JAKARTA – Tim nasional Indonesia patut berbangga memiliki pelatih dengan dedikasi tinggi seperti John Hartman. Manajer asal Inggris tersebut langsung bekerja sejak ditunjuk menukangi skuad Garuda dan mulai memancarkan aura positif di lingkungan tim nasional.
Salah satu kelebihan utama Hartman adalah independensinya dalam mengambil keputusan. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak bisa diintervensi oleh pihak mana pun, termasuk dalam urusan pemilihan pemain. Hal inilah yang membuat Hartman leluasa menentukan arah tim, termasuk dalam membidik pemain keturunan yang sesuai dengan visinya.
Dalam upaya membangun chemistry yang kuat, Hartman bahkan terbang langsung ke Eropa. Mantan pelatih Timnas Kanada itu melakukan kunjungan ke Italia, Belanda, hingga Jerman pada awal Februari lalu. Salah satu agendanya adalah bertemu pemain-pemain diaspora Indonesia yang saat ini berkarier di Eropa.
Di Italia, Hartman sempat menemui Jay Idzes yang tengah berlatih bersama Sassuolo. Pertemuan tersebut juga melibatkan pelatih Sassuolo, Fabio Grosso, dan membahas peran Idzes sebagai calon pemimpin di skuad Garuda. Hartman disebut ingin menjadikan Idzes sebagai mentor sekaligus figur sentral dalam membangun ruang ganti yang harmonis.
Antusiasme Publik Sempat Meredup
Di sisi lain, publik sepak bola nasional sempat mengalami penurunan antusiasme. Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 meninggalkan kekecewaan mendalam. Situasi ini diperparah dengan banyaknya pemain abroad yang memilih pulang dan berkarier di kompetisi domestik Super League (Liga 1).
Nama-nama seperti Shayne Pattynama hingga Ivan Rienaer dirumorkan mengikuti jejak tersebut. Sementara itu, Mauro Zijlstra justru resmi bergabung dengan Persija Jakarta dengan kontrak jangka panjang.
Meski patut diapresiasi sebagai tanda kemajuan klub Indonesia, sebagian pengamat menilai pemain timnas seharusnya tetap mengutamakan pengalaman di Eropa, mengingat benua tersebut masih menjadi kiblat sepak bola dunia.
Fenomena ini bahkan disorot media Vietnam seperti The Thao 247, yang menilai Indonesia sengaja memulangkan pemain demi memperkuat peluang di Piala AFF.
Filosofi Hartman: Chemistry di Atas Gelar
John Hartman sendiri tak menampik bahwa target awalnya bersama Timnas Indonesia adalah juara Piala AFF. Namun, ia menegaskan bahwa gelar bukan prioritas utama. Menurutnya, membangun chemistry dan mental pemain jauh lebih penting sebagai fondasi jangka panjang.
Pendekatan psikologis menjadi salah satu senjata Hartman. Ia ingin menciptakan ruang ganti yang sehat dan harmonis agar kepercayaan diri pemain tetap terjaga. Pendekatan ini mendapat apresiasi dari analis sepak bola Iksan Mahar, yang menilai metode Hartman serupa dengan keberhasilannya saat membangun Timnas Kanada hingga lolos ke Piala Dunia.
Bocoran Naturalisasi Era Hartman
Dengan dukungan penuh dari PSSI, Hartman diberi kewenangan penuh dalam memilih pemain naturalisasi. Beberapa nama pemain keturunan Grade A pun mulai mencuat.
Salah satunya adalah Luke Fikri, winger 19 tahun yang bermain di Australia bersama Melbourne Victory. Fikri mengaku tertarik membela Indonesia meski memiliki opsi membela Australia atau Amerika Serikat.
Selain itu, ada Kay Vanand, kiper FC Volendam yang memiliki darah Indonesia dari neneknya di Surabaya, meski peluangnya relatif kecil karena persaingan dengan Maarten Paes dan Emil Audero.
Nama lain yang paling santer adalah Tristan Goijer, bek muda berdarah Maluku yang disebut sangat terbuka menjalani proses naturalisasi. Terakhir, ada Jensen Seelt, pemain VfL Wolfsburg yang mengaku tertarik membela Indonesia karena kedekatan budaya.
Tantangan di Depan Mata
Dalam waktu dekat, Hartman menghadapi dua agenda besar: FIFA Series pada Maret serta Piala AFF 2026. Absennya beberapa pemain seperti Tom Haye dan Shayne Pattynama akibat sanksi FIFA menjadi tantangan tersendiri.
Namun dengan pendekatan matang, visi jangka panjang, serta dukungan penuh federasi, publik berharap John Hartman mampu membawa Timnas Indonesia menuju era baru yang lebih stabil dan berprestasi.
Editor : Natasha Eka Safrina