BLITAR KAWENTAR – Angka Rp38,26 miliar kini menjadi pembicaraan hangat di Surabaya.
Nominal tersebut bukan sekadar angka di laporan keuangan, melainkan simbol besar investasi Persebaya Surabaya dalam mengarungi kompetisi musim ini.
Dari warung kopi di sekitar Gelora Bung Tomo hingga linimasa media sosial Bonek, angka Rp38,26 miliar terus bergema dengan campuran rasa bangga, heran, dan tanda tanya.
Dengan dana sebesar itu, publik menaruh ekspektasi tinggi. Persebaya Surabaya dianggap telah menunjukkan keseriusan menjaga eksistensi sebagai klub besar Indonesia.
Namun di balik besarnya anggaran, satu persoalan lama kembali mencuat ke permukaan: belum hadirnya striker yang benar-benar mampu menggantikan peran David da Silva.
Sejak kepergian David da Silva, lini depan Persebaya kerap menjadi sorotan.
Meski klub telah menggelontorkan Rp38,26 miliar untuk berbagai kebutuhan, ketajaman di kotak penalti masih menjadi pekerjaan rumah terbesar.
Bayang-bayang David da Silva seolah tak pernah benar-benar pergi dari memori kolektif Bonek.
David da Silva, Bayangan yang Terlalu Panjang
Nama David da Silva bukan sekadar mantan pemain asing. Ia adalah simbol kejayaan, harapan, dan efektivitas.
Gol-gol krusialnya, pergerakan agresifnya, hingga caranya memenangi duel satu lawan satu masih sering menjadi bahan perbandingan di tribun stadion.
Sejak kepergiannya, Persebaya memang mendatangkan sejumlah penyerang. Namun hampir semuanya gagal menjawab ekspektasi.
Adaptasi lambat, cedera, hingga ketidakcocokan taktik membuat produktivitas lini depan tak pernah benar-benar stabil.
Akibatnya, Persebaya kerap tampil dominan tanpa hasil maksimal. Peluang tercipta, penguasaan bola terjaga, tetapi penyelesaian akhir kerap antiklimaks.
Rp38,26 Miliar dan Gelombang Kritik Bonek
Terungkapnya angka Rp38,26 miliar justru memantik kritik baru. Bonek mempertanyakan arah kebijakan klub.
Apakah anggaran sebesar itu sudah benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendesak tim?
Sebagian suporter menilai belanja klub belum berbanding lurus dengan kebutuhan di lini depan.
Kritik ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan mendalam terhadap Persebaya sebagai klub kebanggaan Jawa Timur.
Di tengah kritik tersebut, manajemen Persebaya mencoba memberikan penjelasan rasional.
Manajemen Bicara: Anggaran Tak Hanya untuk Pemain
Manajemen Persebaya menegaskan bahwa Rp38,26 miliar bukan hanya untuk transfer pemain.
Anggaran tersebut mencakup gaji pemain dan ofisial, biaya operasional pertandingan, transportasi, fasilitas latihan, hingga pembinaan akademi.
Namun penjelasan itu belum sepenuhnya meredam kegelisahan publik.
Bagi Bonek, hasil di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama. Ketika gol tak kunjung datang, penjelasan teknis sering dianggap belum cukup menjawab kegelisahan.
Krisis Ketajaman Jadi Masalah Utama
Secara statistik, Persebaya bukan tim yang miskin peluang. Lini tengah mampu mengalirkan bola dengan baik, pertahanan relatif solid, namun masalah muncul di ujung tombak.
Tanpa striker yang benar-benar tajam, struktur permainan ikut terganggu.
Gelandang serang ikut tertekan karena harus mengambil tanggung jawab mencetak gol. Pola ini membuat permainan Persebaya kehilangan efektivitas.
Eksperimen demi eksperimen striker pun terus berlanjut, tetapi hasilnya belum memuaskan.
Nama-nama besar datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak berarti.
Atmosfer Gelora Bung Tomo yang Mulai Gelisah
Gelora Bung Tomo tetap penuh energi. Namun kini, energi itu bercampur kegelisahan.
Setiap peluang gagal, setiap laga tanpa gol, membuat suara-suara tuntutan semakin keras.
Seruan “butuh striker” mulai terdengar jelas. Perbandingan dengan era David da Silva semakin sering muncul, mempertegas tekanan yang kini mengarah langsung ke manajemen.
Rumor Striker Amerika Selatan Mulai Menguat
Di tengah tekanan tersebut, rumor kedatangan striker baru dari Amerika Selatan mulai beredar.
Beberapa nama disebut memiliki karakter agresif dan mobilitas tinggi, mirip dengan David da Silva.
Meski belum ada pernyataan resmi, kabar ini cukup menyalakan harapan Bonek.
Namun pengalaman masa lalu menjadi pengingat bahwa adaptasi striker asing di Liga 1 bukan perkara mudah.
Kini, semua mata tertuju pada manajemen Persebaya.
Keputusan di bursa transfer berikutnya akan menentukan arah masa depan klub: bangkit sebagai Bajul Ijo yang kembali ditakuti, atau terus berjalan dalam bayang-bayang David da Silva.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.