Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Dibalik Karya Lagu Seniman asal Blitar yang Soroti Ancaman Kerusakan Lingkungan di Raja Ampat Papua

M. Subchan Abdullah • Rabu, 24 Desember 2025 | 22:19 WIB
MUSISI JAWA: Abon Jhon di sela-sela podcast tentang karya musik bersama Jawa Pos Radar Blitar beberapa waktu lalu.
MUSISI JAWA: Abon Jhon di sela-sela podcast tentang karya musik bersama Jawa Pos Radar Blitar beberapa waktu lalu.

BLITAR KAWENTAR - Musisi asal Blitar, Erik Jarwo Puspito, menghadirkan kritik sosial musik. Lewat mini album terbarunya bertajuk Tahu Berontak yang dirilis akhir September lalu, warga Desa Gaprang, Kecamatan Kanigoro, ini menempatkan karya sebagai medium refleksi atas situasi sosial dan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Salah satu lagu yang paling menyita perhatian publik adalah “Raja Ampat”, sebuah karya yang menyoroti ancaman kerusakan lingkungan di kawasan timur Indonesia tersebut.

Lagu ini tidak lahir dari proyek besar yang dirancang sejak awal. Abon Jhon, sapaan akrab Erik Jarwo Puspito, mengakui, “Raja Ampat” justru muncul di luar rencana utama penggarapan album keduanya. Awalnya, ia tengah mempersiapkan album lanjutan dari karya sebelumnya.

Namun, intensitas pemberitaan tentang eksploitasi sumber daya alam, tambang nikel, dan isu transisi energi mendorong kegelisahan personalnya mengerucut menjadi karya musik.

Dalam “Raja Ampat”, Abon Jhon memotret ironi pembangunan yang berhadapan langsung dengan kelestarian alam.

Lirik-liriknya menggambarkan pulau-pulau kecil yang berubah menjadi arena alat berat, karang megah yang terancam punah, serta keindahan alam yang perlahan menghilang.

“Pulau kecil jadi arena ekskavator berdansa. Hancur bakal habis rusak dan tak tersisa,” menjadi salah satu bait yang menegaskan pesan tersebut.

Alih-alih menyampaikan kritik secara frontal, Abon Jhon memilih pendekatan naratif dan emosional. Ia menegaskan bahwa lagu ini bukan bentuk perlawanan politik, melainkan ekspresi kekhawatiran seorang kepala keluarga.

Isu Raja Ampat dipilih bukan karena jaraknya yang jauh, tetapi karena dampaknya dirasakan hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah, termasuk Blitar.

Kenaikan biaya hidup, pajak, dan beban ekonomi rumah tangga disebutnya sebagai efek lanjutan dari kebijakan besar di tingkat nasional.

Identitas musikal Abon Jhon tetap terjaga dalam lagu ini. Dengan basis Jawa pop yang dipadukan unsur balada, ia menyisipkan ekspresi khas Jawa dalam bagian reff, seperti kalimat “karepmu piye, Su?”, sebagai luapan emosi terhadap pengambil kebijakan. Bahkan, teriakan “Jopasu” yang muncul di lagu ini merupakan singkatan dari Jawa-Papua Panggah Seduluran, simbol solidaritas lintas wilayah.

Baca Juga: Kuota Pendamping Haji Bersifat Usulan, Kemenag Kabupaten Blitar Ungkap Mekanisme Seleksinya

Mini album Tahu Berontak sendiri memuat beberapa lagu lain yang mengangkat kegelisahan sosial, di antaranya “4 Zat 5 Mafia”, “Lucunya Negeriku”, hingga “Onpa”, dengan satu lagu bonus bertema kemanusiaan internasional. Keseluruhan karya ini menegaskan arah bermusik Abon Jon yang berlandaskan realism, menulis apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Sebagai musisi independen, Abon Jhon menyadari segmen pendengar musik semacam ini tidak luas.

Namun, ia menegaskan bahwa konsistensi berkarya lebih penting daripada mengejar popularitas. Baginya, seni memiliki fungsi sosial: menjadi pengingat, penggugah, sekaligus catatan zaman.

Melalui “Raja Ampat”, Abon Jhon menempatkan musik sebagai alarm sosial.

Dari Blitar, ia menyuarakan kegelisahan atas ancaman terhadap salah satu kawasan paling berharga di Indonesia. Pembangunan tanpa kehati-hatian dapat meninggalkan kerusakan yang diwariskan lintas generasi.(*/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#raja ampat papua #musisi #blitar #kerusakan lingkungan #seniman #ancaman #Abon Jhon