BLITAR - Gugun Arief mendirikan Wlingiwood Filmmakers pada 18 April 2014 bersama rekan-rekan produksi film Sandera di Wlingi, Blitar. Selama 11 tahun, komunitas dengan 100-an anggota dari berbagai kota ini mencetak prestasi gemilang. Dari finalis Festival Sinema Prancis, Piala Maya, hingga festival internasional seperti Toronto Reel Asian dan CinemAsia Netherlands.
"Ironis kan? Film-film kami lebih dikenal di luar Blitar daripada warganya sendiri," ujar Gugun Arief, pendiri Wlingiwood Filmmakers, kepada Jawa Pos Radar Blitar, membuka perbincangan.
Komunitas ini lahir pada 18 April 2014 dari kebiasaan nongkrong pasca syuting film Sandera. Gugun bersama Betet Kunamsinam, Anestri Sulanjari, Mbeno Aji Putro, Novan Coklat, dan rekan lainnya membentuk wadah inklusif. Siapa pun yang terlibat produksi dan namanya tercantum di kredit film otomatis menjadi warga Wlingiwood.
Kini, mereka memiliki 100-an anggota dari Blitar, Bogor, Jakarta, Jogjakarta, dan kota lain.
Prestasi gemilang mengikuti. EXAM SUICIDE meraih juara 2 FLS2N Provinsi Jawa Timur 2014. BID & RUN karya Gugun masuk finalis Festival Sinema Prancis 2015. ANXIETUS DOMICUPUS menyapu Piala Maya 2021, Gajah Emas Award 2022, dan Garudamukha Award 2022.
"Sejak 2020, prestasi dari warga Wlingiwood sudah berlevel nasional," ucap pria kelahiran 80-an itu.
Karya-karya mereka diputar di Toronto Reel Asian, CinemAsia Netherlands, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, hingga Jagran Film Festival Mumbai. "Ini festival beneran ya, bukan festival abal-abal," tegasnya, terkekeh.
Puncaknya pada 2022. Production house Gugun memproduksi PECEL KRONIKEL sebagai partner Palari Films Jakarta dengan kru dari Wlingiwood. "Ini salah satu film pendek berbujet terbesar di Indonesia. Syutingnya di Pantai Gondomayit. Artinya, orang kabupaten pun diperhitungkan di industri perfilman nasional," ungkapnya.
Wlingiwood tidak hanya produksi. Program mereka mencakup edukasi, workshop penulisan skenario, bahkan pendanaan film pendek hasil patungan anggota.
Sejak dua tahun lalu, Bioskop Nanocinema digelar rutin setiap bulan dengan kegiatan berupa pemutaran film dan diskusi. "Wlingiwood itu salah satu komunitas perfilman paling aktif selama 10 tahun lebih di seluruh Indonesia," klaim Gugun.
Baca Juga: Momen Libur Nataru, Naik KA Brantas-Singasari dari Blitar Dapat Diskon 30 Persen, Ini Ketentuannya
Regenerasi menjadi kekhawatiran terbesar. "Senior-senior sudah lebih sibuk, ada yang pindah kota, anggota generasi mudanya kurang," ungkap Gugun. Hanya tiga orang yang tinggal di Blitar dan masih aktif di film.
Kritik tajam muncul terhadap mentalitas sebagian warga Blitar yang cenderung apatis, tidak inisiatif, dan tak konsisten. Anak-anak Blitar memiliki potensi kecerdasan namun terbatas beraksi di lingkaran sendiri.
Dukungan pemerintah daerah masih minim, bahkan kesadaran akan ekosistem perfilman belum terbentuk. "Harapan saya, kita sebagai wong mBlitar mau mengarahkan karya ke luar. Biar validasinya juga bukan dari konco-konco dewe. Jangan terlalu bangga pada jargon karya anak Blitar jika belum sampai ke luar," tegasnya.
Dari Wlingi, mereka membuktikan geografi bukan batasan. Yang dibutuhkan hanya konsistensi, inisiatif, dan keberanian mencari validasi lebih luas.(*/c1/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah