JAKARTA – Sejarah Persib Bandung berakar jauh sebelum sepak bola Indonesia memasuki era profesional. Klub yang kini dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar Liga 1 itu lahir dari semangat nasionalisme pada masa penjajahan Belanda, ketika olahraga dijadikan alat perjuangan identitas dan persatuan bangsa.
Cikal bakal Persib Bandung bermula pada 1919 dengan berdirinya Bandoeng Inland Voetbal Bond (BIVB), sebuah organisasi sepak bola yang dibentuk oleh pemuda pribumi Bandung. Di tengah dominasi klub-klub milik kolonial Eropa di Hindia Belanda, BIVB hadir sebagai simbol perlawanan melalui sepak bola, bukan senjata. Sejarah Persib Bandung pun tak bisa dilepaskan dari peran penting BIVB dalam membangun fondasi sepak bola nasional.
BIVB dan Lahirnya Sepak Bola Nasional
Kiprah BIVB tidak berhenti di level lokal. Klub ini tercatat sebagai salah satu inisiator berdirinya PSSI pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Momen tersebut menandai awal organisasi sepak bola nasional yang menyatukan klub-klub pribumi dalam satu wadah perjuangan melawan kolonialisme.
Perkembangan sepak bola di Bandung kemudian mengalami dinamika signifikan. Pada 14 Maret 1933, BIVB bergabung dengan NVB (National Voetbal Bond). Fusi ini melahirkan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung, yang kemudian dikenal luas sebagai Persib Bandung. Anwar St. Pamoendjak ditunjuk sebagai ketua umum pertama, menandai lahirnya klub dengan identitas kuat dan visi jangka panjang.
Dominasi di Era Perserikatan
Tak butuh waktu lama bagi Persib menunjukkan taringnya. Sejarah Persib Bandung mencatat gelar juara Perserikatan pertama diraih pada 1937. Prestasi tersebut membuka jalan bagi kejayaan lanjutan, termasuk gelar juara 1961 dan kebangkitan besar pada era 1980-an.
Puncak kejayaan Persib di era Perserikatan terjadi pada 1986 dan 1990. Saat itu, Maung Bandung diperkuat legenda-legenda seperti Robby Darwis, Ajat Sudrajat, dan Yudi Guntara. Era emas ini ditutup manis pada 1994, ketika Persib menjadi juara terakhir Perserikatan sebelum sistem kompetisi nasional berubah.
Juara Liga Profesional dan Pentas Asia
Memasuki era Liga Indonesia, Persib langsung mencetak sejarah. Pada musim 1994/1995, Persib keluar sebagai juara liga profesional pertama Indonesia. Prestasi tersebut membawa Persib ke level Asia, di mana mereka sukses menembus perempat final Liga Champions Asia 1995—sebuah pencapaian langka bagi klub Indonesia.
Namun, perjalanan Persib di era profesional tak selalu mulus. Klub sempat mengalami pasang surut prestasi dan dinamika manajemen. Meski demikian, dukungan Bobotoh tak pernah surut. Loyalitas suporter menjadi energi utama yang menjaga eksistensi Persib di level tertinggi.
Era Modern dan Ambisi Global
Sejarah Persib Bandung memasuki babak baru pada era Liga 1. Pada 2014, Persib kembali meraih gelar juara Indonesia Super League. Sejak 2017, klub menunjukkan ambisi modern dengan merekrut pemain kelas dunia seperti Michael Essien dan Carlton Cole. Langkah ini menegaskan tekad Persib menjadi klub berstandar internasional.
Penantian panjang kembali terbayar pada musim 2023/2024. Persib menjuarai Liga 1 setelah tampil konsisten dan menundukkan Madura United di final Championship Series. Prestasi ini berlanjut pada musim 2024/2025, ketika Persib sukses mempertahankan gelar dan mencatatkan sejarah juara back to back Liga 1.
Konvoi Juara dan Identitas Jawa Barat
Keberhasilan tersebut dirayakan dengan konvoi akbar pada 25 Mei 2025, dimulai dari Balai Kota Bandung hingga Gedung Sate. Ribuan Bobotoh tumpah ruah merayakan kejayaan klub kebanggaan Jawa Barat.
Sejarah Persib Bandung adalah kisah tentang konsistensi, loyalitas, dan semangat juang lintas zaman. Dari era kolonial hingga era digital, Persib tetap menjadi simbol identitas kolektif dan kebanggaan masyarakat. Lebih dari sekadar klub, Persib adalah warisan budaya dan bukti bahwa sepak bola mampu menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.
Editor : Natasha Eka Safrina