Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah 20 Tahun Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh, Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan

Axsha Zazhika • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:45 WIB

Kisah 20 Tahun Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh, Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan
Kisah 20 Tahun Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh, Akhirnya Duduk Bareng Usai Tragedi Kanjuruhan
 

BLITAR - Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh selama hampir dua dekade akhirnya menemukan titik terang. Dua tokoh suporter dari Jakarta dan Bandung duduk satu meja, membedah sejarah panjang konflik yang sempat memanas sejak akhir 1990-an.

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh bukan sekadar persaingan biasa di lapangan hijau. Konflik ini telah melahirkan gesekan di perbatasan wilayah, aksi balasan, hingga korban jiwa. Namun, momentum pasca Tragedi Kanjuruhan membuat banyak pihak mulai membuka ruang dialog.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, kedua perwakilan suporter mengakui bahwa rivalitas The Jakmania vs Bobotoh sejatinya tidak berawal dari kebencian terstruktur, melainkan dari miskomunikasi dan situasi yang berkembang di lapangan.

Baca Juga: Transfer Liga 1 Memanas! Arema FC Resmi Amankan William Baros dari Persib Bandung, Lini Depan Singo Edan Siap Menggila

Awal Mula Konflik di Era 1996-1997

Berdasarkan penuturan keduanya, konflik besar pertama kali mencuat sekitar 1996-1997. Saat itu, rombongan suporter Persija bertandang ke Stadion Siliwangi, Bandung. Mereka mengaku telah menerima informasi adanya kuota tiket.

Namun setibanya di stadion, situasi tidak kondusif. Tribun penuh dan komunikasi di lapangan tidak berjalan mulus. Terjadi gesekan di sekitar area stadion yang kemudian memicu kekecewaan. Rombongan suporter tamu akhirnya tidak bisa menyaksikan pertandingan.

Kekecewaan tersebut berkembang menjadi rasa dendam di kalangan akar rumput. Aksi balasan terjadi saat pertandingan lain, termasuk ketika laga tim nasional digelar. Gesekan semakin sering muncul, terutama di wilayah perbatasan seperti Bekasi, Karawang, dan Bogor.

Menurut mereka, justru daerah perbatasan yang menjadi titik rawan. Di sana, suporter dari dua kubu hidup berdampingan dalam satu wilayah yang sama, sehingga potensi gesekan lebih besar dibanding Jakarta dan Bandung yang terpisah jarak cukup jauh.

Korban Jiwa dan Puncak Ketegangan

Rivalitas The Jakmania vs Bobotoh kian memanas pada era 2010-an. Beberapa insiden tragis terjadi, termasuk meninggalnya suporter di Jakarta maupun Bandung.

Kedua tokoh tersebut sepakat bahwa konflik sudah melampaui batas rivalitas sehat. Mereka menilai, kebencian yang dibiarkan berkembang hanya melahirkan mudarat, baik bagi keluarga korban maupun citra sepak bola Indonesia.

Baca Juga: GBLA Membara! Ratchaburi FC Kena Mental Hadapi Teror Puluhan Ribu Bobotoh di Markas Persib Bandung

Salah satu momen refleksi besar datang setelah Tragedi Kanjuruhan 2022. Meski tragedi tersebut bukan akibat bentrokan antar suporter, dampaknya menggugah kesadaran kolektif. Aksi solidaritas lintas suporter bermunculan, termasuk doa bersama dan pertemuan tokoh-tokoh suporter di berbagai kota.

Di Jakarta dan Bandung, pertemuan terbuka mulai terjadi. Suporter dari berbagai klub hadir dalam aksi kemanusiaan. Momentum ini dinilai sebagai titik balik untuk meredam permusuhan lama.

Empat Langkah Redam Permusuhan

Dalam diskusi tersebut, disampaikan empat poin penting untuk meredam konflik.

Pertama, menghentikan nyanyian dan atribut rasis di stadion. Kedua, mengurangi ujaran kebencian di media sosial. Ketiga, membangun komunikasi langsung antar komunitas. Keempat, berani duduk bersama dalam satu ruang tanpa prasangka.

Menurut mereka, pertemuan kultural seperti ini justru lebih efektif dibanding sekadar deklarasi formal. Selama ini, banyak deklarasi damai digelar, tetapi tidak menyentuh akar rumput.

Kini, mereka berharap Liga 1 kembali berjalan dengan sistem yang jelas dan profesional. Kuota suporter tamu harus difasilitasi dengan pengamanan maksimal. Aparat keamanan juga diharapkan menjalankan regulasi secara konsisten.

Rivalitas Sehat, Bukan Permusuhan

Kedua tokoh suporter menegaskan, rivalitas seharusnya hanya berlangsung 90 menit di stadion. Selebihnya, tidak ada alasan untuk membawa kebencian ke luar arena pertandingan.

Mereka juga mengingatkan bahwa fanatisme berlebihan tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, perdamaian membuka ruang ekonomi dan interaksi sosial yang lebih luas. Kehadiran suporter tamu, misalnya, bisa menggerakkan sektor hotel, kuliner, dan merchandise.

Refleksi 20 tahun rivalitas ini menjadi pelajaran penting bagi generasi suporter berikutnya. Mereka berharap, konflik masa lalu cukup menjadi catatan sejarah, bukan diwariskan sebagai dendam turun-temurun.

“Rivalitas boleh, tapi jangan kebablasan,” menjadi pesan utama yang disampaikan.

 

Kini, harapan besar tertuju pada konsistensi semua pihak. Jika komunikasi terus dijaga dan regulasi ditegakkan, bukan tidak mungkin sepak bola Indonesia bisa menjadi lebih dewasa.Baca Juga: Hasil Liga 1 Pekan 21: Persija Jakarta Tekuk Bali United, Laga Big Match Borneo FC vs Persib Bandung Ditunda!

Pertemuan dua pelaku sejarah tersebut menjadi simbol bahwa luka lama bisa disembuhkan, selama ada kemauan untuk saling memahami.

Editor : Axsha Zazhika
#persija jakarta #bobotoh #Tragedi Kanjuruhan #the jakmania #persib bandung