BLITAR - Fans JPE desak ganti setter demi Megawati Hangestri setelah Jakarta Pertamina Enduro (JPE) dinilai gagal memaksimalkan performa sang opposite di Proliga 2026. Gelombang kritik terhadap setter Tisha Amalia Putri mencuat di media sosial hingga tribun GOR Bojonegoro.
Fans JPE desak ganti setter demi Megawati Hangestri bukan tanpa alasan. Serangkaian hasil minor di putaran kedua membuat suporter khawatir peluang juara musim ini terancam, padahal Megawati tengah berada dalam performa terbaiknya.
Desakan fans JPE desak ganti setter demi Megawati Hangestri bahkan melahirkan tagar viral seperti #GantiSetterJPE dan #JusticeForMega. Ribuan komentar membanjiri akun resmi klub, menuntut manajemen segera bertindak sebelum babak final four dimulai.
Kritik untuk Tisha Amalia
Di atas kertas, JPE merupakan tim bertabur bintang. Megawati Hangestri menjadi poros utama serangan, didukung pemain asing dan lokal berpengalaman. Namun di lapangan, fans menilai ada “sumbatan” komunikasi antara setter dan eksekutor.
Kritik utama mengarah pada kualitas umpan yang dianggap kurang presisi. Dalam sejumlah laga terakhir, Megawati terlihat beberapa kali harus mengoreksi posisi di udara karena bola terlalu dekat dengan net atau terlalu rendah.
“Mega itu monster di udara, tapi dia butuh ruang. Kalau umpannya terlalu mepet net, dia dipaksa memukul dari sudut sulit,” tulis salah satu penggemar di media sosial, yang mendapat ribuan tanda suka.
Fans juga mengkhawatirkan risiko cedera. Pendaratan yang tidak ideal akibat mengejar bola dinilai bisa membebani lutut Megawati dalam jangka panjang.
Chemistry yang Dipertanyakan
Meski kompetisi sudah memasuki putaran kedua Proliga 2026, sebagian suporter merasa chemistry antara Tisha Amalia dan Megawati belum benar-benar terbentuk.
Perbandingan pun muncul dengan performa Megawati saat berkarier di Liga Korea. Saat itu, ia tampil eksplosif dengan dukungan umpan-umpan presisi dari setter berpengalaman. Di JPE, Mega dinilai harus bekerja dua kali lipat: mengejar bola, menstabilkan badan, lalu menyerang.
Kekecewaan fans memuncak setelah beberapa laga krusial gagal dimaksimalkan. Mereka menilai ambisi juara musim ini bisa sirna jika masalah distribusi bola tak segera dibenahi.
Efek Domino di Lapangan
Menurut para suporter, umpan yang kurang matang bukan hanya berdampak pada Megawati. Serangan JPE disebut menjadi monoton dan mudah dibaca blok lawan.
Tanpa variasi arah dan tempo dari setter, lini ofensif dianggap kurang mengejutkan. Kepercayaan diri pemain lain pun dinilai ikut terpengaruh saat pola serangan tidak berkembang.
Dalam sejumlah pertandingan, Megawati memang masih menjadi mesin poin utama. Namun ketergantungan berlebih pada satu pemain dinilai berisiko dalam laga-laga penentuan menuju final four Proliga 2026.
Wacana Rekrut Setter Baru
Situasi ini menempatkan manajemen JPE di persimpangan jalan. Mempertahankan komposisi saat ini berarti bertaruh pada perbaikan internal. Namun tekanan publik terus menguat.
Bahkan muncul rumor mengenai kemungkinan mendatangkan setter asal Korea Selatan untuk mengulang duet maut bersama Megawati seperti saat di kompetisi luar negeri. Meski belum ada konfirmasi resmi, isu ini semakin memanaskan perbincangan.
Sebagian fans juga mengusulkan promosi pemain muda atau opsi rekrutmen instan jika regulasi memungkinkan. Petisi daring yang menuntut perubahan di posisi setter pun mulai beredar.
“Kami butuh setter yang punya visi juara, bukan sekadar meng-over bola,” tulis salah satu pendukung dalam petisi tersebut.
Baca Juga: Dibalik Perayaan Hari Kasih Sayang alias Valentine Day, Begini Pendapat Pendeta di Blitar
Tantangan Jelang Final Four
Proliga 2026 kini memasuki fase krusial. JPE masih memiliki peluang besar meraih gelar, terutama dengan performa konsisten Megawati Hangestri yang tetap berada di jajaran top skor.
Namun tekanan mental dan ekspektasi tinggi dari publik menjadi tantangan tersendiri. Jika komunikasi dan distribusi bola bisa diperbaiki, bukan tidak mungkin JPE kembali tampil dominan.
Manajemen dan tim pelatih kini dituntut mengambil keputusan strategis. Apakah tetap percaya pada komposisi yang ada, atau melakukan langkah berani demi menjaga asa juara?
Yang jelas, dukungan terhadap Megawati Hangestri tetap mengalir deras. Fans hanya berharap satu hal: potensi terbaik Megatron tidak terhambat oleh persoalan teknis yang sebenarnya bisa dibenahi.
Editor : Axsha Zazhika