Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Piala AFF U-17 Jadi Penentuan Nasib Garuda Asia, Muncul Pemain Berdarah Jerman Tanpa Naturalisasi dan Striker 42 Gol Siap Bela Indonesia

Axsha Zazhika • Kamis, 19 Februari 2026 | 20:20 WIB

 

Piala AFF U-17 Jadi Penentuan Nasib Garuda Asia, Muncul Pemain Berdarah Jerman Tanpa Naturalisasi dan Striker 42 Gol Siap Bela Indonesia
Piala AFF U-17 Jadi Penentuan Nasib Garuda Asia, Muncul Pemain Berdarah Jerman Tanpa Naturalisasi dan Striker 42 Gol Siap Bela Indonesia

BLITAR - Piala AFF U-17 menjadi sorotan utama jelang agenda padat Timnas Indonesia kelompok usia. Turnamen yang digelar pada 11–23 April mendatang itu bukan sekadar ajang regional biasa, melainkan gerbang awal menuju target besar Piala Dunia U-17 di Qatar. Publik kini menaruh harapan tinggi, namun realitas persiapan menyisakan tantangan serius.

Dalam kurun waktu sekitar dua setengah bulan, skuad Garuda Asia di bawah arahan Kurniawan Dwi Yulianto harus menghadapi dua turnamen penting secara beruntun. Piala AFF U-17 akan menjadi pemanasan sebelum terjun ke Piala Asia U-17 di Arab Saudi, yang menjadi jalur resmi menuju Piala Dunia.

Piala AFF U-17 Bukan Sekadar Trofi

Piala AFF U-17 harus dipandang sebagai laboratorium uji coba. Fokus utamanya bukan berburu gelar ASEAN, melainkan mengasah mental dan fisik sebelum menghadapi persaingan level Asia.

Australia, Thailand, dan Vietnam disebut sudah lebih matang karena merasakan atmosfer kualifikasi yang kompetitif. Sementara itu, Indonesia masih berpacu dengan waktu. Eduward Chong bahkan menegaskan bahwa aspek fisik harus menjadi fondasi utama. Menurutnya, percuma menjadi juara AFF jika stamina pemain tak cukup saat bertarung di Piala Asia demi tiket Piala Dunia.

Peningkatan ketahanan fisik dan progres permainan menjadi prioritas. Mirza Firzatullah dan kolega kini dituntut tampil konsisten jika ingin mimpi ke Qatar tetap terjaga.

John Hertman Pantau Liga 2, Talenta Baru Bermunculan

Di tengah persiapan tersebut, pelatih John Hertman mulai memperluas radar pemantauan. Liga 2 Indonesia menjadi salah satu ladang potensial.

Ikram Alghifari mencuri perhatian bersama FC Bekasi City. Kiper 20 tahun itu tampil 12 kali dengan lima clean sheet. Refleksnya yang matang membuatnya digadang-gadang sebagai pesaing serius di sektor penjaga gawang timnas.

Nama lain yang menonjol adalah Asir Aziz bersama PSPS Pekanbaru. Gelandang kreatif itu mencatat delapan assist musim ini, hanya terpaut tipis dari nama besar seperti Andik Vermansyah. Visi bermain dan akurasi umpannya dinilai cocok dengan skema transisi cepat yang diusung Hertman.

Selain itu, Jim Kelly Sroyer juga menunjukkan konsistensi bersama Persipura Jayapura. Dua gol dan empat assist menjadi bukti bahwa eks pemain emas SEA Games tersebut masih memiliki kecepatan eksplosif dan mentalitas pemenang.

Baca Juga: Gebrakan Baru! Bandung BJB Tandamata Resmi Rekrut Bintang Voli Italia Giulia Angelina, Amunisi Maut Demi Segel Tiket Final Four Proliga 2026

Striker 42 Gol Buka Peluang Bela Indonesia

Sorotan juga mengarah pada Abdurrahman Iwan Kuswanto. Pemain berdarah Banten yang lahir di Doha itu mencatatkan 42 gol dalam satu musim di level junior Qatar. Saat ini ia memperkuat Al Wakrah SC.

Iwan pernah menimba ilmu di Aspire Academy dan masuk daftar pemain elite versi La Liga pada 2017. Secara administratif, ia memenuhi syarat membela Indonesia tanpa proses naturalisasi rumit.

Menariknya, Iwan mengaku belum pernah menerima panggilan resmi dari PSSI meski namanya kerap diperbincangkan publik. Dengan hadirnya John Hertman, peluang memanggil sang gelandang kreatif kembali terbuka.

Pemain Berdarah Jerman Bisa Bela Timnas Tanpa Naturalisasi

Kabar paling mengejutkan datang dari Eropa. Seorang pemain berdarah Jerman dikabarkan eligible membela Timnas Indonesia tanpa naturalisasi. Sosok itu adalah Renault Mons, kelahiran Jakarta 2 Oktober 2005.

Berdasarkan Statuta FIFA Pasal 7, pemain yang lahir di suatu negara berhak membela tim nasional negara tersebut. Renault merupakan jebolan akademi Bayer Leverkusen dan kini menjadi pilar Greuther Fürth di Bundesliga 2.

Nilai pasarnya disebut menyentuh Rp20 miliar. Namun, kendala muncul dari sisi emosional. Renault mengaku tidak memiliki banyak kenangan tentang Jakarta karena meninggalkan Indonesia sejak kecil. Ia masih membela kelompok usia timnas Jerman.

Kini, tantangan besar berada di tangan John Hertman untuk meyakinkan sang bek agar bersedia memperkuat Garuda.

Dengan Piala AFF U-17 sebagai pijakan awal, kombinasi talenta lokal, diaspora produktif, hingga pemain berdarah Jerman tanpa naturalisasi bisa menjadi kunci masa depan Timnas Indonesia. Semua mata kini tertuju pada bagaimana federasi dan pelatih memaksimalkan momentum emas ini.

Editor : Axsha Zazhika
#Timnas Indonesia #John Hertman #pemain berdarah Jerman #Piala AFF U 17 #Abdurrahman Iwan Kuswanto