BLITAR KAWENTAR - Dunia tari bukan hal baru bagi Eka Indriani, penari Carnelian yang akrab disapa Cio. Dara ayu warga Desa Bendowulung, Kecamatan Sanankulon, Blitar itu mengaku telah mencintai panggung sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).
Tak jarang sejak kecil tampil dari panggung satu ke panggung lain.
“Saya sudah suka menari sejak kecil. Dari TK sudah ikut tampil di acara perpisahan. Mulai ikut kompetisi rutin itu baru SMP. Syukurnya sampai saat ini bisa bergabung dengan Carnelian,” tutur Cio saat ditemui Jawa Pos Radar Blitar, Jumat (14/11/2025).
Menurutnya, sejak SD dia sudah diarahkan orang tuanya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari tradisional.
Namun intensitasnya baru meningkat ketika memasuki jenjang SMP.
Di masa itu dia mulai menjajal kompetisi dan mengenal dunia modern dance.
Perempuan 27 tahun itu awalnya mempelajari tari tradisional dulu. Baru SMP mulai kenal modern dance karena ada komunitas kecil di sekolah. Isinya anak-anak yang suka hip hop dan dance modern yang menjadi modal masuk grup musik Carnelian.
Masuk SMA, perjalanan karier Cio semakin luas. Dia selalu bergabung dengan komunitas tari yang fokus pada Korean dance.
Dari situlah, dia mulai sering tampil hingga mengikuti berbagai kompetisi di luar kota.
“Alhamdulillah pernah beberapa kali juara. Kompetisinya seringnya di Malang, Sidoarjo, dan Surabaya. Project Korean dance biasanya berjalan sekitar 6 bulan, lalu kami ganti konsep biar tidak bosan,” ungkapnya.
Masuknya Cio ke grup Carnelian bermula dari ajakan temannya, Putri, yang mengetahui bahwa dia sedang tidak aktif di project Korean dance. Menurutnya, Putri mengetahui jika Cio sedang vakum dari project.
Baca Juga: Uang Pensiun Suami Termasuk Harta Warisan? Begini Penjelasan Buya Tentang Hak Istri dan Ahli Waris
Menurut Cio, memindahkan fokus dari Korean dance ke Japanese dance tidak terlalu sulit. Hanya jenis event-nya yang berbeda.
Maka dari itu, dia langsung mahir dan cepat adaptasi dalam mempelajari tarian tersebut.
“Dia ajak saya buat coba dance Jepang. Dari situ terbentuk Carnelian. Awalnya cuma bertiga, saya, Putri, dan Ceri. Nama Carnelian itu juga sebenarnya asbun saja, asal sebut. Kalau Korean, kita seringnya lomba. Kalau Japanese lebih banyak ngisi event,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah