BLITAR-Pesan keagamaan kembali disampaikan Gus Iqdham dalam cuplikan kajiannya bertema “Jangan Nunggu Hidup Berantakan Baru Inget Ngaji!”. Dalam kesempatan tersebut, sang dai menekankan pentingnya ngaji sebagai cara menjaga hati agar tetap hidup, bersih, dan tidak dikuasai sifat-sifat batin yang merusak. Menurutnya, banyak orang baru ingat ibadah setelah hidup mereka porak-poranda, padahal menjaga hati sejak awal merupakan kunci keselamatan dunia dan akhirat.
Gus Iqdham menjelaskan bahwa hati adalah pusat dari seluruh perilaku manusia. Jika hati sakit—penuh iri, dengki, hasad, dan keburukan lainnya—maka aktivitas positif akan mudah terbengkalai. Karena itu, ia mengajak jamaah untuk terus menghadiri majelis taklim, memperbanyak zikir, serta mengisi hati dengan ilmu dan hikmah.
Dalam kajiannya, ia mengutip Imam Ghazali bahwa “makanan hati adalah ilmu.” Ketika hati terisi ilmu, ibadah akan terasa ringan. Sebaliknya, hati yang kronis akan membuat seseorang jauh dari nikmat Allah. Kondisi inilah yang sering membuat orang hanya ingat ngaji saat hidup mulai kacau.
Organ Tubuh Akan Bersaksi di Akhirat
Di tengah cerahnya suasana pengajian, Gus Iqdham menegaskan peringatan serius: pada hari kiamat, mulut manusia akan dikunci. Organ tubuh seperti tangan dan kaki akan bersaksi mengenai apa yang pernah dilakukan selama hidup.
Ia mencontohkan: tangan akan ditanya pernah memegang apa; kaki akan ditanya pernah melangkah ke mana. Karena itu, menghadiri majelis, membaca selawat, zikir, atau menggunakan gawai untuk hal-hal baik merupakan cara “menzakati” organ tubuh.
“Besok tangan dan kaki akan berbicara sendiri,” tegasnya.
Berkah Majelis: Menyadarkan Tanpa Menyindir
Gus Iqdham juga menyoroti fenomena orang yang mudah merasa paling benar, paling suci, dan sulit dikritik. Menurutnya, banyak yang semangat menghakimi orang lain, tetapi tidak siap ketika dirinya sendiri dinilai.
“Kriteria dajjal itu rumangsa paling bener,” ujarnya.
Ia menambahkan, majelis ilmu justru berfungsi membersihkan hati dari sifat-sifat seperti itu. Ketika kiai menyampaikan materi dan terasa “pas” dengan keadaan diri sendiri, bukan berarti sedang menyindir, melainkan hati sedang diberi petunjuk untuk berubah.
Cara Membersihkan Hati Menurut Imam Ghazali
Dalam kitab Minhajul Arifin, Imam Ghazali menyebutkan bahwa setiap bagian tubuh memiliki zakat. Zakat hati dilakukan dengan cara tafakur—merenungi kebesaran Allah, kekuasaan-Nya, serta nikmat yang diberikan.
Gus Iqdham menyebut tafakur sebagai proses duduk tenang, menikmati kopi, merokok, lalu merenungi betapa besar kasih sayang Allah. “Minimal ucapkan Alhamdulillah,” katanya.
Dengan tafakur, seseorang akan masuk pada tingkat makrifat hingga melahirkan rasa takut kepada Allah. Orang yang memiliki rasa takut ini tidak mudah merendahkan orang lain dan selalu menjaga ucapan serta perilakunya.
Zakat Mata: Menjaga Pandangan dari Hal Negatif
Selain hati, mata juga memiliki zakat. Menurut Gus Iqdham, memandang ulama dan orang saleh termasuk ibadah. Karena itu, menghadiri majelis tidak hanya menghidupkan hati, tetapi juga menyehatkan pandangan.
Ia mengingatkan agar mata tidak digunakan melihat hal-hal yang memicu maksiat atau fitnah. “Kadang kucing dicepaki gereh (ikan asin), yo langsung sikat. Nek mripatmu dicepaki aurat wong, hasilé yo podo wae,” candanya, disambut tawa jamaah.
Rombongan Jamaah dari Berbagai Daerah
Kajian tersebut juga dihadiri jamaah dari berbagai daerah, termasuk Boyolali, Tulungagung, hingga Samarinda. Beberapa datang berombongan dengan bus travel dan sudah duduk sejak pagi.
Gus Iqdham menyambut para tamu tersebut dengan hangat, menanyakan asal daerah, pekerjaan, hingga memberikan kenang-kenangan seperti kerudung dan parfum dari donatur. Suasana pengajian pun berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan.
Jangan Menunggu Hidup Jatuh untuk Kembali Ngaji
Menutup kajian, Gus Iqdham kembali memperingatkan jamaah agar tidak menunda ngaji. Menurutnya, fungsi ngaji bukan hanya memahami hukum agama, tetapi juga menjaga hati, perilaku, dan organ tubuh agar siap dipertanggungjawabkan kelak.
“Ngaji itu menzakati hati, mata, telinga, sampai lisan,” ujarnya. Ia mengajak semua jamaah membiasakan tafakur, zikir, serta memperbaiki perilaku agar hidup tidak terjerumus pada kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Editor : Ichaa Melinda Putri