BLITAR KAWENTAR - Tak pernah terlintas di benaknya untuk ikut ajang Gus dan Jeng Kabupaten Blitar. Namun, hal itu tidak membuatnya tidak melakukan upaya yang keras. Terbukti, Angela Sekar Kartikasari justru menjadi Jeng wakil II.
Meskipun begitu, gadis 19 tahun ini tengah tengah menapaki fase baru hidupnya sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Namun, takdir rupanya punya rencana lain karena dia harus pintar membagi waktunya.
Siswi asal Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, itu mendaftar Gus Jeng 2025 hanya dua hari sebelum penutupan. Itu pun tanpa ambisi besar.
“Jujur, aku daftar cuma coba-coba. Bahkan dari awal sudah pesimistis,” ujar Sekar, yang kini menyandang predikat Jeng Wakil II Kabupaten Blitar.
Saat itu, Sekar sama sekali tak membayangkan bisa melaju jauh. Dia sadar betul pesaingnya memiliki latar belakang yang lebih siap dalam ajang ini, bahkan ada yang lebih berpengalaman, berpenampilan menarik, dan tak sedikit yang pernah gagal di tahun sebelumnya untuk mengikuti lagi. Sementara dirinya datang dari dunia organisasi, bukan modeling atau fashion.
Perjalanan Sekar bahkan nyaris terhenti di hari pendaftaran. Sebab, dia salah membaca pengumuman lokasi pengumpulan berkas. Mengira kantor dinas kebudayaan dan pariwisata masih di Kota Blitar, Sekar justru berputar arah saat waktu sudah mepet dan melaju ke wilayah Candi Penataran.
“Jam tiga sore lewat, aku sudah sampai, tapi ternyata dinasnya sudah pindah ke Nglegok. Untung masih diterima. Sebelumnya, saya diberitahu teman jika ada ajang Gus-Jeng ini,” kenangnya sambil tertawa.
Seleksi demi seleksi dilalui dengan perasaan setengah yakin. Tes tulis dan wawancara menjadi tantangan tersendiri.
Dia mengaku hanya belajar sekadarnya tentang pariwisata Blitar, tanpa persiapan matang mengenai kelembagaan Gus-Jeng.
Namun, kejutan datang beruntun. Di hari yang sama, Sekar dinyatakan lolos Undip dan lolos seleksi Gus Jeng. Hal itu membuatnya campur aduk. Mulai merasa senang, tetapi juga bingung karena harus kuliah di Semarang, yang jauh dari Blitar.
Tantangan terbesar justru muncul di tahap seleksi bakat. Sekar ingin tampil berbeda. Dia memilih nyinden, seni vokal tradisional Jawa, yang bahkan baru dipelajarinya tiga hari sebelum tampil.
Keputusan nekat itu membuahkan hasil. Dia menjadi satu-satunya peserta yang menampilkan nyinden dan memukau para juri.
“Saya tidak ingin tampil biasa. Menari dan menyanyi sudah banyak. Maka dari itu, ajang Gus-Jeng ini besar, aku mempersembahkan yang berbeda,” ungkapnya.
Kepercayaan dirinya tumbuh seiring waktu. Dari peserta yang merasa pesimistis, Sekar akhirnya dinobatkan sebagai Jeng Wakil II Blitar. Sebuah capaian yang bahkan tak pernah dia bayangkan.
Kini, tantangan belum usai. Kuliah di Semarang membuatnya harus bolak-balik Blitar demi menjalankan amanah sebagai duta wisata. Setiap bulan, dia harus menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya sendiri demi tetap hadir dalam program kerja Gus-Jeng.
Sekar menargetkan untuk berusaha hadir dan berkontribusi di setiap program kerja Gus-Jeng hingga akhir masa jabatan.
“Ini tanggung jawab. Sudah dipercaya, ya harus siap. Tujuan utama saya cuma satu, bisa ikut dan terlibat penuh dalam semua program. Karena ini bukan soal gelar, tapi pengabdian,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah