BLITAR - Ezzane Martasya, Ayunda Tara dan Eva Yulianti siswa kelas XII SMK Negeri 3 Blitar sukses memukau penonton dalam ajang Malang Fashion Week (MFW) 2025. Lewat karya desain busananya, mereka menghadirkan konsep unik bertajuk "Nocpielle" dengan tema Vampire Gothic Classic. Terinspirasi dari film-film vampir era 1990-an.
Ya, trio desainer muda ini menjadi satu-satunya tim yang membawa konsep ”horror” tersebut. Harapannya agar karya mereka mudah dikenali di antara peserta lainnya. Meski harus menghadapi berbagai tantangan, mereka tetap mampu menyelesaikan karya tepat waktu dan tampil memukau di panggung fashion bergengsi tersebut.
Debut Ezzane dkk di ajang fashion dimulai tahun lalu atau 2024. Sebagai siswa SMK Negeri 3 Blitar, dia berpartisipasi dalam Malang Fashion Week melalui kegiatan sekolah yang dilaksanakan secara serentak. Ajang tersebut menjadi pintu masuk baginya untuk memahami dinamika dunia fashion show.
Pada 2025, Ezzane kembali ke panggung Malang Fashion Week. Kali ini, ia tampil bersama Ayunda Tara dan Eva Yulianti sebagai satu tim. Kolaborasi tersebut memberikan pengalaman berbeda. Mulai dari proses persiapan hingga tampil di panggung yang lebih besar.
"Kami terinspirasi dari film Vampire tahun 1990-an. Itu menjadikan baju kami bertema 'Nocpielle' Vampire Gothic Classic," ujar gadis 17 tahun ini.
Pemilihan tema Vampire Gothic Classic bukan tanpa alasan. Era 1990-an dikenal dengan penggambaran vampir yang elegan dan misterius. Estetika yang jarang diangkat desainer muda saat ini. Keputusan tersebut terbukti tepat. "Tim kami satu-satunya yang membawa konsep seperti ini, jadi lebih mudah untuk menunjukkan ciri khas dan identitas desain kami saat tampil," ungkap Ezzane.
Di tengah puluhan peserta dengan beragam tema, "Nocpielle" berhasil menonjol karena keberanian menghadirkan sesuatu yang berbeda. Busana mereka menggabungkan elemen khas vampir yang bernuansa warna gelap, detail dramatis, dan siluet anggun namun misterius.
Manajemen waktu menjadi kendala besar bagi mereka, mengingat akhir tahun di sekolah mereka yang mengharuskan mengikuti PKL. "Tantangannya cukup terasa, tapi kami tetap berusaha menyelesaikan semuanya tepat waktu," tutur Ezzane.
Persiapan matang sejak awal membantu kelancaran produksi. "Untuk bahan dan detailnya, karena semua sudah terkonsep rapi dan melakukan analisis tempat belinya, jadi puji Tuhan cukup mudah dapatnya," katanya.
"Harapan saya untuk para desainer muda di luar sana adalah agar mereka terus berani mengeksplorasi kreativitas tanpa takut gagal. Dunia fashion selalu berkembang, dan setiap ide baru punya peluang untuk menjadi sesuatu yang berarti.
Jadi tetaplah konsisten belajar, terbuka pada kritik, dan jangan pernah menyerah meskipun prosesnya melelahkan. Percaya bahwa karya kalian punya cerita dan nilai yang patut dibagikan," tuturnya, lantas tersenyum.(*/c1/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah