Kroket, Si Jajanan Rakyat yang Lahir dari Dapur Bangsawan Prancis
Rahma Nur Anisa• Jumat, 3 Oktober 2025 | 19:00 WIB
Kroket: Perjalanan 300 Tahun Makanan Renyah yang Mendunia
BLITAR KAWENTAR - Siapa sangka jajanan sederhana yang kerap ditemui di pasar-pasar tradisional Indonesia ternyata memiliki sejarah mulia dari istana bangsawan Eropa? Kroket, makanan renyah berisi kentang dan daging cincang ini, telah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari 300 tahun sebelum menjadi camilan favorit masyarakat Indonesia.
Kata "kroket" berasal dari bahasa Prancis "croquet" yang berarti "menggigit renyah". Sesuai namanya, identitas kroket memang terletak pada bunyi "kriuk" khas saat digigit. Resep tertua kroket tercatat pada tahun 1691, ditulis oleh Francois Massialot, seorang juru masak kerajaan yang melayani bangsawan dan pesta besar.
Kroket pertama kali hadir bukan di pasar, melainkan di meja makan para bangsawan Prancis abad ke-17. Isiannya pun mewah, daging sapi muda, truffle, bahkan organ-organ mahal. Menariknya, kroket juga menjadi cara kreatif mengolah sisa makanan jamuan kerajaan agar tidak terbuang percuma.
Di abad ke-18, budaya Prancis mulai masuk ke Belanda, termasuk resep kroket. Pada tahun 1803, buku masak Belanda mencatat resep kroket versi yang lebih sederhana. Di Belanda, kroket berubah dari hidangan bangsawan menjadi makanan rakyat dengan isian kentang tumbuk dan daging sisa, sesuai dengan filosofi hemat bangsa Belanda.
Masa perang Napoleon menjadi babak menarik dalam sejarah kroket. Pada jamuan Napoleon tahun 1810, kroket masuk dalam daftar menu resmi. Kroket memiliki dua wajah: versi sederhana untuk rakyat dan versi mewah berisi daging sapi serta keju mahal untuk kalangan elit.
Dari Belanda, kroket mulai menyebar melalui perdagangan dan kolonialisme. Di Jepang, kroket dikenal sebagai "koroke" sejak tahun 1870-an dan menjadi jajanan festival yang populer. Korea memiliki "goroke" dengan isian sayur atau mie, sementara Spanyol memiliki "croquetas de jamón" yang menjadi menu khas bar tapas.
Di Hindia Belanda abad ke-19, kroket awalnya menjadi bagian dari "rijsttafel", jamuan besar gaya kolonial. Namun karena bahan Eropa terbatas dan mahal, adaptasi cepat terjadi. Daging sapi diganti ayam atau ikan, bahkan singkong. Kroket berhasil melintasi batas kelas sosial, dari meja kolonial hingga jajanan pasar rakyat.
Setelah Indonesia merdeka, kroket tetap bertahan. Buku masak Indonesia tahun 1950-1960an banyak memuat resep kroket sebagai menu rumah tangga wajib. Bedanya, kroket Indonesia sering dimakan dengan cabai rawit atau sambal, sesuatu yang tidak ada dalam versi Eropa.
Hingga kini, kroket tetap populer di berbagai negara dengan adaptasi lokal masing-masing. Di Belanda, kroket bahkan dijual melalui mesin otomatis dan menjadi camilan nomor dua terpopuler setelah frikadel. Rata-rata rakyat Belanda mengonsumsi 25 kroket per tahun.
Kroket membuktikan bahwa makanan adalah "paspor sejarah" yang dapat bepergian, beradaptasi, dan bertahan. Setiap gigitan kroket sebenarnya adalah potongan kecil dari sejarah dunia yang telah menempuh perjalanan tiga abad. (*)
dr. Aaron Franklyn saat memeriksa santri korban ambruknya musala Popes Al Khoziny RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Editor : M. Subchan Abdullah