JAKARTA - Nama Arema FC kembali menjadi sorotan utama jagat sepak bola nasional. Kemenangan meyakinkan atas Persija Jakarta justru membuka rangkaian isu besar, mulai dari kekecewaan pemain lawan, evaluasi internal tim, ancaman sanksi Komdis PSSI, hingga pengamanan super ketat jelang laga lanjutan BRI Super League 2025/2026. Situasi ini membuat Arema FC berada di persimpangan krusial, baik di dalam maupun luar lapangan.
Kemenangan 2-0 Arema FC atas Persija Jakarta di pekan ke-20 BRI Super League 2025/2026 menjadi hasil yang terasa pahit bagi kubu Macan Kemayoran. Meski mendominasi penguasaan bola hingga 72 persen, Persija gagal memaksimalkan peluang. Kekalahan tersebut diakui langsung oleh Doni Tri Pamungkas, yang menyebut hasil akhir sangat mengecewakan.
“Kami memang menguasai pertandingan, tapi itu bukan hasil yang kami inginkan. Banyak hal yang harus segera kami evaluasi,” ujar Doni melalui laman resmi klub. Menurutnya, efektivitas serangan dan penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah utama Persija usai ditaklukkan Arema FC.
Evaluasi Persija, Arema Tetap Fokus
Di sisi lain, Arema FC memilih tidak larut dalam euforia kemenangan. Tim pelatih langsung mengalihkan fokus ke laga berikutnya melawan Semen Padang FC. Laga pekan ke-21 ini dijadwalkan berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, pada Minggu, 15 Februari 2026.
Polres Malang memastikan pengamanan berlapis demi menjaga kondusivitas pertandingan. Kompol Bayu menegaskan bahwa pengamanan laga Arema FC bukan semata tanggung jawab kepolisian. “Ini kerja bersama semua pihak. Koordinasi dan komunikasi harus berjalan cepat dan terbuka,” ujarnya dalam rapat koordinasi di Aula Polres Malang.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya atensi publik terhadap Arema FC, terutama setelah laga panas kontra Persija Jakarta yang menyedot perhatian nasional.
Rio Fahmi Absen, Marcos Putar Otak
Menjelang duel melawan Semen Padang FC, Arema FC juga menghadapi persoalan teknis. Bek kanan utama, Rio Fahmi, dipastikan absen. Situasi ini memaksa pelatih kepala Marcos Santos melakukan eksperimen dalam sesi latihan di Dreams Football Pitch, Pakis, Kabupaten Malang.
Marcos terang-terangan menggeser posisi Farizi dari bek kiri ke bek kanan. Pelatih asal Brasil itu menilai Farizi cukup fleksibel dan berpengalaman untuk mengisi dua sisi pertahanan.
“Kami mencoba beberapa opsi. Farizi bisa bermain di kanan maupun kiri. Dia punya umpan silang yang bagus,” kata Marcos. Keputusan ini diambil sebagai antisipasi agar keseimbangan lini belakang Arema FC tetap terjaga.
Aremania Terancam Sanksi Komdis PSSI
Di luar teknis lapangan, Arema FC juga dihantui ancaman sanksi dari Komite Disiplin PSSI. Kehadiran ribuan Aremania di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat laga tandang melawan Persija Jakarta berpotensi berujung denda besar. Regulasi liga secara tegas masih melarang kehadiran suporter tim tamu.
Sebelumnya, Arema FC sudah pernah dijatuhi denda Rp25 juta akibat kasus serupa saat Aremania hadir di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, ketika Arema menghadapi Bali United. Ancaman sanksi kali ini bisa lebih berat karena termasuk pelanggaran berulang.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, mengaku pasrah. “Denda itu sudah risiko kita. Aremania datang dengan sopan, tidak anarkis, tidak neko-neko,” ujarnya.
Meski demikian, Yusrinal berharap PSSI segera mencabut aturan larangan suporter tandang. Menurutnya, kemesraan Aremania dan Jakmania bisa menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia siap menuju atmosfer yang lebih dewasa dan aman.
Ujian Mental dan Profesionalisme Arema FC
Rangkaian isu ini menjadi ujian mental dan profesionalisme Arema FC. Di satu sisi, performa di lapangan menunjukkan tren positif. Namun di sisi lain, manajemen dan suporter dituntut lebih bijak agar tidak merugikan klub secara finansial maupun reputasi.
Laga melawan Semen Padang FC pun tak sekadar soal tiga poin. Arema FC harus membuktikan bahwa mereka mampu menjaga fokus, stabilitas tim, dan kedewasaan seluruh elemen klub di tengah sorotan besar publik sepak bola nasional.
Editor : Natasha Eka Safrina