BLITAR - Di tengah pesatnya arus mode global dan tren berpakaian instan, semangat pelestarian batik justru terus tumbuh lewat tangan-tangan kreatif generasi muda. Salah satunya datang dari Silvia Kusuma, Dewi Duta Batik Indonesia asal Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, yang memadukan nilai tradisi dengan inovasi warna dan desain modern.
Sebagai representasi generasi Gen Z, Silvia sadar betul bahwa menjaga batik tidak cukup dengan memakainya di acara formal semata. Ia memilih langkah berbeda, melestarikan batik lewat kreasi, inovasi, dan advokasi publik.
Melalui gerakan bertajuk “Berkreasi: Berbatik Keren Bersama Silvia”, ia gencar mengedukasi masyarakat bahwa batik bisa tampil trendi dan relevan di era digital.
Sejak akhir 2024, Silvia mulai berani “memecah pakem” batik tradisional dengan menampilkan warna-warna mencolok seperti pink fusia, ungu, kuning, dan biru pastel. Ia mengubah batik yang dulu lekat dengan kesan tua dan formal menjadi busana kasual, pesta, hingga aksesori yang digemari anak muda. “Batik itu tak harus gelap dan kaku. Ia bisa cerah, ceria, tapi tetap berkarakter,” ujarnya.
Langkah berani itu bukan hanya sukses secara bisnis lewat Silvia Collection, melainkan juga berdampak sosial. Pembatik lokal yang semula ragu mencoba warna-warna baru, kini mulai mengikuti jejaknya.
Salah satu pembatik bahkan mengaku terinspirasi dari karya Silvia saat membuat kain merah muda yang akhirnya dipakai Silvia di ajang kompetisi nasional.
Selain inovasi produk, Silvia juga menekankan pentingnya advokasi batik kepada generasi muda. Ia rutin menggelar pelatihan modeling dan public speaking sambil menyisipkan nilai-nilai budaya dalam setiap kelasnya.
Bahkan, dalam tugas perdananya sebagai Duta Batik Indonesia, Silvia mengajak anak-anak taman kanak-kanak mengenal motif batik lewat permainan dan peragaan sederhana.
Baginya, pelestarian batik bukan sekadar kebanggaan, melainkan tanggung jawab moral. “Kita harus berinovasi tanpa melupakan akar tradisi. Itulah cara agar batik tetap hidup di masa depan,” tegas perempuan 21 tahun itu.
Lewat kreativitas dan semangat digital, Silvia membuka jalan baru bagi regenerasi batik Indonesia, menjadikannya bukan hanya simbol masa lalu, melainkan ikon masa depan yang hidup, berwarna, dan membanggakan. “Batik bukan warisan untuk disimpan, tapi untuk terus dikembangkan,” pungkasnya yakin. (mg3/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah