BLITAR KAWENTAR - Jalan hidup Arini Kumalasari tak sepenuhnya lurus mengikuti background pendidikan yang diminati. Lulusan S-1 Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) itu justru menemukan panggilan jiwanya di dunia seni dan fesyen.
Berangkat dari hobi desain kolase, perempuan asal Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi, ini kini merintis brand fashion bernama Astagunakuku, yang mulai dikenal di berbagai art market hingga ajang fesyen nasional.
Ketertarikan Arini pada dunia desain tumbuh sejak 2020 lalu. Awalnya sederhana, sekadar bermain kolase dan menuangkan ide visual sebagai pelepas penat.
Namun dari hobi itu, dia mulai bertemu orang-orang dengan minat serupa. Karya-karya yang semula hanya untuk konsumsi pribadi akhirnya terdokumentasi dan dipajang sebagai etalase kreatif di media sosial dengan nama Astagunaku, di tahun yang sama.
“Awalnya cuma main-main bikin kolase. Lama-lama ketemu teman-teman yang punya kesukaan sama, dari grafiti, kolase, sampai fesyen. Dari situ banyak belajar,” tutur Arini.
Langkahnya makin mantap ketika mengikuti art market pertamanya di Surabaya pada 2021. Dunia kreatif yang lebih luas membukakan jejaring baru.
Dari satu event ke event lain, hingga bertemu teman-teman seni di bidang yang sama, Arini mulai bersentuhan langsung dengan dunia fesyen.
Meski berlatar belakang pendidikan teknologi pangan, Arini tak sepenuhnya asing dengan dunia jahit-menjahit. Sang ibu memiliki hobi menjahit yang tanpa disadari menanamkan ketertarikan sejak dini.
Berbekal otodidak, kursus, hingga uji kompetensi, Arini perlahan menapaki dunia fashion design secara serius sejak 2023.
Brand Astagunaku sendiri telah resmi terdaftar hak merek dan mulai dikembangkan sebagai label fesyen berkelanjutan. Konsep yang diusung tak sekadar estetika, tetapi juga fungsi. Salah satu ciri khas Astagunaku adalah desain busana dengan multi-look satu pakaian bisa dikenakan dalam dua tampilan berbeda.
“Harapan saya, busana Astagunaku bisa dipakai formal maupun nonformal. Dalam satu busana ada dua look, jadi lebih fleksibel dan punya cerita,” jelasnya.
Salah satu koleksi andalan bertajuk Laras Bhumi menjadi tonggak penting perjalanan Astagunaku. Koleksi ini lahir dari kolaborasi dengan brand tekstil di Surabaya yang mengolah limbah kain menjadi tenun baru. Motif-motifnya terinspirasi dari alam dan fauna, dengan pendekatan ready to wear yang nyaman untuk berbagai acara.
Koleksi Laras Bhumi diluncurkan pada 2025 dan berhasil mengantarkan Arini masuk 20 besar ajang Jogja Fashion Designer Competition 2025.
Meski belum meledak di pasar, peminatnya perlahan tumbuh lewat sistem pre-order.
“Belum sampai waiting list, tapi sudah ada yang pesan. Kami memang belum aktifkan marketplace karena belum ready stock. Produksi masih bertahap,” ujar Arini
Perempuan 30 tahun ini menjelaskan, harga produk Astagunaku pun beragam. Busana dibanderol mulai Rp 155 ribu hingga Rp 500 ribuan tergantung bahan dan tingkat kerumitan.
Selain fesyen, Astagunaku juga menghadirkan aksesori handmade dengan harga lebih terjangkau, menyasar pencinta produk kriya.
Arini sadar fesyen bukan kebutuhan primer. Karena itu, dia memilih berjalan pelan namun pasti, menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar dan momentum event. Di balik langkah hati-hati itu, tersimpan mimpi besar.
“Mimpi saya pasar ekspor. Tapi sekarang ikut arus dulu, belajar, bangun koneksi. Dari pameran dan event, relasi itu luar biasa,” ucapnya.
Dari kolase sederhana hingga koleksi fesyen yang tampil di panggung nasional, perjalanan Arini Kumalasari menjadi bukti bahwa kreativitas jika dirawat dengan konsisten mampu tumbuh menjadi jalan hidup. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah