Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Ferenc Puskás, Datang ke Real Madrid dalam Kondisi Gendut tapi Jadi Legenda

Anggi Septiani • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 19:30 WIB
Kisah Ferenc Puskás, Datang ke Real Madrid dalam Kondisi Gendut tapi Jadi Legenda
Kisah Ferenc Puskás, Datang ke Real Madrid dalam Kondisi Gendut tapi Jadi Legenda

BLITAR-Tidak ada kisah sepak bola yang lebih inspiratif daripada perjalanan Ferenc Puskás di Real Madrid. Bagaimana tidak, saat datang ke Spanyol pada akhir 1950-an, striker asal Hungaria itu justru dalam kondisi gendut, berusia di atas 30 tahun, dan sempat diragukan bisa tampil di level tertinggi. Namun semua keraguan itu sirna ketika Puskás justru menjelma menjadi salah satu legenda terbesar dalam sejarah Los Blancos.

Ferenc Puskás dikenal sebagai bagian dari generasi emas Hungaria yang dijuluki Mighty Magyars. Ia memimpin timnas Hungaria mencapai final Piala Dunia 1954. Namun setelah Revolusi Hungaria 1956, kariernya sempat terhenti. Ia dibekukan FIFA selama dua tahun karena menolak kembali ke negaranya.

Ketika masa larangan itu berakhir, banyak klub Eropa ragu merekrutnya. Alasannya jelas: usianya sudah kepala tiga, berat badannya berlebih, dan ia sudah lama tidak bermain di level kompetitif. Bahkan ada media yang menyebut Puskás “sudah habis” sebelum bergabung dengan klub baru.

Namun Real Madrid melihat sesuatu yang berbeda. Presiden Santiago Bernabéu, dengan visi besarnya, tetap memutuskan merekrut Puskás pada tahun 1958. Keputusan itu terbukti jenius.

Meski awalnya dianggap terlalu gemuk, Puskás cepat beradaptasi. Ia menjalani latihan intensif dan menurunkan berat badannya. Dengan teknik menembak yang luar biasa, kaki kiri maut, dan insting gol yang tajam, Puskás segera menjelma menjadi mesin pencetak gol Madrid.

Debutnya bersama Los Blancos langsung memukau. Dalam musim-musim berikutnya, ia berduet dengan Alfredo Di Stefano dan Francisco Gento, membentuk trio serangan paling menakutkan di Eropa. Hasilnya, Real Madrid merajai European Cup dan Liga Spanyol.

Momen paling ikonik terjadi pada final European Cup 1960 di Glasgow. Saat Madrid menghadapi Eintracht Frankfurt, Puskás mencetak empat gol sekaligus, sementara Di Stefano menambah tiga gol. Skor akhir 7-3 untuk Madrid, dan hingga kini laga itu masih dikenang sebagai salah satu final terbaik sepanjang sejarah.

Tak hanya itu, Puskás juga menjadi top skor La Liga sebanyak empat kali. Selama 8 musim di Real Madrid, ia mencetak 242 gol dalam 262 pertandingan resmi—sebuah rekor luar biasa yang membuatnya masuk jajaran legenda klub.

Cerita Puskás semakin inspiratif karena ia membuktikan bahwa usia dan kondisi fisik bukanlah penghalang. Dari pemain yang sempat diragukan karena kegemukan, ia bertransformasi menjadi ikon kebugaran dan profesionalisme di lapangan. Kisahnya relevan hingga kini, karena banyak pemain muda yang belajar bahwa kerja keras dan disiplin bisa mengubah keraguan menjadi kejayaan.

Warisan Puskás begitu besar hingga namanya kini diabadikan FIFA dalam penghargaan Puskás Award, yang diberikan setiap tahun kepada pencetak gol terbaik dunia. Itu menjadi simbol abadi dari teknik menembak brilian yang ia tunjukkan selama kariernya.

Bagi Real Madrid, Puskás bukan hanya mesin gol, tapi juga simbol keberanian mengambil risiko dalam transfer. Ketika banyak klub menolak karena alasan usia dan fisik, Madrid justru merangkulnya—dan hasilnya adalah salah satu perekrutan terbaik sepanjang masa.

Kini, kisah Ferenc Puskás tetap hidup dalam ingatan fans Madrid dan pencinta sepak bola dunia. Dari pemain gendut yang diremehkan, ia membuktikan diri sebagai legenda abadi Santiago Bernabéu.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Legenda Los Blancos #real madrid #ferenc puskas