BLITAR KAWENTAR - Kata banyak orang, Blitar adalah kota yang cocok untuk slow living versi Jawa Timur. Untuk membuktikan kebenarannya, Komunitas Gang-gangan mengajak menelusuri gang di Bumi Bung Karno untuk merawat memori pada Minggu (18/1).
Wajah Kota Blitar sudah berbeda dari tahun ke tahun, bahkan tidak sedikit orang yang merindukan kota kelahirannya ini yang tumbuh dan berkembang.
Untuk membantu mengingat memori itu, ada komunitas bernama Gang-Gangan atau gerakan kolektif ini disingkat GG, yang mengajak untuk bernostalgia dengan menjelajah beberapa titik gang yang ada di Bumi Bung Karno.
Menariknya, peserta memakai kain di tubuhnya dalam perjalanan menelusuri gang. Karena tidak semua memiliki kain, mereka dipinjami dengan berkolaborasi oleh komunitas berkain Patria Wastra. Aksi ini pun menjadi perhatian orang lain saat lewat di jalan. Ini dilakukan demi melestarikan budaya memakai kain di tempat umum.
Rombongan memulai perjalanan dari Stasiun Blitar, melangkah ke barat Jalan Mastrip untuk melihat bangunan-bangunan kuno. Dulu di tepi jalan itu terdapat beberapa pabrik rokok yang berdiri dan membuat kelompok bernama Gabungan Pabrik Rokok (Gapero).
Bahkan, tulisan Gapero masih ditemu di warkop D’Capitol yang berada sisi utara pedestrian tersebut.
Beberapa peserta GG ini ada yang masih ingat di Jalan Mastrip itu terdapat media jalan dengan tanaman. Ternyata pembatas jalan itu sejak Covid-19 sudah menghilang. Kemudian, rombongan bergeser menuju Jalan Bungur Utara, melihat toko-toko barang bekas yang masih ada.
Sampai di Pasar Legi, peserta GG menjajal makanan tradisional yang dijual di pasar. Mereka merawat memori yang pernah dilakukan di pasar tersebut, dengan membandingkan kondisi sekarang. Sebab, ada beberapa kios yang kini sudah tutup karena sepi peminat.
Perjalanan berlanjut ke bangunan Klenteng Poo An Kiong yang baru. Ya, pascakebakaran 2022 lalu, tempat ibadah umat Konghucu tersebut direnovasi total. Kelenteng tersebut merupakan banguan tertua yang ada di Kota Blitar. Kini kelenteng tersebut memiliki wajah barunya usai hangus terbakar.
Tidak jauh dari itu, GG mengajak untuk menelusuri Kampung Boclent yang merupakan singkatan dari Bocah Klenteng.
Gang ini ternyata beberapa tahun lalu, sempat digadang menjadi kampung tematik pecinan. Bahkan suasana itu masih terasa, apalagi terdapat gambar tembok besar cina. Sayang, progam itu kini hanya tinggal kenangan.
Menembus Jalan Kawi, tampak beberapa rumah milik warga keturunan Tionghoa. Memiliki bangunan rumah yang khas dengan bagian atap menghadap ke depan. Berguna untuk membuang air hujan langsung ke halaman rumah. Bangunan itu memiliki filosofi menampung rejeki langsung di depan rumah.
Baca Juga: Mendahului Minibus, Motor Tabrakan dengan Bus, Satu Pelajar Tewas
Beralih melewati Jalan Merdeka, bernostalgia dengan toko-toko yang sudah silih berganti pemilik dan barang yang dijual. Hingga para peserta menemuka tugu titik 0 Blitar, yang berada 15 meter barat dari Alun-alun Blitar.
Dalam tugu itu, memberikan beberapa petunjuk bahwa Blitar 0 kilometer, sedangkan ke Wlingi sejauh 20 kilo meter.
Selain itu, ada informasi mengenai jarak ke Surabaya dari titik itu mencapai 169 kilometer. Tidak banyak orang mengerti, tugu itu yang sebernanya menjadi titik pusat Kota Blitar.
“Kota Blitar tidak pernah benar-benar diam. Tempat kelahiran saya ini terus bertumbuh, berbenah, dan berubah. Tanpa disadari, dari tahun ke tahun wajah kota ini terus berganti. Beberapa hal bahkan bisa jadi tak lagi kita jumpai dan hanya tersisa di ingatan,” ujar Radea Khaleda Lestanto, Koordinator Gang-gangan.
Gerakan kolektif Gang-gangan ini mengajak menelusuri perubahan yang ada di Kota Blitar. Sebuah perjalanan menuju nostalgia, rindu yang belum padam, sekaligus refleksi atas yang pernah ada dan kini telah pergi.
“Tema yang kami angkat dalam Gang-gangan yakni Blitar kembali ke 0. Kami ingin mengingatkan kembali posisi sebenarnya titik 0 Blitar, yang ternyata berbeda dengan monumen yang sudah dibuatkan oleh pemerintah,” tuturnya.
Salah satu peserta, Andhira Arum, mengaku senang mengikuti perjalanan menelusuri gang bersama GG. Sebab sebelumnya dia sempat diminta banyak temannya untuk membuat komunitas Walking Tour, namun tak menyanggupi.
“Saya bersyukur ada Gang-gangan. Saya yang asli warga Kota Blitar bisa mengetahui gang atau tempat yang sebelumnya belum saya tahu. Ini sekaligus bernostalgia, terutama pada titik 0 tersebut,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah