BLITAR KAWENTAR - Saga transfer Ramadan Sananta gagal berlabuh ke Persebaya Surabaya dan langsung bikin geger publik sepak bola nasional. Harapan Bajol Ijo untuk mengatasi krisis striker di paruh musim Super League 2025-2026 pupus seketika.
Saga transfer Ramadan Sananta sejatinya sempat diyakini bakal jadi solusi instan bagi lini depan Persebaya Surabaya. Apalagi ada faktor kedekatan sang pemain dengan pelatih Bernardo Tavares saat sama-sama di PSM Makassar. Namun realitas berkata lain.
Saga transfer Ramadan Sananta berakhir antiklimaks setelah striker Timnas Indonesia itu memilih tetap abroad bersama DPMM FC, klub asal Brunei Darussalam. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Persebaya yang tengah membutuhkan tambahan amunisi di sektor depan.
Efek Tavares Tak Mampu Meluluhkan
Dilansir dari berbagai sumber, Persebaya sebenarnya memiliki peluang cukup terbuka untuk memboyong Sananta. Kontrak sang pemain di DPMM tersisa hingga 30 Juni 2026, membuat opsi peminjaman hingga akhir musim cukup realistis.
Nilai pasar Ramadan Sananta disebut berada di kisaran Rp7,8 miliar. Dengan kondisi kontrak yang memasuki enam bulan terakhir, skema negosiasi dianggap fleksibel dan tidak terlalu membebani finansial klub.
Faktor Bernardo Tavares sempat diyakini menjadi kunci utama. Hubungan historis keduanya ketika membawa PSM Makassar berjaya di Liga Indonesia diharapkan mampu membuka jalan reuni di Surabaya. Namun, efek Tavares ternyata tak mempan.
Akun fanbase Persebaya @Mahboyocup bahkan mengonfirmasi bahwa sang pemain memilih fokus bersama klubnya saat ini. Keputusan bertahan di luar negeri membuat Persebaya harus kembali memutar otak mencari solusi lain di tengah krisis striker.
Krisis Lini Depan Belum Terjawab
Kegagalan mendatangkan Sananta membuat persoalan lini depan Bajol Ijo belum terselesaikan. Dalam beberapa laga terakhir, produktivitas gol Persebaya memang belum maksimal.
Absennya sejumlah pemain karena cedera semakin mempersempit opsi di sektor serangan. Sananta diproyeksikan sebagai solusi jangka pendek sekaligus investasi jangka panjang mengingat usianya yang masih muda dan statusnya sebagai striker Timnas Indonesia.
Kini, Persebaya harus mengandalkan komposisi pemain yang ada sembari berharap performa lini depan kembali tajam di putaran kedua Super League 2025-2026.
Jersey Imlek Resmi Meluncur
Di tengah kabar kurang menyenangkan dari bursa transfer, Persebaya Surabaya justru mencuri perhatian lewat peluncuran jersey anyar bertema Imlek. Jersey keempat musim 2025-2026 itu memadukan warna merah dan hijau dalam desain modern yang sarat makna budaya.
Peluncuran jersey bertema Chinese New Year ini langsung mendapat respons positif dari Bonek dan pecinta sepak bola nasional. Kombinasi warna dinilai berani namun tetap menjaga identitas klub.
Manajemen menyebut jersey tersebut sebagai simbol harapan agar Persebaya kembali ke masa kejayaan. Rencananya, seragam spesial ini akan dikenakan saat menghadapi Bayangkara Presisi Lampung FC pada 14 Februari 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo.
Momentum peluncuran terasa pas karena performa tim tengah stabil. Dari 20 laga, Persebaya mengoleksi 35 poin hasil sembilan kemenangan, delapan imbang, dan tiga kekalahan. Posisi kelima klasemen sementara menjaga asa bersaing di papan atas.
Tavares Pelatih Terbaik, Bonek Makin PD
Kabar positif lainnya datang dari penghargaan yang diraih Bernardo Tavares sebagai pelatih terbaik pekan ke-20 Super League 2025-2026. Pengakuan ini lahir usai kemenangan impresif 3-1 atas Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Kemenangan tersebut terasa spesial karena diraih dalam kondisi skuad tidak ideal. Meski kehilangan beberapa pemain dan kondisi fisik belum sepenuhnya prima, Persebaya tampil disiplin dan efektif.
“Kunci kemenangan adalah respon pemain terhadap situasi sulit dengan mental yang kuat,” ujar Tavares.
Gol pembuka Mihailo Perovik menjadi titik balik pertandingan. Setelah unggul, permainan Persebaya semakin terkontrol hingga mampu mengamankan tiga poin penting di kandang lawan.
Penghargaan pelatih terbaik semakin menegaskan sentuhan taktik Tavares yang kian matang. Atmosfer positif ini membuat Bonek makin percaya diri bahwa Bajol Ijo siap otw papan atas.
Meski saga transfer Ramadan Sananta berakhir gagal, Persebaya Surabaya tetap memiliki modal kuat berupa konsistensi permainan, mentalitas tim, dan dukungan penuh suporter. Kini, tantangan terbesar adalah menjaga momentum positif sembari mencari solusi nyata atas krisis striker yang belum terjawab.
Editor : Axsha Zazhika