BLITAR – Potongan video ceramah syukur Gus Iqdam kembali viral di media sosial. Dalam ceramah yang berlangsung di sebuah majelis sholawat itu, Gus Iqdam menyampaikan pesan mendalam tentang makna bersyukur, kekuatan sholawat, dan cara mengadu kepada Allah yang benar. Pesan tersebut langsung memantik perhatian ribuan warganet lantaran dianggap menyentuh realitas kehidupan masyarakat.
Sejak diunggah ulang di berbagai platform, ceramah syukur Gus Iqdam banyak dikomentari netizen. Ceramah itu menyoroti kebiasaan manusia yang kerap menunggu “nikmat besar” untuk bersyukur, padahal seharusnya syukur dimulai dari hal kecil. Menurut Gus Iqdam, orang yang mampu mensyukuri nikmat kecil, justru akan dipermudah datangnya nikmat yang jauh lebih besar.
Pada bagian awal ceramahnya, Gus Iqdam mengajak jamaah menjadikan majelis sebagai sarana bersyukur. Majelis bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang untuk “curhat” kepada Allah. Dalam pandangannya, bersyukur tidak selalu identik dengan harta, melainkan juga dengan kesehatan, kesempatan hadir di majelis, serta kemampuan berzikir dan bersholawat.
Sholawat sebagai Kendaraan Doa
Salah satu bagian yang menjadi sorotan dalam ceramah tersebut adalah penjelasan Gus Iqdam tentang sholawat. Ia menegaskan, selawat merupakan kendaraan terbaik untuk doa. Tanpa sholawat, doa ibarat “menggantung” di langit karena terhalang hijab.
Menurutnya, banyak orang merasa doanya tidak segera dikabulkan, mulai dari masalah rezeki hingga utang-piutang. Namun, sering kali mereka lupa satu kunci penting, yakni sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan bersholawat, hijab doa terbuka, dan permohonan akan lebih cepat tersampaikan kepada Allah.
Gus Iqdam mengilustrasikan doa tanpa sholawat seperti balon yang melayang, tetapi tidak pernah sampai tujuan. Sebaliknya, ketika doa dibalut dengan sholawat, ibarat kendaraan yang melaju menuju “pusat pengabulan”.
Setiap Orang Punya Cara Bersyukur
Dalam ceramahnya, Gus Iqdam juga menekankan bahwa bentuk syukur tiap orang tidak sama. Ada yang bersyukur dengan sedekah, ada yang dengan ilmu, ada yang dengan tenaga, ada pula dengan bakat dan profesinya.
Ia mencontohkan sosok seorang dermawan yang menyumbang perlengkapan majelis hingga ratusan juta rupiah. Bagi Gus Iqdam, tindakan tersebut merupakan wujud nyata syukur atas rezeki yang diberikan Allah. Tetapi di sisi lain, orang yang tidak mampu secara ekonomi tetap bisa bersyukur melalui hal lain, seperti membantu majelis, merawat fasilitas, atau sekadar istiqamah hadir mengaji.
Pesan ini menegaskan bahwa syukur bukan soal nominal, melainkan soal ketulusan. Setiap nikmat harus digunakan untuk kebaikan, apa pun bentuknya.
Ngaji Tanda Dikehendaki Allah
Bagian lain yang tak kalah menyentuh adalah pernyataan bahwa orang yang mau mengaji adalah mereka yang dikehendaki Allah menjadi pribadi baik. Gus Iqdam mengutip hadis, bahwa siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka akan diberi pemahaman tentang agama.
Ia menyebut, tidak semua orang diberi hidayah untuk duduk di majelis. Karena itu, jamaah diminta tidak meremehkan kehadiran diri sendiri. Sekadar duduk mendengarkan ilmu sudah merupakan nikmat besar.
Jangan Tunggu Kaya untuk Bersyukur
Dalam penutupan ceramahnya, Gus Iqdam menegaskan: jangan menunggu kaya untuk bersyukur. Banyak orang menunda ibadah dengan alasan “nanti kalau sudah mapan”. Padahal, Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang tidak bisa mensyukuri hal kecil, tidak akan mampu mensyukuri nikmat besar.
Bersyukur bisa dimulai dari bangun tidur dalam keadaan sehat, masih bisa salat, masih mendapatkan rezeki meski kecil. Dari situlah Allah akan menambah nikmat yang lebih besar.
Pesan ceramah itu pun ditutup dengan doa agar jamaah diberi keberkahan, kesehatan, rezeki yang luas, serta istiqamah dalam menuntut ilmu. Tak heran jika ceramah syukur Gus Iqdam menjadi bahan renungan banyak orang dan terus dibagikan di berbagai platform digital.
Editor : Axsha Zazhika