BLITAR - Indonesian Classico Persib vs Persija selalu menghadirkan atmosfer berbeda dibanding laga lain di Liga 1. Pertemuan dua raksasa sepak bola Indonesia itu bukan sekadar pertandingan 90 menit, melainkan pertaruhan harga diri, sejarah panjang, dan kebanggaan identitas.
Dalam sebuah dokumentasi perjalanan suporter asing ke Bandung pada 2016, Indonesian Classico Persib vs Persija digambarkan sebagai pengalaman penuh intensitas. Mereka menyaksikan langsung bagaimana ribuan Bobotoh memenuhi tribun, bernyanyi tanpa henti, dan menjadikan stadion sebagai lautan biru.
Indonesian Classico Persib vs Persija juga memperlihatkan wajah fanatisme yang unik. Bagi Bobotoh, mendukung Persib Bandung bukan hanya hobi, melainkan bagian dari jati diri orang Jawa Barat.
Dirigen Viking dan Nyanyian Tanpa Henti
Salah satu sosok sentral di tribun adalah Yana B, dirigen Madusara di Viking Persib Club. Ia mulai menjadi dirigen sejak 1996-1997. Tugasnya sederhana tapi krusial: menggerakkan ribuan Bobotoh agar kompak memberi dukungan.
“Saya mungkin tidak terdengar sendiri, tapi saya diwakili ribuan Bobotoh di tribun,” ujarnya.
Dirigen menjadi simbol komando di tribun selatan, tempat awal berkumpulnya Viking. Organisasi suporter resmi berdiri pada 17 Juli 1993. Struktur mereka lengkap, mulai dari ketua umum, panglima, dirigen, hingga tim kreatif dan distrik.
Awalnya hanya belasan orang yang rutin hadir di Stadion Siliwangi. Namun seiring waktu, jumlah anggota berkembang pesat. Kebersamaan menjadi daya tarik utama, bukan sekadar soal tiket atau atribut.
Siliwangi, Jalak Harupat, hingga GBLA
Bagi generasi lama, Stadion Siliwangi menyimpan memori tak tergantikan. Meski kini Persib bermarkas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), sebagian suporter mengaku atmosfer Siliwangi lebih membekas.
Taufik, Bobotoh berusia 23 tahun, mengaku kecintaannya pada Persib diwariskan keluarga. Ia tumbuh dengan cerita kemenangan dan kekalahan Maung Bandung.
“Di Siliwangi itu banyak momen. Rasanya berbeda, lebih emosional,” katanya.
Secara fasilitas, GBLA dan Stadion Jalak Harupat memang lebih modern dengan kapasitas lebih besar. Namun romantisme stadion lama tetap hidup dalam ingatan.
Koreografi Spektakuler Viking Boys
Indonesian Classico Persib vs Persija juga identik dengan koreografi megah. Di balik kreativitas itu ada tim Viking Boys, sekitar 30 orang yang rutin merancang konsep koreo.
Prosesnya tidak instan. Ide digodok lewat diskusi, penggalangan dana dilakukan melalui media sosial seperti Twitter dan Instagram, lalu desain dikerjakan selama dua minggu.
Biaya satu koreografi untuk satu tribun timur bisa mencapai Rp6-7 juta. Dana dikumpulkan dari donasi Bobotoh di berbagai daerah melalui transfer maupun sumbangan langsung.
Salah satu koreografi paling dikenang terjadi saat Persib menghadapi Mitra Kukar pada Liga Super 2014. Tulisan “Kudu Juara” terpampang besar dengan gambar trofi di tengah. Momen itu terasa sempurna ketika Persib benar-benar menjadi juara.
“Percuma koreonya bagus kalau Persib tidak menang,” ujar salah satu anggota.
Media Sosial dan Identitas Bobotoh
Peran media sosial juga tak bisa dipisahkan dari perkembangan Bobotoh modern. Akun komunitas seperti Bobotoh ID aktif menyebarkan informasi akurat tentang pemain, pelatih, dan perkembangan tim.
Dengan puluhan ribu pengikut di Twitter, Facebook, dan Instagram, platform ini menjadi sumber informasi alternatif sekaligus ruang konsolidasi suporter.
Dukungan terhadap Persib bahkan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Saat tim menang, semangat meningkat. Sebaliknya, kekalahan bisa membuat hari terasa berat bagi sebagian Bobotoh.
Persib bukan hanya klub sepak bola, tetapi simbol budaya dan kebanggaan warga Jawa Barat. Banyak yang menyebut, lahir dan besar di Bandung hampir pasti membuat seseorang mencintai Persib.
Rivalitas yang Tak Pernah Padam
Indonesian Classico Persib vs Persija memang sarat rivalitas. Namun bagi sebagian Bobotoh, rivalitas itu semestinya berhenti di lapangan.
Fanatisme yang kuat diharapkan tetap berada dalam koridor sportivitas. Karena pada akhirnya, sepak bola adalah ruang ekspresi, solidaritas, dan identitas kolektif.
Di setiap laga besar, satu hal yang pasti: tribun akan kembali bergemuruh, lagu kebanggaan dinyanyikan, dan warna biru mendominasi stadion.
Indonesian Classico bukan sekadar pertandingan. Ia adalah perayaan emosi, sejarah, dan cinta yang tak pernah pudar kepada Persib Bandung.
Editor : Axsha Zazhika