BLITAR – Seleksi pemain Timnas Indonesia jelang dua laga penentuan menuju Piala Dunia 2026 kembali memancing perdebatan di dunia maya. Nama-nama yang dicoret, seperti Marcelino Ferdinan, membuat netizen gaduh dan mempertanyakan keputusan pelatih.
Namun, dalam tayangan Versus, Coach Justin menegaskan bahwa publik harus menghormati keputusan pelatih. “Pelatih punya hak penuh. Dia yang paling tahu siapa yang siap dan siapa yang enggak,” katanya tegas.
Menurutnya, keputusan untuk tidak memanggil Marcelino bukan berarti karier sang pemain selesai. “Dia cuma enggak dipilih untuk dua match ini. Kalau performanya bagus, dia pasti balik lagi,” ujar Justin.
Baca Juga: Skincare ala Formasi Sepak Bola: Cara Unik Memahami Rutinitas Perawatan Kulit
Mamat Alkatiri menambahkan bahwa kritik publik adalah hal biasa, tapi jangan sampai berlebihan. “Netizen di Indonesia ini luar biasa. Kadang pemain belum turun lapangan, udah dihujat duluan,” katanya.
Isu paling ramai di media sosial adalah dugaan bahwa pelatih Shin Tae-yong lebih memilih pemain lokal daripada diaspora. Namun, Justin membantah tudingan itu. “Pelatih enggak peduli pemain dari mana. Dia cuma mau yang terbaik buat Timnas,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana Shin Tae-yong berani menurunkan pemain muda seperti Rafael Struick dan Elkan Baggott karena kualitas mereka teruji. “Kalau bagus, dia pasti main. Kalau enggak, ya enggak. Sesederhana itu,” kata Justin.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Cair Oktober 2025: KPM Dapat Tambahan Rp400 Ribu, Cek Saldo KKS di Aplikasi Ini!
Mamat pun menyoroti kebiasaan netizen yang kerap menilai tanpa melihat konteks. “Pelatih melihat pemain dari banyak aspek — fisik, mental, taktik, bahkan peran dalam tim. Kita enggak bisa nilai dari statistik doang,” ujarnya.
Diskusi pun semakin hangat ketika Justin menyebut banyak netizen yang tak memahami bagaimana tekanan seorang pelatih bekerja. “Kalau Timnas menang, pemain yang dipuji. Kalau kalah, pelatih yang disalahkan,” katanya sambil tertawa.
Ia menegaskan bahwa Shin Tae-yong tentu ingin menurunkan skuad terbaik. “Pelatih juga pengin menang. Kalau Timnas tampil bagus, dia juga dapat kredit besar. Jadi enggak mungkin pilih pemain asal-asalan.”
Baca Juga: Profesor IPK 2,69 Ajarkan Mahasiswa IPB: Terbiasa Dibilang Bodoh Justru Kunci Sukses di Dunia Kerja
Mamat sepakat. “Pelatih bukan cuma lihat minute play, tapi juga kontribusi di lapangan dan kecocokan skema permainan,” ujarnya.
Fenomena “netizen jadi pelatih” kini makin sering terjadi. Setiap kali daftar skuad diumumkan, media sosial langsung dipenuhi komentar, meme, bahkan tudingan tak berdasar.
Namun, di balik semua itu, para pemain dan pelatih tetap fokus menghadapi dua laga terakhir menuju Piala Dunia 2026. Mereka tahu dukungan publik bisa jadi energi besar — tapi juga tekanan luar biasa.
Baca Juga: 8 Bantuan Pemerintah Cair Oktober 2025: PKH, BPNT, BLT Dana Desa hingga PIP Segera Disalurkan
“Kalau mau Timnas sukses, ya dukung dengan cara yang positif,” pesan Coach Justin. “Biar pelatih kerja, biar pemain fokus.”
Pernyataan itu menutup diskusi dengan pesan moral kuat: sepak bola bukan hanya soal emosi, tapi juga soal kepercayaan. Karena pada akhirnya, kemenangan Timnas adalah kemenangan seluruh bangsa.
Editor : Anggi Septian A.P.