pastel, dan lemper.
Di banyak keluarga Jawa, kroket bahkan menjadi hidangan syukuran, arisan, dan kue lebaran. Ini menunjukkan bahwa kroket telah benar-benar "diindonesiakan"—tidak lagi dianggap sebagai makanan asing, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal.
Kini, hampir setiap pasar tradisional di Indonesia memiliki penjual kroket dengan variasi isian yang beragam. Ada kroket ayam, daging, ikan, bahkan kroket sayur untuk vegetarian. Harganya terjangkau, membuktikan bahwa kroket telah menjadi makanan rakyat sejati.
Fenomena kroket Indonesia membuktikan bahwa kolonialisme kuliner tidak selalu berarti dominasi budaya. Sebaliknya, masyarakat lokal mampu mengadaptasi, memodifikasi, dan akhirnya mengklaim makanan asing sebagai milik mereka sendiri. Kroket Indonesia adalah contoh nyata bagaimana kreativitas kuliner lokal dapat mengubah warisan kolonial menjadi identitas budaya yang autentik. (*)
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah Isi percakapan yang diduga penyerang Timnas Indonesia Hokky Caraka Editor : M. Subchan Abdullah