Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Rasa Manis yang Pahit: Bagaimana Gula dalam Apple Strudel Terhubung dengan Perbudakan dan Kolonialisme Eropa

Rahma Nur Anisa • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 15:00 WIB

makanan seperti Apple Strudel kemudian digunakan sebagai simbol
makanan seperti Apple Strudel kemudian digunakan sebagai simbol

BLITAR KAWENTAR - Setiap sendok gula yang ditaburkan di atas Apple Strudel menyimpan jejak kelam kolonialisme. Di balik kelezatan kue ikonik Austria ini, terdapat sejarah perbudakan, eksploitasi, dan ketidakadilan global yang jarang diungkap dalam buku-buku resep atau panduan wisata kuliner.

Pada abad ke-18, ketika Apple Strudel mulai populer di kedai-kedai kopi Wina, gula merupakan komoditas paling berharga di dunia. Namun, gula bukan berasal dari Eropa. Hampir seluruh pasokan gula datang dari perkebunan tebu di Karibia, Amerika Selatan, dan wilayah tropis lainnya yang dikuasai oleh kekuatan kolonial Eropa.

Perkebunan-perkebunan ini dibangun di atas sistem perbudakan yang brutal. Jutaan orang Afrika dipaksa melintasi Samudra Atlantik dalam kondisi mengerikan banyak yang meninggal di perjalanan untuk bekerja di ladang tebu tanpa upah, tanpa hak, dan tanpa harapan kebebasan.

Sejarawan pangan Jerman pernah menyatakan bahwa "di balik setiap kemewahan selalu ada seseorang yang membayar harga sebenarnya." Dalam konteks Apple Strudel, harga itu adalah nyawa dan kebebasan jutaan orang yang bahkan tidak pernah merasakan manisnya gula yang mereka produksi.

Sementara orang-orang kaya Wina duduk di kedai kopi mewah sambil menikmati strudel dan kopi, mereka jarang memikirkan asal-usul bahan yang mereka konsumsi. Gula, kopi, cokelat semua komoditas eksotis ini adalah hasil dari sistem kolonial yang menghisap kekayaan dan tenaga kerja dari benua lain.

Kekaisaran Habsburg, meskipun tidak memiliki koloni besar seperti Inggris atau Prancis, tetap menjadi beneficiary (penerima manfaat) dari sistem perdagangan global ini. Wina, sebagai ibu kota kekaisaran, menjadi pusat distribusi barang-barang kolonial yang masuk ke Eropa Tengah.

Ironisnya, makanan seperti Apple Strudel kemudian digunakan sebagai simbol "peradaban tinggi" Austria. Poster wisata dan propaganda pemerintah menampilkan strudel dan kopi sebagai bukti bahwa Austria adalah bangsa yang maju dan beradab. Namun, peradaban ini dibangun di atas penderitaan orang lain.

Pada awal abad ke-19, Eropa mulai memproduksi gula dari bit gula (sugar beet) sebagai alternatif dari tebu impor. Penemuan ini sering dipuji sebagai terobosan yang mengurangi ketergantungan Eropa pada koloni.

Namun, produksi gula bit tidak sepenuhnya menghentikan eksploitasi. Ladang-ladang bit di Eropa Timur sering kali dikelola dengan tenaga kerja murah dari petani miskin yang hidup dalam kondisi hampir seperti budak. Selain itu, produksi gula bit memerlukan tanah yang luas, yang dalam banyak kasus diambil dari komunitas lokal tanpa kompensasi yang adil.

Yang lebih penting, meskipun gula bit mengurangi perbudakan di Karibia, sistem kolonial secara keseluruhan tetap bertahan. Kekuatan Eropa terus mengeksploitasi koloni mereka untuk komoditas lain seperti kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet.

Pada akhir abad ke-19, Kekaisaran Habsburg menggunakan makanan sebagai alat propaganda untuk memperkuat identitas nasional dan superioritas budaya mereka. Apple Strudel, bersama dengan kopi Wina dan musik klasik, dipromosikan sebagai simbol dari "peradaban Austria yang unggul."

Propaganda ini memiliki dua tujuan. pertama, menyatukan berbagai etnis di dalam kekaisaran di bawah identitas Austria yang tunggal; kedua, menunjukkan kepada dunia bahwa Austria adalah bangsa yang beradab dan layak dihormati.

Namun, di balik citra manis ini, ada realitas pahit. Banyak rakyat di wilayah pinggiran kekaisaran terutama di Balkan dan Eropa Timur hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Mereka memproduksi bahan mentah untuk makanan mewah seperti strudel, tetapi jarang mendapat kesempatan untuk menikmatinya.

Bahkan di dalam Wina sendiri, Apple Strudel menjadi simbol kesenjangan kelas. Strudel yang disajikan di istana menggunakan apel segar impor, mentega premium, dan rempah-rempah mahal dari seluruh dunia. Sementara itu, strudel yang dimakan oleh rakyat jelata dibuat dari apel sisa, roti basi, dan lemak murah.

Proses pembuatan strudel juga mencerminkan hierarki sosial. Adonan yang harus ditarik hingga setipis kain memerlukan keahlian dan kesabaran. Pekerjaan ini hampir selalu dilakukan oleh perempuan pembantu rumah tangga atau pekerja dapur sementara kaum bangsawan tinggal duduk dan menikmati hasilnya. Dengan kata lain, bahkan di dalam dapur, kekuasaan dan eksploitasi tetap berlangsung.

Hingga hari ini, diskusi tentang sejarah kelam komoditas seperti gula jarang muncul dalam konteks kuliner. Ketika orang berbicara tentang Apple Strudel, mereka fokus pada resep, teknik memasak, dan kelezatan bukan pada sejarah perbudakan dan kolonialisme yang membuatnya menjadi mungkin.

Namun, memahami sejarah ini penting. Bukan untuk membuat orang merasa bersalah setiap kali makan kue, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa banyak aspek kehidupan modern yang kita anggap normal sebenarnya dibangun di atas ketidakadilan.

Beberapa koki dan sejarawan kuliner kini mulai mengangkat isu ini. Mereka mendorong konsumen untuk lebih sadar tentang asal-usul bahan makanan mereka dan mendukung praktik pertanian yang adil dan berkelanjutan.

Apple Strudel adalah kue yang indah dan lezat. Tetapi seperti banyak aspek budaya Eropa, ia memiliki sejarah ganda. Manis di permukaan, pahit di akarnya. Memahami sejarah ini tidak berarti kita harus berhenti menikmati strudel, tetapi kita harus melakukannya dengan kesadaran penuh.

Seperti yang dikatakan sejarawan pangan, makanan adalah cerminan dari siapa kita. Konflik kita, kegembiraan kita, dan luka kita. Apple Strudel adalah pengingat bahwa bahkan hal-hal paling manis dalam hidup memiliki harga yang harus dibayar oleh seseorang, di suatu tempat, di suatu waktu. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kue #pastry apple strudel #pastry #sejarah makanan #strudel