BLITAR - Nama Carlo Ancelotti selalu melekat dalam sejarah panjang AC Milan. Di bawah sentuhan tangan dinginnya, Milan yang sempat terpuruk di akhir dekade 1990-an kembali bangkit menjadi raksasa Eropa. Dua gelar Liga Champions dan satu Scudetto menjadi bukti kejayaan Rossoneri di awal 2000-an — era yang dianggap sebagai salah satu masa paling berkilau dalam sejarah klub.
Kebangkitan dari Masa Suram
Pada pertengahan 1990-an, AC Milan sempat kehilangan arah setelah era kejayaan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Klub yang dulu disegani itu justru terpuruk di klasemen Serie A — bahkan finis di posisi ke-11 pada musim 1996-1997.
Kehilangan sosok legendaris seperti Franco Baresi dan Mauro Tassotti membuat pertahanan Milan rapuh. Presiden klub Silvio Berlusconi pun berganti-ganti pelatih demi mengembalikan kejayaan tim.
Harapan sempat muncul pada musim 1998-1999 saat Alberto Zaccheroni datang dengan formasi 3-4-3 yang membawa Milan meraih gelar Serie A ke-16. Namun, kestabilan itu tak bertahan lama. Zaccheroni dipecat, dan kursi pelatih kembali berputar hingga akhirnya Carlo Ancelotti resmi ditunjuk pada November 2001.
Awal Transformasi di San Siro
Saat datang ke San Siro, Ancelotti mewarisi skuad bertabur bintang namun minim harmoni. Ia pelan-pelan menata ulang sistem permainan Milan dengan pendekatan sabar dan taktik cerdas. Langkah briliannya adalah mengubah peran Andrea Pirlo dari gelandang serang menjadi “regista” — pengatur ritme permainan dari lini tengah.
Dengan dukungan Gattuso, Clarence Seedorf, dan Rui Costa, permainan Milan menjadi lebih hidup. Di lini depan, duet maut Filippo Inzaghi dan Andriy Shevchenko menjelma sebagai mesin gol yang menakutkan.
Kedatangan Alessandro Nesta dan Clarence Seedorf pada musim 2002-2003 memperkuat dua sisi Milan: pertahanan yang solid dan lini tengah yang kreatif. Sementara itu, Dida mulai dipercaya di bawah mistar menggantikan kiper senior.
Keajaiban Liga Champions 2003
Musim 2002-2003 menjadi titik balik karier Ancelotti. Milan tampil luar biasa di Liga Champions — menyingkirkan tim-tim besar seperti Real Madrid, Bayern Munchen, dan Ajax Amsterdam lewat gol dramatis Jon Dahl Tomasson di menit akhir.
Puncaknya tiba di Old Trafford, 28 Mei 2003. Final Liga Champions mempertemukan dua raksasa Italia: AC Milan vs Juventus. Pertandingan berlangsung ketat dan berakhir imbang tanpa gol hingga adu penalti. Dalam momen menegangkan itu, eksekusi tenang Andriy Shevchenko memastikan kemenangan Milan dan mengangkat trofi Liga Champions keenam dalam sejarah klub.
Paolo Maldini menjadi man of the match sekaligus meneruskan warisan ayahnya, Cesare Maldini, yang pernah mengangkat trofi serupa 40 tahun sebelumnya.
Kaka dan Formasi “Pohon Natal”
Setelah sukses besar, Ancelotti memperkuat skuadnya dengan mendatangkan Kaka dari Sao Paulo dan Cafu dari AS Roma pada musim 2003-2004. Kaka langsung memikat publik San Siro lewat teknik brilian dan visi bermainnya yang matang.
Ancelotti kemudian memperkenalkan formasi 4-3-2-1 atau “pohon Natal” — inovasi yang menempatkan Kaka dan Seedorf di belakang striker tunggal. Kombinasi antara kreativitas dan kedisiplinan menjadikan Milan sebagai tim paling seimbang di Eropa.
Musim itu, Milan memastikan gelar Scudetto ke-17 setelah mengalahkan AS Roma 1-0 di San Siro. Dominasi mereka terasa lengkap dengan catatan pertahanan yang hanya kebobolan enam gol dalam empat bulan pertama kompetisi.
Menuju Istanbul dan Luka yang Tak Terlupakan
Musim 2004-2005 menjadi lanjutan ambisi besar Milan. Kedatangan Jaap Stam dan Hernan Crespo semakin memperkuat kedalaman skuad. Shevchenko bahkan dianugerahi Ballon d’Or pada Desember 2004.
Di Liga Champions, Milan melangkah gemilang hingga ke final menghadapi Liverpool di Istanbul. Namun malam itu menjadi tragedi. Setelah unggul 3-0 di babak pertama, Milan kehilangan fokus dan Liverpool berhasil menyamakan skor menjadi 3-3 sebelum menang lewat adu penalti. Kekalahan itu meninggalkan luka mendalam bagi fans Milan di seluruh dunia.
Meski begitu, era Ancelotti tetap dikenang sebagai masa keemasan yang membentuk identitas Milan modern — tim yang elegan, disiplin, dan bermental juara.
Di bawah Ancelotti, AC Milan tidak hanya menjuarai Liga Champions 2003, tetapi juga mengembalikan kebanggaan Rossoneri di kancah Eropa.
Editor : Anggi Septian A.P.