BLITAR KAWENTAR – Persebaya Surabaya menghadapi situasi sulit menjelang laga besar melawan Borneo FC.
Tim berjuluk Green Force itu memasuki pertandingan penting dengan kondisi jauh dari ideal, setelah dua pemain kunci lini serang dipastikan absen di momen krusial musim ini.
Krisis ini membuat Persebaya Surabaya harus melakukan penyesuaian besar dalam waktu singkat.
Absennya dua motor serangan utama memaksa caretaker pelatih Uston Nawawi memutar otak agar tim tetap kompetitif di bawah tekanan tinggi kompetisi.
Situasi pelik tersebut datang di saat Persebaya Surabaya masih berada dalam fase transisi.
Kursi pelatih kepala belum terisi, sementara tuntutan hasil dan ekspektasi suporter terus meningkat jelang laga krusial kontra Borneo FC.
Dua Pilar Serangan Persebaya Dipastikan Absen
Dua pemain inti yang dipastikan tidak bisa tampil adalah Bruno Moreira dan Francisco Rivera. Keduanya memiliki peran vital dalam skema permainan Green Force sepanjang musim berjalan.
Bruno Moreira harus absen akibat akumulasi kartu kuning. Kapten tim tersebut telah mengoleksi empat kartu kuning dari 13 laga.
Kontribusinya sangat signifikan dengan catatan lima gol dan lima assist, angka yang mencerminkan perannya sebagai penggerak utama serangan Persebaya.
Sementara itu, Francisco Rivera juga tidak dapat dimainkan karena masih menjalani sanksi kartu merah dari laga sebelumnya.
Gelandang kreatif tersebut mencatat tiga gol dan tiga assist dari 10 pertandingan, sekaligus dikenal sebagai pengatur tempo permainan di lini tengah.
Absennya dua pemain ini membuat daya gedor Persebaya berkurang drastis, sekaligus memaksa perubahan signifikan pada struktur permainan tim.
Uston Nawawi Hadapi Ujian Terberat
Sebagai caretaker, Uston Nawawi berada dalam tekanan besar. Ia harus menjaga keseimbangan tim, baik secara teknis maupun mental, di tengah keterbatasan skuad dan situasi internal yang belum stabil.
Dalam wawancara usai hasil imbang melawan PSM Makassar, Uston menekankan pentingnya kerja keras kolektif.
Ia menyebut satu poin dari Makassar sebagai hasil berharga berkat perjuangan seluruh pemain serta dukungan suporter.
Menurutnya, mental bertanding menjadi faktor kunci agar Persebaya tetap mampu bersaing meski tampil pincang.
Fokus latihan dan evaluasi menjadi agenda utama untuk menutup kekosongan peran Bruno dan Rivera.
Laga Kontra Borneo FC Bukan Ujian Biasa
Pertandingan melawan Borneo FC bukan laga biasa bagi Persebaya. Tim tamu datang dengan kekuatan kolektif solid, intensitas tinggi, dan motivasi besar untuk meraih poin penuh.
Persebaya dituntut tampil disiplin, solid, dan efektif meski dalam kondisi tidak lengkap. Kegagalan menjaga struktur permainan berisiko membuat Green Force kehilangan momentum di fase penting kompetisi.
Jika mampu meraih kemenangan, Persebaya akan menunjukkan karakter kuat di tengah keterbatasan. Namun jika gagal, evaluasi besar dipastikan kembali mengemuka, seiring tingginya tuntutan dari Bonek dan Bonita.
Deadline Pelatih Baru Membayangi Persebaya
Tekanan terhadap Persebaya tidak hanya datang dari lapangan.
Manajemen klub juga berpacu dengan waktu untuk segera menunjuk pelatih kepala definitif demi menghindari sanksi administratif.
Sejak pemutusan kontrak Eduardo Perez pada 22 November 2025, posisi pelatih kepala dibiarkan kosong.
Uston Nawawi hanya bertugas sebagai pengisi sementara, kondisi yang dinilai tidak ideal menjelang putaran kedua.
Regulasi IBRL League mewajibkan klub mendaftarkan pelatih baru maksimal 30 hari setelah pemecatan.
Jika melewati batas 25 Desember 2025, Persebaya terancam denda ratusan juta rupiah yang akan terus bertambah.
Nama Eks Pelatih JDT Muncul ke Permukaan
Dalam upaya menghindari denda dan menjaga stabilitas tim, manajemen Persebaya dikabarkan mendekati mantan pelatih Johor Darul Ta’zim (JDT). Informasi ini mencuat pada Selasa, 9 Desember 2025.
JDT dikenal sebagai klub dengan transformasi besar dan dominasi panjang di Malaysia, termasuk gelar liga beruntun dan trofi AFC Cup 2015.
Sosok pelatih dari klub tersebut dinilai memiliki standar profesional tinggi.
Persebaya berharap figur berpengalaman mampu membawa stabilitas taktik tanpa menghilangkan identitas permainan agresif khas Green Force.
Namun manajemen tetap berhati-hati agar keputusan yang diambil tidak menjadi langkah terburu-buru di tengah tekanan waktu.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.