BLITAR - Derby d’Italia Inter vs Juventus kembali menyajikan tontonan panas dan penuh drama. Laga klasik Serie A yang mempertemukan dua raksasa Italia itu berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Inter, dalam pertandingan yang berlangsung sengit hingga menit akhir.
Sejak awal, Derby d’Italia Inter vs Juventus langsung berjalan dengan tempo tinggi. Kedua tim tampil agresif dan saling menekan demi mengamankan tiga poin penting dalam perburuan papan atas klasemen Serie A.
Inter lebih dulu membuka keunggulan lewat situasi yang cukup beruntung. Federico Dimarco mengirim bola ke dalam kotak penalti, Luis Henrique mendapat ruang untuk berbalik dan melepaskan tembakan. Bola kemudian berbelok arah dan berujung gol bunuh diri setelah kiper Juventus, Di Gregorio, gagal mengantisipasi perubahan arah bola tepat waktu. Inter unggul lebih dulu dan publik tuan rumah bersorak.
Andrea Cambiaso Cetak Gol di Dua Gawang
Juventus tak tinggal diam. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil. Weston McKennie mengirimkan umpan ke tengah yang disambut Andrea Cambiaso. Bek sayap itu muncul dari lini kedua dan mencatatkan namanya di papan skor. Namun laga semakin unik karena Cambiaso juga terlibat dalam momen di kedua sisi lapangan, menjadi sorotan dalam duel panas ini.
Inter sempat menggandakan peluang melalui skema bola mati. Tendangan sudut yang dilepaskan Hakan Calhanoglu mengarah ke Matteo Darmian, tetapi penyelamatan gemilang dari Di Gregorio membuat bola hanya membentur tiang dan gagal menjadi gol. Aksi heroik sang kiper menjaga Juventus tetap dalam permainan.
Situasi semakin rumit bagi Si Nyonya Tua ketika mereka harus bermain dengan 10 orang. Manuel Locatelli kehilangan bola, lalu Nicolo Barella bergerak cepat sebelum pelanggaran terjadi. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua kepada pemain Juventus setelah pelanggaran terhadap Alessandro Bastoni. Keputusan ini memicu perdebatan, namun Juventus harus menerima kenyataan bermain dengan satu pemain lebih sedikit.
Esposito dan Locatelli Saling Balas Gol
Memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, Inter kembali menekan. Serangan cepat yang dibangun Dimarco dan lini tengah Nerazzurri berujung pada gol Esposito. Pemain muda yang dijuluki Golden Boy itu mencetak gol penting yang disebut-sebut sebagai salah satu gol terbesarnya bersama Inter. Stadion bergemuruh menyambut gol yang membuat Inter kembali memimpin.
Namun mentalitas Juventus tak bisa diremehkan. Meski hanya bermain dengan 10 orang, mereka mampu bangkit. Bremer memulai serangan dari belakang, bola dialirkan ke McKennie lalu diteruskan ke Locatelli. Sang kapten melepaskan tembakan keras yang tak mampu dibendung kiper Inter. Gol tersebut terasa seperti muncul dari situasi yang nyaris tak berbahaya, tetapi justru menjadi penyama kedudukan yang mengejutkan.
Gol Locatelli membuktikan karakter kuat Juventus dalam laga besar seperti Derby d’Italia. Meski dalam tekanan dan kalah jumlah pemain, mereka tetap berani menyerang dan mengambil risiko.
Baca Juga: Pemkab Blitar Kembali Mutasi Sejumlah Pejabat untuk Isi Kekosongan usai Dapat Izin Dirjen Dukcapil
Gol Zielinski Jadi Penentu
Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Inter mendapat momentum di menit-menit akhir. Piotr Zielinski, yang dikenal memiliki tendangan jarak jauh mematikan, mendapatkan ruang tembak di luar kotak penalti. Tanpa ragu ia melepaskan sepakan keras yang meluncur deras ke gawang Juventus.
Gol tersebut seketika membungkam harapan Bianconeri. Di momen yang bertepatan dengan Hari Valentine, Inter justru memberikan “patah hati” bagi 10 pemain Juventus. Skor 3-2 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan ini mempertegas dominasi Inter dalam Derby d’Italia Inter vs Juventus edisi kali ini. Selain menyuguhkan lima gol, pertandingan juga dipenuhi drama kartu merah, penyelamatan krusial, hingga gol penentu di menit akhir.
Laga klasik ini sekali lagi membuktikan mengapa Derby d’Italia selalu dinantikan para pecinta Serie A. Intensitas tinggi, rivalitas panjang, dan kualitas individu para pemain membuat duel Inter kontra Juventus selalu menghadirkan cerita yang sulit dilupakan.
Editor : Axsha Zazhika