JAKARTA – Kabar duka datang dari jagat bola voli Korea Selatan. Performa Red Sparks tanpa Megawati Hangestri Pertiwi di Liga Voli Korea (V-League) musim 2025-2026 kini berada di titik nadir. Klub yang bermarkas di Daejeon tersebut seolah kehilangan taji dan identitasnya sejak ditinggal oleh "Megatron", yang kini justru tampil meledak-ledak di ajang Proliga 2026 bersama Jakarta Pertamina Enduro.
Memasuki akhir putaran kelima fase reguler, tim berjuluk Red Force ini kembali menelan pil pahit. Dalam laga tandang melawan juara bertahan Incheon Heungkuk Life Pink Speeders akhir pekan lalu, anak asuh Ko Hee-jin dipaksa menyerah kalah telak dengan skor 0-3. Hasil ini semakin memperparah performa Red Sparks tanpa Megawati yang kini terbenam di dasar klasemen sementara, tepatnya di peringkat ketujuh.
Lebih menyakitkan lagi, kekalahan ini memperpanjang catatan hitam mereka menjadi 10 kekalahan beruntun musim ini. Padahal, publik masih ingat betul bagaimana performa Red Sparks tanpa Megawati di awal tahun sempat menjanjikan saat menundukkan Gimcheon Korea Expressway Hi-Pass dengan skor 3-0 pada 1 Januari 2026. Namun, setelah kemenangan itu, grafik permainan tim terus terjun bebas tanpa tanda-tanda kebangkitan.
Ko Hee-jin Kehabisan Kata-kata
Pelatih kepala Red Sparks, Ko Hee-jin, tidak mampu menyembunyikan kekecewaan mendalam atas keterpurukan timnya. Pelatih berusia 45 tahun itu tampak murung dan lesu saat memberikan keterangan kepada media pascapertandingan. Ko mengaku sudah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan penampilan anak asuhnya yang sering melakukan kesalahan elementer di momen krusial.
"Saya hanya bisa meminta maaf kepada para suporter yang terus hadir memberikan dukungan langsung. Kehadiran mereka seharusnya menjadi motivasi, namun kami gagal memberikan hasil yang layak," ujar Ko dengan nada lemah. Ia menyoroti buruknya kualitas servis dan lemahnya koordinasi serangan yang membuat Red Sparks menjadi bulan-bulanan tim lawan dalam beberapa pekan terakhir.
Efek Kepergian Megawati dan Vanja Bukilic
Keterpurukan ini turut mengundang sorotan tajam dari media ternama Korea Selatan, Yonhap. Dalam laporannya, media tersebut secara terang-terangan mengaitkan krisis poin Red Sparks dengan absennya sosok pembeda di lini serang. Kepergian Megawati Hangestri ke Indonesia dan berpisahnya duet maut Vanja Bukilic asal Serbia dinilai sebagai penyebab utama runtuhnya daya gedor tim.
Tanpa Megawati, Red Sparks kehilangan opposite yang mampu meledak saat poin-poin kritis. Lini serang yang musim lalu begitu ditakuti kini tampak tumpul dan mudah dibaca oleh blok lawan. Strategi yang diterapkan Ko Hee-jin pun seolah menemui jalan buntu karena tidak adanya pemain dengan mentalitas juara yang bisa menggendong tim keluar dari periode sulit.
Nasib Kontras Sang Megatron di Proliga
Kondisi di Korea berbanding terbalik 180 derajat dengan apa yang dialami Megawati di Indonesia. Saat mantan timnya berjuang lolos dari dasar klasemen, Megawati justru tampil gemilang dan membawa Jakarta Pertamina Enduro menjadi salah satu kandidat kuat juara Proliga 2026. Dominasi Megawati di tanah air seolah membuktikan bahwa dirinya memang memiliki pengaruh besar dalam sebuah tim.
Kini, Red Sparks dihadapkan pada sisa musim yang berat. Jika tidak segera melakukan perombakan strategi atau membangkitkan mentalitas pemain yang tersisa, rekor kekalahan beruntun ini diprediksi akan terus bertambah panjang. Publik Daejeon pun hanya bisa meratapi kepergian sang bintang yang kini telah menemukan kebahagiaannya kembali di pelukan klub lamanya di Indonesia.
Editor : Natasha Eka Safrina