Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cara Mengatasi Rasa Malas, Trik Psikologis Ampuh agar Otak Mau Diajak Produktif

Anggi Septiani • Minggu, 19 Oktober 2025 | 17:20 WIB
Cara Mengatasi Rasa Malas, Trik Psikologis Ampuh agar Otak Mau Diajak Produktif
Cara Mengatasi Rasa Malas, Trik Psikologis Ampuh agar Otak Mau Diajak Produktif

BLITAR– Banyak orang berniat produktif, tapi ujung-ujungnya rebahan sambil scrolling TikTok sampai sore. Fenomena ini bukan semata soal kemauan, melainkan cara kerja otak yang sering kali justru memboikot diri sendiri. Menurut seorang konten kreator motivasi dalam video viralnya di YouTube, ada cara mengatasi rasa malas yang bisa dilakukan dengan pendekatan ilmiah sederhana namun efektif.

Ia menjelaskan, rasa malas adalah mekanisme alami dari otak untuk menghemat energi. “Otak kita punya misi utama: bertahan hidup dengan cara paling hemat tenaga,” ujarnya. Bagian otak bernama amigdala bertugas seperti “satpam malas” yang selalu curiga terhadap hal-hal yang butuh usaha lebih. Setiap kali kita ingin olahraga, belajar hal baru, atau memulai bisnis, otak akan menyalakan alarm bahaya: “Capek, mending rebahan saja.”

Namun kabar baiknya, rasa malas bisa “ditipu” dengan strategi psikologis tertentu. Berikut beberapa jurus cara mengatasi rasa malas agar otak mau diajak bekerja sama.

Menurut sang kreator, otak takut terhadap tugas besar. Karena itu, kuncinya adalah memulai dari langkah kecil. Ia menyarankan untuk berkata pada diri sendiri, “Aku cuma mau ngerjain ini 2 menit aja.”

“Begitu kita mulai, sering kali malah keterusan,” jelasnya. Prinsipnya sederhana: otak benci tugas yang belum selesai. Karena itu, jika sudah memulai, dorongan untuk menuntaskan akan muncul secara alami.

Contohnya, jika ingin olahraga, cukup pakai sepatu dulu. Jika ingin belajar, cukup buka buku dan baca satu paragraf. Dua menit pertama itu kunci untuk menyalakan mesin produktivitas.

Langkah berikutnya dalam cara mengatasi rasa malas adalah sistem hadiah atau reward sandwich. Otak manusia, katanya, seperti anak kecil yang senang diberi imbalan.

“Setiap kali berhasil fokus atau menyelesaikan satu tugas, beri hadiah kecil. Misalnya, selesai kerja boleh nonton satu episode drama atau minum kopi favorit,” ujarnya.

Dengan begitu, otak belajar bahwa bekerja keras akan menghasilkan kesenangan, bukan hanya kelelahan.

Faktor lingkungan juga memegang peran penting. Jika ingin rajin membaca, letakkan buku di tempat yang mudah terlihat. Jika ingin berhenti menunda pekerjaan, jauhkan ponsel dari jangkauan.

“Kita sedang bertarung dengan versi diri sendiri yang paling malas. Jadi, persiapkan lingkungan saat semangat, agar nanti tinggal auto pilot ketika rasa malas datang,” ujarnya.

Salah satu strategi ampuh lainnya adalah menciptakan tekanan sosial positif. Misalnya, mengumumkan target di media sosial: “Minggu ini aku mau belajar Photoshop 1 jam setiap hari.”

Begitu target diumumkan, muncul rasa tanggung jawab dan gengsi jika gagal. Menurutnya, tekanan sosial ini bisa menjadi dorongan alami untuk tetap konsisten.

Sering kali, otak merasa kewalahan bukan karena tugasnya sulit, tapi karena terlihat terlalu besar. Ia menganalogikan pekerjaan besar seperti pizza utuh: kalau dimakan sekaligus, pasti kekenyangan. Tapi kalau dipotong kecil-kecil, terasa lebih mudah.

“Mau nulis laporan 10 halaman? Kerjain dulu satu halaman introduction. Setelah selesai satu bagian, otak akan merasa senang dan termotivasi lanjut ke bagian berikutnya,” katanya.

Bagian terpenting dari cara mengatasi rasa malas adalah mengganti narasi negatif di kepala. Ubah kalimat “Aduh, ini susah banget” menjadi “Ini menantang tapi menarik.” Ganti “Aku enggak bisa” menjadi “Aku belum bisa.”

Menurutnya, otak seperti komputer: apa yang kita input, itu juga yang diproses. Pikiran positif akan menghasilkan aksi positif.

Terakhir, ia menegaskan bahwa tidak semua hari akan berjalan sempurna. Kadang trik-trik ini tidak mempan, dan itu wajar. Yang penting adalah tetap konsisten mencoba lagi.

“Progres itu naik turun seperti roller coaster. Bedanya orang sukses adalah mereka yang terus kembali bangkit setelah gagal,” ujarnya.

Ia menutup video dengan pesan sederhana namun kuat: “Gerak dulu, mood nyusul. Kamu enggak harus sempurna, cukup mulai dua menit saja.”

Editor : Anggi Septian A.P.
#Self Improvement #cara mengatasi rasa malas #psikologi motivasi #tips produktif