BLITAR - Persebaya Surabaya butuh striker lokal jelang bergulirnya Super League 2025-2026. Situasi ini menjadi perhatian serius tim pelatih setelah Green Force menyadari komposisi lini depan mereka belum ideal untuk menghadapi persaingan ketat di paruh musim mendatang. Hingga saat ini, Persebaya belum memiliki penyerang lokal murni yang siap menjadi tumpuan utama.
Persebaya Surabaya butuh striker lokal karena seluruh penyerang murni yang dimiliki saat ini berstatus pemain asing. Tiga nama yang mengisi lini depan adalah Perovic, Dejan Tumbas, dan Bruno Paraiba. Kondisi tersebut membuat pelatih kepala Bernardo Tavares harus bergerak cepat mencari solusi paling realistis sebelum kompetisi kembali berjalan.
Persebaya Surabaya butuh striker lokal bukan tanpa alasan. Ketiga pemain asing tersebut dinilai belum mampu memberikan jaminan produktivitas gol secara konsisten. Selain itu, tidak semua dari mereka berposisi asli sebagai striker tengah, sehingga efektivitas penyelesaian akhir kerap menjadi persoalan di lapangan.
Masalah di Lini Depan Green Force
Dejan Tumbas sejatinya merupakan pemain sayap yang sejak era kepelatihan sebelumnya dipaksa beradaptasi sebagai penyerang. Meski menunjukkan etos kerja tinggi, naluri sebagai striker alami masih belum terlihat maksimal. Adaptasi posisi ini membuat kontribusinya di depan gawang lawan belum sesuai harapan.
Sementara itu, Bruno Paraiba masih berada dalam tahap penyesuaian. Penyerang asal Brasil tersebut baru bergabung pada Januari lalu dan masih mencari ritme permainan bersama tim. Fleksibilitas Bruno yang bisa bermain di beberapa posisi justru membuat perannya belum benar-benar spesifik sebagai ujung tombak.
Nama Perovic pun belum sepenuhnya menjawab kebutuhan Persebaya. Produktivitas golnya sepanjang putaran pertama dinilai belum sebanding dengan ekspektasi tim pelatih. Inkonsistensi ini menjadi alarm bagi Bernardo Tavares untuk tidak hanya bergantung pada opsi yang ada.
Bernardo Tavares Akui Sulit Rekrut Pemain Lokal
Bernardo Tavares secara terbuka mengakui bahwa merekrut striker lokal bukan perkara mudah. Ia menyebut banyak pemain incaran yang masih terikat kontrak dengan klub lain. “Beberapa pemain lokal yang kami minati terikat kontrak, jadi kami tidak bisa merekrut beberapa pemain. Sulit untuk merekrut pemain lokal,” ujar Bernardo.
Ia juga menyoroti sistem kontrak di kompetisi domestik. Menurutnya, banyak pemain lokal masih menggunakan skema kontrak setengah musim. “Biasanya pemain lokal bermain dengan half kontrak dan saya tidak melihat banyak klub yang mau merekrut pemain dengan kontrak penuh,” lanjutnya.
Meski demikian, Bernardo memilih bersikap realistis dan tidak ingin terburu-buru. Ia menegaskan bahwa Persebaya tetap membuka opsi untuk mendatangkan striker lokal jika memungkinkan. “Mari kita lihat apa yang akan terjadi. Tentu saja kami juga tertarik pada pemain lokal,” katanya.
Baca Juga: Cara Anak Muda Blitar Merawat Memori Bangunan Kuno Lewat Komunitas Gang-Gangan
Akademi Jadi Opsi Jangka Panjang
Sempat muncul nama Joao Tavares sebagai alternatif, namun statusnya sebagai pemain asing membuat manajemen harus berhitung dengan kuota. Oleh karena itu, opsi striker lokal dinilai paling logis, baik dari sisi efisiensi maupun keseimbangan komposisi tim.
Informasi terbaru menyebut Persebaya Surabaya serius membidik striker lokal, termasuk dengan memaksimalkan potensi internal. Bernardo menilai klub harus memahami aset yang dimiliki. “Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki. Akademi, pemain muda, tim utama kita,” tegasnya.
Bernardo mengaku telah menganalisis banyak pertandingan, baik pemain internal maupun pemain dari klub lain. Pendekatan ini dilakukan untuk menemukan solusi paling realistis. Baginya, regenerasi pemain dari akademi adalah fondasi penting untuk membangun budaya klub yang kuat.
Kini, Persebaya Surabaya berpacu dengan waktu. Pencarian striker lokal bukan hanya untuk kebutuhan instan menghadapi Super League 2025-2026, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang demi masa depan Green Force.
Editor : Axsha Zazhika