BLITAR KAWENTAR - Di era digital, MBTI menjelma jadi tren identitas diri. Dari bio Instagram hingga aplikasi kencan, label empat huruf menjadi simbol cepat mengenalkan siapa kita. Namun, fenomena ini menyimpan risiko.
Fenomena MBTI merebak di media sosial dalam satu dekade terakhir. Tipe seperti INTJ, ENFP, atau ISFJ sering dipajang di profil. Alasannya sederhana: label empat huruf terasa instan, mudah dipahami, dan bisa menjadi bahan obrolan.
Namun, popularitas ini menimbulkan masalah baru: banyak orang mulai menginternalisasi hasil tes seolah-olah identitas permanen. Seorang yang dinyatakan introvert bisa jadi menolak kesempatan public speaking hanya karena merasa itu bukan dirinya. Padahal, keahlian komunikasi bisa dipelajari siapa pun.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Blitar Kunjungan ke Kampus UMINA Blitar: Siap Kerja Sama Majukan Pendidikan
Psikolog mengingatkan bahwa kepribadian bersifat dinamis. Penelitian membuktikan kebanyakan orang berada di antara spektrum introvert-ekstrovert, bukan di ujung ekstrem. Fenomena “ambivert” justru semakin diakui. MBTI dengan pendekatan hitam-putihnya gagal menangkap kompleksitas ini.
Meski begitu, MBTI tidak sepenuhnya buruk. Jika digunakan secara ringan, ia bisa membantu orang berefleksi dan memicu percakapan tentang diri. Masalah muncul ketika tes ini dijadikan dasar keputusan besar, baik oleh individu maupun institusi.
Media sosial memperkuat tren MBTI karena kesederhanaannya sesuai dengan budaya instan. Namun, pengguna perlu bijak agar tidak terjebak dalam “labelisasi diri” yang justru membatasi potensi.
Baca Juga: Dispendik Kabupaten Blitar Mulai Perketat Izin Cerai ASN hingga PPPK, Ini Alasannya
MBTI di media sosial lebih tepat dianggap sebagai tren identitas dan sarana hiburan. Menggunakannya secara serius untuk membatasi diri justru merugikan. Identitas sejati terbentuk dari pengalaman, bukan empat huruf semata.
Editor : M. Subchan Abdullah