BLITAR KAWENTAR - Persib Bandung terus menjadi sorotan pecinta sepak bola Indonesia, bukan hanya karena aktivitas perekrutan pemain, tetapi juga langkah manajemen dalam membangun keberlanjutan prestasi atau sustainability.
Upaya tersebut dinilai sebagai modal mahal agar Persib tidak hanya berjaya di Liga Indonesia, tetapi juga mampu berbicara banyak di level Asia.
Dalam beberapa kesempatan, performa Persib Bandung kerap menuai pujian.
Namun pertanyaan pun muncul, apakah skuad yang dimiliki saat ini sudah cukup untuk bersaing di berbagai kompetisi dengan jadwal padat?
Secara kualitas, pemain inti Persib dinilai sudah sangat mumpuni untuk level domestik.
Namun tantangan sesungguhnya muncul ketika Maung Bandung dituntut tampil konsisten di Liga Champions Asia 2 dan kompetisi domestik secara beruntun.
Sorotan tajam datang usai Persib menyelesaikan laga di level Asia, lalu tak lama kemudian menghadapi Malut United di Liga 1.
Dalam pertandingan tersebut, permainan Persib terlihat berbeda dan berujung kekalahan.
Asisten pelatih Igor Tolic, yang mendampingi tim karena Bojan Hodak absen akibat akumulasi kartu, mengungkapkan bahwa padatnya jadwal menjadi faktor utama menurunnya performa tim.
Kedalaman Skuad Jadi Masalah Klasik
Penjelasan Igor Tolic membuka diskusi lebih luas soal kedalaman skuad Persib Bandung.
Pemain inti dinilai sudah tampil konsisten, tetapi ketika rotasi dilakukan, kualitas permainan belum sepenuhnya setara.
Gap antara pemain inti dan cadangan masih terasa, terutama saat Persib menjalani rangkaian pertandingan intens.
Dalam sepak bola modern, memaksakan pemain tampil terus-menerus bukan solusi. Risiko cedera menjadi ancaman serius.
Contoh nyata bisa dilihat dari kasus Pedri di Barcelona yang diporsir berlebihan di usia muda hingga akhirnya berkutat dengan cedera.
Pemain sepak bola bukan robot, mereka membutuhkan waktu istirahat dan rotasi yang sehat.
Belajar dari JDT dan Buriram
Beberapa klub Asia Tenggara telah lebih dulu menemukan solusi atas masalah ini. Johor Darul Ta’zim (JDT) dari Malaysia menjadi contoh nyata bagaimana membangun skuad dengan kualitas yang merata dari pemain inti hingga cadangan.
JDT kerap bermain di Liga Champions Asia Elite, Liga Malaysia, serta berbagai turnamen domestik lain dalam satu musim yang padat.
Dari tahun ke tahun, JDT mempersempit jarak kualitas antar pemain. Saat rotasi dilakukan, warna permainan tetap terjaga.
Hal serupa juga dilakukan Buriram United di Thailand.
Klub ini tidak hanya membangun skuad kuat, tetapi juga menciptakan ekosistem profesional dari sisi manajemen, merchandising, hingga penjualan tiket musiman.
Pendapatan besar dari sektor tersebut kemudian diputar kembali untuk merekrut pemain berkualitas.
Hasilnya, Buriram kerap membuat lawan gentar bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Ambisi Persib Bandung ke Level Asia
Dengan melihat contoh tersebut, ambisi Persib Bandung untuk melangkah lebih jauh dinilai wajar.
Jika targetnya hanya juara domestik satu musim, mungkin skuad saat ini sudah cukup.
Namun jika ingin menciptakan sejarah berkelanjutan, baik di Liga 1 maupun Asia, maka pendalaman skuad menjadi keharusan.
Dalam sejarah sepak bola, kejutan memang bisa terjadi seperti Leicester City di Liga Inggris. Namun kejutan semacam itu jarang berkelanjutan.
Klub besar dibangun dari fondasi kuat, baik kualitas pemain maupun manajemen.
Persib Bandung dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi raksasa baru, setidaknya di Asia Tenggara.
Datangnya pemain berkualitas tinggi bisa menciptakan efek psikologis bagi lawan, sekaligus meningkatkan standar kompetisi Liga Indonesia.
Manajemen dan Keuangan Jadi Penentu
Namun ambisi besar harus diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang sehat. Merekrut pemain top membutuhkan dana besar dan pemasukan yang stabil.
Persib diyakini memiliki modal tersebut, tetapi tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelolanya agar prestasi bisa berkelanjutan, bukan sekadar sensasi sesaat.
Langkah-langkah Persib kini mulai diperhatikan bukan hanya oleh suporter setia, tetapi juga oleh pecinta sepak bola netral.
Banyak pihak menilai ada “sesuatu yang berbeda” dari gerakan Persib Bandung belakangan ini.
Jika langkah Persib ini mampu memicu klub lain untuk berbenah, maka dampaknya akan positif bagi Liga Indonesia secara keseluruhan.
Persaingan akan semakin sehat dan kualitas kompetisi meningkat.
Persib Bandung pun berpeluang mencatatkan diri sebagai klub yang tidak hanya besar karena sejarah, tetapi juga karena prestasi dan tata kelola modern.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.