Perjalanan Panjang Apple Strudel yang Jadi Saksi Sejarah Eropa Tengah
Rahma Nur Anisa• Sabtu, 1 November 2025 | 14:00 WIB
Komposer Gustav Mahler pernah berkata,
BLITAR KAWENTAR - Di balik kelezatan lapisan-lapisan tipis pastri yang renyah dan isian apel manis bercampur kayu manis, Apple Strudel menyimpan jejak sejarah panjang yang merentang dari Timur Tengah hingga jantung Eropa. Kue ikonik Austria ini bukan sekadar hidangan penutup, melainkan saksi bisu pergolakan kekuasaan, perang, dan transformasi identitas bangsa.
Bertentangan dengan anggapan umum, Apple Strudel tidak lahir di Austria. Akar kue ini dapat ditelusuri hingga ke Istanbul, Turki, ratusan tahun sebelum orang Wina mengenalnya. Baklava, kue berlapis tipis berisi kacang dan madu, menjadi cikal bakal teknik pembuatan adonan super tipis yang disebut yufka.
Teknik ini menyebar ke Eropa Tengah melalui jalur perdagangan dan konflik berkepanjangan antara Kekaisaran Otoman dan Kekaisaran Habsburg. Orang Hungaria menyebutnya retes, sementara orang Ceko memiliki versi tersendiri. Resep tertua yang tercatat berasal dari tahun 1696, disimpan di perpustakaan kota Wina dengan nama Milchrahmstrudel atau Strudel Susu.
Kata "strudel" sendiri berasal dari bahasa Jerman abad pertengahan yang berarti "pusaran" atau "gelombang", merujuk pada pola berlapis-lapis yang muncul saat kue dipotong.
Memasuki abad ke-18, Wina menjadi pusat kebudayaan dunia berkat dua komoditas: kopi dan gula. Kedai kopi (coffee house) bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang publik yang menyatukan politikus, penyair, jurnalis, hingga mahasiswa. Di sinilah Apple Strudel menemukan tempatnya sebagai "bahasa netral" yang dapat dinikmati semua kalangan.
Penulis Stefan Zweig pernah mengatakan bahwa kedai kopi Wina adalah tempat orang duduk berjam-jam hanya dengan segelas kopi, tempat kebebasan terasa bahkan sebelum politik memahami artinya. Apple Strudel menjadi bagian integral dari identitas Austria di meja-meja tersebut.
Namun, kualitas strudel sangat bergantung pada status sosial. Di istana, strudel dibuat dengan apel segar, mentega mahal, dan rempah impor. Sementara di rumah rakyat jelata, strudel dibuat dari apel sisa dan roti basi.
Di balik kelezatan Apple Strudel, terdapat sejarah kelam yang jarang diungkap. Gula, bahan utama kue ini, berasal dari koloni di Karibia yang diproduksi melalui kerja paksa dan perbudakan. Sejarawan pangan Jerman mengungkapkan bahwa "di balik setiap kemewahan selalu ada seseorang yang membayar harga sebenarnya."
Setiap potongan Apple Strudel di Wina pada abad ke-18 dapat dikatakan dibayar dengan keringat orang-orang yang bahkan tidak pernah mencicipinya. Kue ini menjadi simbol kontradiksi manis di permukaan, pahit dalam sejarahnya.
Saat Perang Dunia I dan II, bahan-bahan seperti gula, mentega, dan apel menjadi langka. Rakyat Austria terpaksa membuat versi darurat dengan mengganti apel menggunakan lobak atau kentang. Gula diganti sirup bit, mentega diganti lemak babi. Versi ini disebut Kriegsstrudel atau Strudel Perang.
Ironisnya, justru di masa kelam inilah strudel semakin populer. Ketika segalanya runtuh, satu hal yang masih dimiliki orang Austria adalah rasa manis dari masa lalu sebuah penghiburan di tengah kehancuran.
Setelah Kekaisaran Habsburg bubar, Austria kehilangan wilayah dan kekuasaan politik. Untuk menyatukan identitas nasional, pemerintah mengangkat budaya sebagai pilar utama. Apple Strudel dijadikan ikon nasional melalui pariwisata, kartu pos, film, dan poster pemerintah dengan slogan "Kunjungi Wina, kota kopi dan strudel."
Kue ini bukan lagi sekadar makanan, tetapi wajah baru Austria yang ingin tampil damai dan manis setelah dunia mengetahui sisi kelamnya.
Memasuki era 1960-an, industri makanan beku mengubah cara produksi strudel. Kue yang dulu dibuat dengan sabar dan keahlian tangan kini diproduksi massal, dibungkus plastik, dan dijual cepat. Generasi tua merasa kehilangan sesuatu aroma dapur, sentuhan tangan yang menipiskan adonan, dan kesabaran dalam proses pembuatan.
Komposer Gustav Mahler pernah berkata, "Tradisi bukan menyembah abu, tetapi menjaga api." Api itu mulai padam ketika mesin mengambil alih peran manusia.
Apple Strudel adalah lebih dari sekadar kue. Ia adalah catatan hidup tentang perang, kerja keras, kolonialisme, dan cinta pada hal-hal kecil yang membuat hidup terasa manusiawi. Di Austria modern, masih ada keluarga yang membuat strudel dengan cara tradisional menarik adonan hingga setipis kain di atas meja kayu sebagai cara menjaga identitas dan menghormati sejarah.
Jadi, saat Anda menikmati sepotong Apple Strudel di kafe, ingatlah di balik manisnya ada tangan yang lelah, sejarah yang pahit, dan bangsa yang belajar menutupi luka mereka dengan taburan gula halus. (*)