Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Asal Usul Sepak Bola dan Pandangan Islam: Antara Fakta Sejarah dan Hukum Bermain Bola

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Senin, 20 Oktober 2025 | 00:20 WIB
Asal Usul Sepak Bola dan Pandangan Islam: Antara Fakta Sejarah dan Hukum Bermain Bola
Asal Usul Sepak Bola dan Pandangan Islam: Antara Fakta Sejarah dan Hukum Bermain Bola

BLITAR - Sepak bola kini menjadi olahraga terbesar dan paling populer di dunia. Dari stadion megah Eropa hingga lapangan desa, jutaan orang menyaksikan dan memainkan permainan yang satu ini. Namun, di balik gemerlapnya, tak banyak yang tahu bagaimana asal-usul sepak bola dan bagaimana pandangan Islam terhadap olahraga ini.

Bagi sebagian kalangan muslim, muncul perdebatan panjang: apakah sepak bola diperbolehkan atau justru diharamkan? Perbedaan pandangan ini muncul karena sebagian menilai sepak bola mendatangkan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat. Sementara pihak lain beranggapan sebaliknya, bahwa sepak bola dapat menjadi sarana olahraga, kesehatan, bahkan dakwah bila dilakukan dengan benar.

Sejarah dan Asal Usul Sepak Bola

Isu keliru sempat beredar bahwa sepak bola berasal dari peristiwa Perang Uhud — di mana kepala Sayyidina Hamzah dijadikan bola. Pandangan ini dibantah banyak ulama dan sejarawan karena tidak memiliki dasar hukum maupun bukti sejarah yang kuat. Faktanya, menurut berbagai sumber, Sayyidina Hamzah gugur secara syahid setelah ditombak oleh budak suruhan Hindun bernama Washi.

Sejarah mencatat, permainan yang menyerupai sepak bola justru pertama kali muncul di China sekitar 2400 tahun lalu. Dalam catatan kuno, prajurit kekaisaran Cina pada masa itu memainkan permainan bernama Cuju atau Chuju. Mereka menggunakan bola kulit yang diisi bulu dan rambut, lalu digiring menggunakan tongkat untuk dimasukkan ke gawang kecil berbentuk setengah lingkaran.

Permainan ini kemudian menjadi bagian dari latihan fisik militer. Namun, sejumlah ahli menilai permainan tersebut lebih mirip softball ketimbang sepak bola modern.

Sementara versi lain menyebutkan bahwa sepak bola modern lahir di Inggris. Catatan sejarah menyebut permainan ini sudah dikenal sejak abad ke-12 dan semakin populer pada abad ke-14. Berbeda dengan sekarang, kala itu permainan dapat diikuti hingga ribuan orang dalam satu pertandingan.

Dari Inggris ke Dunia

Pada masa Raja Edward III, permainan sepak bola sempat dilarang karena dianggap mengganggu latihan militer menjelang perang dengan Skotlandia. Namun, setelah masa peperangan usai, sepak bola kembali digemari rakyat Inggris.

Di abad ke-18, sepak bola mencapai masa kebangkitan. Melalui para penjajah Inggris, permainan ini menyebar ke berbagai belahan dunia. Aturan main pun mulai dibakukan di Cambridge, melahirkan sistem pertandingan yang lebih tertib — lengkap dengan aturan offside, kartu kuning, penalti, dan pergantian pemain.

Dari sinilah FIFA lahir sebagai badan pengatur sepak bola dunia. Inggris pun dikenal sebagai “negeri kelahiran sepak bola modern.”

Pandangan Islam tentang Sepak Bola

Perdebatan tentang hukum sepak bola dalam Islam tak kalah menarik. Sebagian kecil ulama mengharamkan permainan ini karena dianggap menimbulkan dampak negatif seperti perjudian, tawuran, dan kelalaian dalam beribadah. Bahkan ada anggapan bahwa sepak bola merupakan “produk Yahudi” yang harus dihindari.

Namun, mayoritas ulama membantah pandangan tersebut. Mereka menegaskan bahwa sepak bola pada dasarnya mubah (boleh) selama tidak melibatkan unsur maksiat.

Dalam kitab Bukhyatul Musytak fi Hukmil Lahwi wal La’bi was Sibak, disebutkan bahwa para ulama Syafi’iyah memperbolehkan sepak bola jika tidak ada unsur taruhan. Sebaliknya, jika permainan disertai judi atau taruhan, hukumnya menjadi haram.

Sementara itu, As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitab Buluhul Ummiyah menjelaskan bahwa hukum bermain sepak bola boleh dengan dua syarat utama: pertama, permainan harus bersih dari judi; kedua, sepak bola diniatkan sebagai sarana olahraga untuk menjaga ketahanan fisik dan kesehatan agar dapat beribadah dengan baik.

Syarat dan Batasan Menurut Ulama

Syekh Abu Bakar Al-Jazairi dalam Minhajul Muslim menambahkan, bermain sepak bola boleh dilakukan asalkan memenuhi beberapa etika: tidak membuka aurat, tidak menunda salat, menjauhi gaya hidup berlebihan, dan menjaga ucapan dari cacian atau makian di lapangan.

Dengan demikian, menonton pertandingan sepak bola pun diperbolehkan, asalkan tidak disertai judi, tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan tanpa batasan syar’i, dan tidak melanggar norma agama lainnya.

Artinya, sepak bola hanyalah sarana hiburan dan olahraga, bukan urusan aqidah. Islam tidak melarang olahraga apa pun selama tidak melanggar prinsip syariat. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menjaga kebugaran melalui olahraga yang bermanfaat.

Sepak Bola dan Spirit Kehidupan

Sebagai bagian dari peradaban modern, sepak bola telah menjadi simbol persaudaraan antarbangsa. Negara-negara muslim pun ikut berpartisipasi di kancah dunia, seperti Qatar, Arab Saudi, Maroko, dan Iran. Keberhasilan Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 menjadi bukti bahwa umat Islam pun mampu berprestasi di dunia sepak bola.

Dengan memahami sejarah dan hukum Islam tentang sepak bola, kita diingatkan untuk bersikap bijak: mencintai sepak bola sewajarnya, bukan berlebihan. Olahraga ini boleh menjadi sarana silaturahmi dan kesehatan, asalkan tetap menjaga iman dan adab di atas segalanya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#asal usul sepak bola #sepak bola dan Islam #Pandangan ulama #hukum sepak bola dalam Islam #Sejarah Sepak Bola