Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Piala Dunia 1938: Kisah Hindia Belanda Jadi Wakil Asia Pertama, Dari Konflik PSSI hingga Tersingkir Telak di Prancis

Natasha Eka Safrina • Rabu, 18 Februari 2026 | 22:44 WIB

Piala Dunia 1938 mencatat Hindia Belanda sebagai wakil Asia pertama, kisah konflik PSSI, sistem gugur, hingga kekalahan telak di Prancis.
Piala Dunia 1938 mencatat Hindia Belanda sebagai wakil Asia pertama, kisah konflik PSSI, sistem gugur, hingga kekalahan telak di Prancis.

JAKARTA – Sejarah mencatat, jauh sebelum Jepang dan Korea Selatan rutin tampil di Piala Dunia, Piala Dunia 1938 justru menghadirkan wakil Asia pertama dari wilayah yang kini bernama Indonesia. Kala itu, negara ini masih berada di bawah penjajahan Belanda dan tampil dengan nama Hindia Belanda pada putaran final Piala Dunia Prancis 1938.

Kisah Piala Dunia 1938 bagi Hindia Belanda bukan hanya soal sepak bola, melainkan juga tentang konflik federasi, dilema identitas, dan keberuntungan sejarah. Meski hanya tampil sekali dan langsung tersingkir, keikutsertaan tersebut menjadi tonggak penting perjalanan sepak bola Asia di level dunia.

Perjalanan Panjang Menuju Prancis

Skuad Hindia Belanda harus menempuh perjalanan berminggu-minggu menggunakan kapal laut untuk mencapai Prancis. Saat itu, turnamen masih dibayangi situasi geopolitik yang tidak stabil. Perang mulai pecah di berbagai kawasan Eropa, membuat sejumlah negara batal tampil.

Baca Juga: Fakta Terlupakan Timnas Indonesia di Piala Dunia 1938: Wakil Asia Pertama, Hadiah FIFA, dan Luka Identitas Hindia Belanda

Austria, misalnya, mundur karena tengah diserang Jerman. Jepang pun memilih tidak ikut serta dengan alasan jarak perjalanan yang terlalu jauh. Kondisi ini membuat Hindia Belanda yang semula dijadwalkan menjalani babak play-off melawan Jepang, langsung melaju ke putaran final tanpa bertanding.

Piala Dunia 1938 diikuti 16 negara dari empat konfederasi: Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Turnamen ini juga menjadi yang pertama menerapkan sistem di mana juara bertahan dan tuan rumah tidak perlu mengikuti babak kualifikasi, sebuah format yang masih berlaku hingga kini di bawah naungan FIFA.

Sistem Gugur dan Dominasi Italia

Format pertandingan kala itu menggunakan sistem gugur. Jika skor imbang selama 90 menit, laga dilanjutkan ke perpanjangan waktu, dan jika tetap imbang, digelar pertandingan ulang. Dalam edisi ini, Italia tampil sebagai kekuatan dominan. Mereka menyingkirkan Belgia, Prancis, dan Brasil sebelum akhirnya menjuarai turnamen.

Hungaria juga menjadi salah satu tim kuat dan kelak melaju hingga final, sebelum kalah 4-2 dari Italia. Sementara Brasil finis di peringkat ketiga, mempertegas ketatnya persaingan di Piala Dunia 1938.

Baca Juga: Sejarah Panjang Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2026: Dari Era Gelap PSSI hingga Era Baru Pasca Shin Tae-yong

Dualisme Federasi Sepak Bola

Menjelang keberangkatan ke Prancis, sepak bola Hindia Belanda diwarnai dualisme organisasi. Ada NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie) yang diakui FIFA, serta PSSI yang berdiri sejak 1930 sebagai simbol kebangkitan nasionalisme.

PSSI di bawah kepemimpinan Soeratin Sosrosoegondo mengusulkan adanya pertandingan antara NIVU dan PSSI untuk menentukan wakil resmi Hindia Belanda. Namun NIVU dianggap mengingkari kesepakatan karena khawatir dengan kekuatan tim PSSI. Akibatnya, PSSI menolak mengirimkan pemainnya.

Meski demikian, skuad Hindia Belanda tetap didominasi pemain pribumi dari berbagai suku, meski secara administratif berada di bawah NIVU. Sebagian besar pemain berstatus pelajar, dan kapten timnya bahkan seorang dokter yang dikenal selalu mengenakan kacamata saat bertanding.

Baca Juga: John Herdman Timnas Indonesia: Bongkar Total Football Warisan Lama, Ini PR Berat dan Prediksi Starting XI Era Baru Garuda

Kekalahan Telak dari Hungaria

Hindia Belanda menjalani laga pertamanya pada babak pertama melawan Hungaria. Perbedaan postur tubuh menjadi kendala besar. Rata-rata tinggi pemain Hindia Belanda hanya sekitar 160 sentimeter, jauh di bawah pemain Hungaria yang unggul fisik dan pengalaman.

Hasilnya, Hindia Belanda harus menyerah dengan skor telak 6-0. Kekalahan ini sekaligus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 1938 karena sistem gugur. Pada hari yang sama, Belanda juga tersingkir setelah kalah 3-0 dari Cekoslowakia.

Catatan Sejarah yang Tak Terulang

Meski hanya tampil satu pertandingan, keikutsertaan Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 tetap tercatat sebagai sejarah besar. Mereka menjadi wakil Asia pertama yang tampil di ajang Piala Dunia, sebuah pencapaian yang hingga kini belum mampu diulang oleh Indonesia sebagai negara merdeka.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa Indonesia pernah berdiri di panggung sepak bola dunia, meski dalam balutan kolonialisme dan konflik internal. Sebuah catatan manis sekaligus pahit yang terus hidup dalam lembaran sejarah sepak bola nasional.

Baca Juga: John Herdman Timnas Indonesia: Bongkar Taktik Jenius Saat Kanada Bungkam Jepang, Pertanda Era Baru Garuda?

Editor : Natasha Eka Safrina
#piala dunia 1938 #hindia belanda #sejarah pssi #fifa