BLITAR-Alasan training center Persib tak kunjung terealisasi kembali menjadi topik hangat di kalangan Bobotoh. Pertanyaan ini terus berulang dari musim ke musim, seiring besarnya ekspektasi publik terhadap Persib Bandung sebagai klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia. Di tengah geliat profesionalisme klub-klub Liga 1 lain, ketiadaan pusat latihan milik sendiri membuat Persib kerap dibandingkan dan disorot tajam.
Alasan training center Persib tak kunjung terealisasi bukanlah isu baru. Wacana pembangunan fasilitas latihan modern sudah lama digaungkan manajemen. Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga terwujud secara konkret. Kondisi ini menimbulkan kegelisahan, terutama ketika klub-klub pesaing seperti Bali United, Persija Jakarta, Borneo FC, hingga Dewa United sudah lebih dulu memiliki training center permanen.
Di atas kertas, Persib sejatinya memiliki modal yang kuat. Melalui PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), manajemen telah mengantongi lahan sekitar 10 hektare di kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Area tersebut sejak awal diproyeksikan menjadi basis jangka panjang klub, sekaligus bagian dari konsep besar bertajuk Kampung Persib.
Konsep Kampung Persib dirancang sebagai kawasan terpadu. Tidak hanya berisi lapangan latihan, tetapi juga fasilitas pendukung klub, akademi, hingga pusat aktivitas Persib di sekitar GBLA. Komunikasi dengan Pemerintah Kota Bandung pun sudah terjalin cukup intens. Namun dalam praktiknya, realisasi proyek ini tidak sesederhana yang dibayangkan publik.
Faktor Finansial Pasca Pandemi Jadi Kendala Utama
Salah satu alasan training center Persib tak kunjung terealisasi adalah persoalan finansial. Direktur Utama PT PBB, Glen Sugita, secara terbuka mengakui bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap kondisi keuangan klub. Kerugian besar membuat manajemen harus menata ulang prioritas.
Dalam situasi tersebut, pembangunan training center bukan hanya soal keinginan, tetapi soal kesiapan finansial. Glen bahkan menyebut, jika pandemi tidak terjadi, besar kemungkinan fasilitas latihan Persib sudah berdiri saat ini. Pernyataan itu menegaskan bahwa mandeknya proyek bukan karena minim visi atau keseriusan, melainkan bentuk kehati-hatian manajemen.
Manajemen Persib memilih memperkuat fondasi keuangan terlebih dahulu daripada memaksakan proyek besar yang berpotensi menjadi beban jangka panjang. Keputusan ini menunjukkan pendekatan yang lebih rasional dan terukur, meski tak selalu sejalan dengan harapan sebagian suporter.
Masalah Lahan dan Administrasi Masih Berproses
Selain finansial, alasan training center Persib tak kunjung terealisasi juga dipengaruhi persoalan lahan. Meski lokasi berada di sekitar GBLA, faktanya tidak seluruh area tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Persib atau Pemkot Bandung. Sebagian lahan masih berstatus milik masyarakat.
Situasi ini menuntut penyelesaian administratif yang tidak singkat. Harus ada skema akuisisi, kerja sama, atau penyelesaian legal yang rapi agar proyek tidak menimbulkan persoalan hukum di masa depan. Pemerintah Kota Bandung sendiri mengakui bahwa pembahasan status lahan masih terus berjalan.
Kondisi Tanah dan Tantangan Teknis
Tantangan berikutnya datang dari aspek teknis. Karakter tanah di kawasan tersebut dilaporkan cukup lembek, sehingga tidak ideal untuk langsung dibangun fasilitas olahraga modern. Proses pengerasan tanah mutlak diperlukan demi keamanan dan keberlanjutan fasilitas.
Biaya pengerasan tanah bahkan diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Angka ini tentu menjadi pertimbangan serius, terutama di tengah upaya manajemen memulihkan kondisi finansial klub pasca pandemi.
Langkah Realistis Persib Sambil Menunggu
Meski training center utama belum berdiri, Persib memastikan tidak berhenti bergerak. Salah satu langkah realistis yang diambil adalah pembangunan lapangan pendamping di kawasan GBLA sebagai tempat latihan sementara. Langkah ini juga bertujuan mengurangi intensitas penggunaan lapangan utama stadion agar kualitas rumput tetap terjaga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Persib memilih bergerak sesuai kemampuan, bukan sekadar menjual janji. Proyek besar seperti training center memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan perhitungan matang.
Pada akhirnya, alasan training center Persib tak kunjung terealisasi merupakan akumulasi dari berbagai faktor: finansial pasca pandemi, persoalan lahan dan administrasi, hingga tantangan teknis dengan biaya awal yang sangat tinggi. Semua itu membuat proyek ini tidak bisa dikerjakan secara instan.
Di sinilah peran Bobotoh menjadi penting. Dukungan sejati bukan hanya hadir di tribun, tetapi juga kesabaran dan kepercayaan pada proses. Ketika training center itu akhirnya berdiri, manfaatnya bukan hanya dirasakan Persib hari ini, melainkan generasi Maung Bandung di masa depan.
Editor : Ichaa Melinda Putri