BLITAR - Jadwal padat Persib Bandung jelang Ratchaburi menjadi sorotan tajam publik sepak bola nasional. Maung Bandung dipastikan hanya memiliki waktu istirahat satu hari setelah menghadapi Borneo FC di Samarinda, sebelum bertarung melawan Ratchaburi FC pada babak 16 besar AFC Champions League 2 (ACL 2).
Situasi ini memunculkan kritik keras terhadap penyusunan kalender kompetisi. Jadwal padat Persib Bandung jelang Ratchaburi dinilai tidak manusiawi dan berpotensi merugikan wakil Indonesia di level Asia. Dalam kondisi normal, laga beruntun bukan hal baru bagi Persib. Namun jeda satu hari setelah perjalanan jauh lintas pulau dinilai melampaui batas kewajaran.
Sorotan kini tertuju pada Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus. Publik menanti apakah PT LIB akan mengabulkan permohonan penjadwalan ulang laga Persib kontra Borneo FC demi menjaga performa Maung Bandung di kompetisi Asia.
Jadwal Dinilai Tak Berpihak pada Wakil Indonesia
Persib dijadwalkan bertanding melawan Borneo FC di Samarinda, lalu harus segera terbang kembali ke Bandung sebelum menghadapi Ratchaburi FC. Dengan jarak perjalanan dan waktu pemulihan yang sangat terbatas, banyak pihak mempertanyakan keberpihakan regulasi terhadap prestasi internasional klub Indonesia.
Padatnya agenda ini dianggap kontras dengan semangat meningkatkan koefisien liga Indonesia di Asia. Alih-alih memberi ruang pemulihan, Persib justru dipaksa bertanding nyaris tanpa jeda. Kritik menyebut jadwal tersebut seolah menguji apakah pemain Persib manusia atau mesin.
Permintaan penjadwalan ulang disebut sebagai langkah logis dan rasional. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan PT LIB. Kini publik menunggu apakah regulasi bisa bersikap fleksibel demi kepentingan yang lebih besar.
Fokus Ganda Liga dan Asia
Di tengah polemik jadwal, Persib tetap dituntut menjaga fokus ganda. Selain menghadapi Ratchaburi di ACL 2, Maung Bandung juga harus melakoni laga Liga domestik melawan Persik Kediri di Stadion Brawijaya.
Laga kontra Persik diprediksi sarat emosi, terutama dengan sorotan terhadap Ezra Walian. Mantan pemain Persib itu kini menjadi tumpuan Persik Kediri. Meski tampil impresif bersama klub barunya, Ezra dinilai tidak akan mudah menembus lini belakang Persib yang kini semakin solid.
Pelatih Bojan Hodak sendiri memuji Ezra sebagai pemain penting bagi Persik. Namun perbandingan kualitas skuad tetap menjadi pembeda. Di Persib, Ezra pernah berstatus pemain pelapis, sementara di Kediri ia menjadi pusat permainan.
Bursa Transfer Panas: Ivar Jenner hingga John Toral
Di luar lapangan, Persib Bandung juga menjadi pusat perhatian bursa transfer. Nama Ivar Jenner santer dikaitkan dengan Maung Bandung setelah kabar dirinya akan meninggalkan FC Utrecht. Pengamat sepak bola Bung Binder menyebut Persib sebagai destinasi paling masuk akal bagi gelandang timnas Indonesia tersebut.
Persib dinilai bukan sekadar membutuhkan Ivar sebagai tambalan, melainkan bagian dari proyek memperkuat dinasti juara. Tekanan bermain di hadapan jutaan Bobotoh disebut menjadi tantangan ideal bagi pemain muda bermental Eropa.
Selain Ivar Jenner, rumor lain mengaitkan Persib dengan John Toral, gelandang berpengalaman yang pernah menimba ilmu di akademi Barcelona dan Arsenal. Meski masih sebatas spekulasi, nama Toral mencerminkan ambisi besar Persib di bursa transfer paruh musim.
Igor Sergeyev dan Ambisi Asia
Tak berhenti di situ, Persib juga dirumorkan mengincar penyerang Uzbekistan, Igor Sergeyev. Striker yang turut membawa Uzbekistan lolos ke Piala Dunia 2026 itu disebut-sebut menjadi solusi lini depan Persib untuk menghadapi ketatnya kompetisi Asia.
Dengan postur ideal dan pengalaman bermain di Asia Tenggara, Sergeyev dianggap cocok dengan skema Bojan Hodak. Jika transfer ini terwujud, Persib berpotensi mencetak rekor sebagai klub dengan pemain termahal musim ini.
Julio Cesar Percaya Diri Hadapi Ratchaburi
Di sisi lain, bek Persib Julio Cesar menunjukkan kepercayaan diri tinggi jelang laga kontra Ratchaburi. Pemain asal Brasil itu mengaku mengenal betul karakter pemain asing Ratchaburi yang mayoritas berasal dari negaranya.
Julio menilai nama besar tidak akan menjadi penentu. Momentum juara Super League 2025 menjadi modal utama Persib menghadapi wakil Thailand tersebut. Selain itu, jarak geografis yang relatif dekat dinilai membantu menjaga kondisi fisik pemain.
“Kami menghormati Ratchaburi, tapi kami tidak takut. Persib punya kualitas untuk menang,” tegas Julio.
Editor : Axsha Zazhika