Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Isu Minute Play Panaskan Debat: Haruskah Pemain Diaspora Balik ke Liga Indonesia?

Findika Pratama • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 22:00 WIB

 

Isu Minute Play Panaskan Debat: Haruskah Pemain Diaspora Balik ke Liga Indonesia?
Isu Minute Play Panaskan Debat: Haruskah Pemain Diaspora Balik ke Liga Indonesia?

BLITAR  Isu minute play kembali memanaskan perbincangan seputar Timnas Indonesia. Setelah nama Marcelino Ferdinan dicoret dari skuad, banyak yang bertanya: apakah pemain muda yang berkarier di luar negeri akan kehilangan tempat di Timnas hanya karena minim bermain?

Topik ini mencuat dalam tayangan Versus yang menghadirkan Coach Justin dan Mamat Alkatiri. Keduanya terlibat perdebatan sengit soal kebijakan pelatih yang tampak lebih memprioritaskan pemain dengan menit bermain tinggi di klub.

“Kalau alasannya minute play, ini berbahaya,” kata Mamat. “Pemain diaspora bisa takut berkarier di luar negeri karena takut enggak dipanggil.”

Baca Juga: 3 Fungsi Utama Kartu KKS yang Wajib Diketahui: Bukan Sekadar ATM Pencairan Bansos PKH dan BPNT!

Menurutnya, keputusan mencoret Marcelino yang baru pindah ke klub Slovakia, Trencin, terlalu cepat dihakimi. “Dia masih adaptasi. Butuh waktu dua-tiga bulan untuk main reguler,” katanya.

Coach Justin punya pandangan berbeda. “Pelatih pasti punya alasan. Tapi minute play enggak bisa dilihat mentah-mentah. Main di divisi dua Belanda beda dengan main di Liga 1 Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan kualitas kompetisi harus jadi pertimbangan utama. “Kalau lu main di liga top, walau cuma lima belas menit, itu jauh lebih berharga daripada main penuh di liga yang kualitasnya di bawah,” tambahnya.

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Program Magang Bergaji UMP untuk 20 Ribu Lulusan: Solusi atau Tambal Sulam?

Perdebatan ini mengundang perhatian netizen. Banyak yang mendukung Marcelino tetap berkarier di luar negeri demi menambah pengalaman. “Kalau semua balik ke Liga 1 cuma buat aman di Timnas, kapan sepak bola kita naik kelas?” tulis salah satu komentar di YouTube.

Mamat menambahkan, “Tujuan mereka keluar itu untuk belajar, bukan cari minute play di liga sendiri.”

Meski berbeda pendapat, keduanya sepakat bahwa pemain muda perlu diberi kesempatan berkembang tanpa tekanan. “Marcelino masih 19 tahun, biarkan dia belajar,” ujar Coach Justin.

Ia menilai ketidakkonsistenan pemain muda adalah hal wajar. “Biarkan mereka bikin kesalahan, itu bagian dari proses,” katanya.

Baca Juga: BSU 2025 Cair dalam Tiga Tahap, Kemenaker Jelaskan Proses dan Jadwal Pencairan

Diskusi tentang minute play ini mencerminkan dilema antara pembangunan jangka panjang dan tuntutan hasil instan. Jika pelatih terlalu menekankan menit bermain di klub lokal, pemain diaspora mungkin kehilangan motivasi berkompetisi di luar negeri.

Namun, jika kebijakan terlalu longgar, pelatih bisa dianggap tak adil bagi pemain yang rutin tampil di Liga 1.

Publik kini menunggu bagaimana keputusan pelatih Shin Tae-yong menyikapi isu ini. Apakah minute play tetap jadi acuan utama, atau ada faktor lain seperti kualitas liga dan kontribusi nyata di lapangan?

Baca Juga: BSU 2025 Cair Lagi? Begini Cara Cek Penerima Bantuan Subsidi Upah Lewat Aplikasi JMO

Apapun kebijakannya, satu hal pasti — isu minute play telah membuka perdebatan besar tentang arah pengembangan pemain Timnas Indonesia di masa depan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#MinutePlay #PemainDiaspora #TimnasIndonesia #CoachJustin #MarcelinoFerdinan