BLITAR-Persib bangun skuad Los Galacticos Asia bukan lagi sekadar bualan suporter atau fantasi ala game Football Manager. Apa yang dulu hanya hidup di kolom komentar media sosial, kini perlahan menjelma menjadi proyek nyata yang sedang dirancang serius oleh manajemen Persib Bandung menjelang musim 2026.
Narasi Persib bangun skuad Los Galacticos Asia menguat seiring keberhasilan Maung Bandung menembus babak 16 besar AFC Champions League 2 (ACL2) sebagai juara grup. Prestasi tersebut sekaligus membuka mata manajemen bahwa skuad yang dominan di Liga 1 belum tentu cukup sakti untuk menghadapi raksasa Asia, khususnya klub-klub Korea Selatan seperti Pohang Steelers yang menanti pada Februari mendatang.
Kesadaran inilah yang melahirkan langkah agresif dan tidak lazim. Persib tak sekadar ingin menjadi juara domestik, tetapi mulai mempersiapkan diri sebagai wakil Indonesia yang kompetitif di level Asia.
Upgrade Instan demi Bertahan di Asia
Waktu menjadi musuh utama Persib. Jendela transfer baru dibuka pada 10 Januari 2026, sementara laga fase gugur ACL2 sudah di depan mata. Tidak ada ruang bagi proses adaptasi panjang. Manajemen membutuhkan pemain yang bisa langsung “plug and play”.
Dari sinilah muncul dua nama yang langsung menggetarkan publik sepak bola nasional: Joey Pelupessy dan Marten Paes. Bukan hanya karena kualitas mereka, tetapi karena pola rekrutmen ini menunjukkan perubahan besar dalam cara berpikir Persib.
Belajar dari Luka Los Galacticos 2017
Sebagian publik mengaitkan proyek ini dengan kegagalan Persib pada 2017, saat mendatangkan nama besar seperti Michael Essien dan Carlton Cole. Kala itu, ekspektasi tinggi berujung kekecewaan. Persib justru terpuruk dan finis di papan bawah.
Namun konteks kali ini sangat berbeda. Kesalahan masa lalu terletak pada pembelian nama, bukan fungsi. Pemain yang datang saat itu berada di fase akhir karier, minim adaptasi, dan rentan cedera.
Kini, Persib mengincar pemain yang masih kompetitif. Joey Pelupessy berusia 32 tahun dengan pengalaman Eropa, sementara Marten Paes berada di usia emas 27 tahun. Ini bukan proyek nostalgia, melainkan kebutuhan taktis.
Koneksi Timnas Jadi Kunci Strategi
Keunikan strategi Persib terletak pada pendekatan berbasis diaspora timnas. Alih-alih merekrut pemain asing baru yang butuh adaptasi panjang, Persib membidik pemain yang sudah satu frekuensi dengan skuad inti.
Joey Pelupessy sudah resmi berstatus WNI sejak Maret 2025. Artinya, ia terdaftar sebagai pemain lokal. Inilah “cheat code” yang membuat Persib memiliki fleksibilitas luar biasa tanpa melanggar regulasi kuota asing Liga 1.
Pelupessy tak perlu adaptasi dengan Marc Klok, Eliano Reijnders, atau Thom Haye. Chemistry sudah terbentuk di timnas. Metode ini memungkinkan Persib menurunkan banyak pemain berstandar Eropa sekaligus tanpa pelanggaran aturan.
Skenario Marten Paes: Ambisi atau Kalkulasi Cerdas?
Nama Marten Paes memang memicu perdebatan. Banyak yang menganggap mustahil karena kontraknya bersama FC Dallas hingga 2026. Namun opsi peminjaman jangka pendek ala MLS off-season membuka celah realistis.
Liga Amerika Serikat sedang libur panjang. Paes membutuhkan menit bermain untuk menjaga kebugaran, sementara Persib membutuhkan kiper berlevel tinggi untuk laga Asia. Skema pinjaman 2–3 bulan dinilai masuk akal secara teknis dan finansial.
Risiko Harmoni dan Tantangan Pelatih
Meski ambisius, proyek Persib bangun skuad Los Galacticos Asia bukan tanpa risiko. Kehadiran pemain bintang berpotensi mengganggu harmoni tim, terutama bagi pemain lama yang berjasa membawa Persib juara grup ACL2.
Koordinasi lini belakang juga menjadi catatan. Persib kebobolan enam gol di fase grup. Masalahnya bukan hanya kiper, tetapi sistem bertahan secara kolektif. Jika pemain baru datang terlalu mepet tanpa waktu menyatu, trauma 2017 bisa terulang.
Ambisi Besar, Taruhan Besar
Namun satu hal jelas. Persib sedang berevolusi. Klub ini tak lagi sekadar jago kandang Liga 1, tetapi mulai membangun identitas sebagai kekuatan regional Asia.
Jika strategi ini sukses, Persib akan menjadi pionir klub Indonesia yang menjadikan pemain diaspora sebagai tulang punggung, bukan pelengkap. Jika gagal, risikonya bukan hanya finansial, tetapi psikologis.
Garis antara jenius dan gila memang setipis garis gawang. Tapi bagi Persib Bandung, musim 2026 adalah tentang keberanian melangkah lebih jauh: mengaum bukan hanya di tanah air, tetapi di panggung Asia.
Editor : Ichaa Melinda Putri