BLITAR - Sepak bola kini menjadi olahraga paling populer di dunia. Dari Eropa, Amerika, Afrika hingga Asia, jutaan penggemar rela begadang demi menonton pertandingan klub atau tim nasional kesayangan. Namun, di balik gemerlap turnamen seperti Piala Dunia FIFA, ternyata ada perjalanan sejarah panjang yang menarik — mulai dari permainan prajurit Cina kuno hingga organisasi raksasa yang kerap disorot karena skandal.
Akar Sepak Bola dari Cina dan Dunia Kuno
Catatan tertua tentang sepak bola berasal dari Dinasti Han di Cina pada abad ke-2 hingga ke-3 Masehi. Saat itu, permainan bernama Su-Chu dimainkan oleh para prajurit sebagai latihan fisik. Mereka menendang bola kulit dan berusaha memasukkannya di antara dua batang bambu, tanpa menggunakan tangan.
Permainan serupa juga muncul di Yunani dan Romawi kuno, dikenal dengan nama Episkiros dan Harpastum. Dua tim berusaha membawa bola melewati garis lawan, mirip dengan prinsip dasar sepak bola modern. Meski memiliki bentuk dan aturan berbeda, permainan-permainan ini menunjukkan bahwa sepak bola telah menjadi bagian dari budaya manusia sejak ribuan tahun lalu.
Sepak Bola Barbar di Abad Pertengahan Inggris
Sepak bola modern mulai berakar di Inggris pada abad pertengahan. Kala itu dikenal permainan “Shrovetide Football”, yang bisa dibilang brutal dan tanpa aturan. Dua kelompok besar bertanding membawa bola dari satu titik ke titik lain — bahkan jaraknya bisa mencapai lima kilometer.
Tak jarang permainan ini berujung ricuh, memecahkan jendela rumah warga, hingga memakan korban jiwa. Meski berbahaya, antusiasme masyarakat terhadap permainan ini tak surut. Pemerintah kota seperti London dan Manchester sempat melarangnya pada abad ke-14 dan ke-17, namun larangan tersebut tak bertahan lama.
Lambat laun, permainan ini mulai diterima di sekolah-sekolah Inggris sebagai sarana latihan disiplin dan kerja sama tim. Kepala Sekolah Rugby, Dr. Thomas Arnold, pada 1846 mulai menyusun aturan agar permainan lebih teratur. Dari sinilah muncul dua cabang olahraga: rugby dan sepak bola modern.
Lahirnya Asosiasi dan FIFA
Tonggak sejarah penting terjadi pada 26 Oktober 1863, ketika sebelas klub berkumpul di Freemason’s Tavern, London, untuk mendirikan The Football Association (FA). Mereka menyusun aturan resmi sepak bola yang memisahkannya dari rugby. Sejak saat itu, sepak bola modern mulai berkembang pesat.
Pada 1872, Inggris menggelar FA Cup pertama yang dimenangkan oleh Wanderers FC, dan juga mencatat sejarah pertandingan internasional pertama antara Inggris dan Skotlandia. Popularitas sepak bola pun meluas ke Eropa. Denmark dan Belanda membentuk asosiasi pada 1889, Belgia pada 1895, dan Finlandia pada 1907.
Melihat besarnya minat dunia terhadap sepak bola, sejumlah negara akhirnya sepakat mendirikan organisasi internasional. Pada 21 Mei 1904, di Paris, lahirlah Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dengan Robert Guerin dari Prancis sebagai presiden pertama.
Jules Rimet dan Lahirnya Piala Dunia
Setelah sempat stagnan akibat Perang Dunia I, FIFA bangkit di bawah kepemimpinan Jules Rimet pada 1921. Dialah sosok yang paling berjasa melahirkan turnamen sepak bola terbesar di dunia: Piala Dunia FIFA.
Rimet lebih dulu memasukkan sepak bola ke Olimpiade 1924 dan 1928, sebelum akhirnya menyelenggarakan Piala Dunia pertama di Uruguay tahun 1930. Uruguay yang kala itu menjadi tuan rumah, sukses merebut trofi perdana.
Ketika Sepak Bola dan Politik Bertabrakan
Meski FIFA berulang kali menegaskan bahwa sepak bola harus jauh dari politik, kenyataannya tak semudah itu. Di Spanyol, klub Barcelona kerap dianggap simbol perlawanan budaya Catalan terhadap rezim diktator Francisco Franco yang justru mendukung Real Madrid.
Contoh lain datang dari Afrika Selatan. Presiden FIFA era 1961–1974, Sir Stanley Rous, sempat mendukung rezim apartheid, yang menyebabkan Afrika Selatan diboikot dari banyak ajang internasional.
Skandal Korupsi dan Kontroversi FIFA
Popularitas yang besar membuat FIFA menjadi organisasi berpengaruh, namun juga rentan penyalahgunaan kekuasaan. Kasus korupsi besar mencuat pada era Sepp Blatter, yang bahkan diselidiki oleh FBI. Skandal ini berakar dari kebangkrutan perusahaan International Sport and Leisure (ISL) pada 2001, yang terbukti menyuap FIFA demi hak pemasaran Piala Dunia 2002 dan 2006.
FIFA juga dituding menerima suap dari Jerman dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2006, serta dari beberapa negara lain untuk ajang 2010, 2014, 2018, hingga 2022 di Qatar. Pemilihan Qatar menuai kecaman internasional karena isu pelanggaran hak asasi manusia terhadap pekerja migran.
Piala Dunia Qatar: Penutup Era Para Legenda
Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi yang pertama digelar pada musim dingin, mengingat suhu ekstrem di musim panas. Turnamen ini juga disebut sebagai ajang terakhir bagi dua legenda besar, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, serta pemain top lain seperti Modric, Suarez, dan Lewandowski.
Meski menuai pro-kontra, turnamen ini kembali membuktikan satu hal: sepak bola tetap menjadi magnet yang menyatukan dunia, sekaligus cermin dinamika sosial, politik, dan ekonomi global.